CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Daily Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Journal. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Playful Quirky

So, last friday my friends Danastri invited me to help of her mid-test work for Photography-Major. And we decided to goes to Gembira Loka Zoo. Its fun to be there, and Gembira Loka looks so fancy and interesting after the renovation like this day.

Not just for helps her mid-test work, i made this little photo-shoot for my lookbook, too hehehe. And yes, i'm addicted of the quirky style and life-style like my outfit :DD.



the another bunch of the picture :D,











Selasa, 23 Oktober 2012

Notes from Eid Mubarak #2

Puasa terakhir bersama sahabat ter-awet
Hari kedua kepulangan saya ke Surabaya menjelang lebaran (yang juga merupakan hari terakhir puasa di tahun ini) lebih banyak saya habiskan di luar rumah. Ya, alasan lain ketika pulang ke Surabaya selain rindu rumah adalah saya juga merindukan atmosfir nyata dari kota yang sudah sejak kecil saya tempati ini. Kehadiran seorang sahabat, juga mengisi celah rindu saya akan kota ini. Salah satu sahabat yang selalu tak pernah absen untuk bertemu saat saya pulang tentu saja Bismaputra Jayasujana, dia bisa dikatakan sahabat terlama dan ter-awet yang saya miliki hingga kini masih berpijak. Bukan tanpa masalah, bukan tanpa konflik ataupun drama, saya percaya kata-kata terlama dan ter-awet selalu menghadirkan ketiganya hingga akhirnya terlama dan ter-awet muncul ke permukaan antara kami berdua :).

Karena cukup jarang dan sudah lamanya kami berdua-benar-benar hanya berdua berjalan bersisihan untuk menikmati kota Surabaya, agenda hari itu saya (kami) isi dengan hanya pergi berdua (yes, kita teramat sangat merindukan bisa keluar berdua dan mengobrol tentang apapun, atau mungkin sedikit ber-nostalgia seperti dulu, saat sebelum saya hijrah untuk  kuliah ke Yogyakarta). Tujuan kami tak muluk-muluk, masih di seputaran tengah kota pada sebuah pusat perbelanjaan yang bisa dibilang masih seumur jagung di kota ini, Grand City. Agenda lain yang saya rencanakan juga cukup berhasil di hari itu, sengaja tidak puasa di hari terakhir bulan ramadhan ini hehe. Sebenarnya cukup sayang, hampir sebulan ini perut dan diri sendiri cukup mampu menahan nafsu yang diwajibkan kepada tiap umat muslim di bulan Ramadhan ini.

Calais Grand City Surabaya
Singkat cerita, kami mendaratkan pijakan pertama kaki kami disebuah kedai minuman dengan interior yang cukup klasik, bernama Calais. Dengan icon Moustache yang bisa dibilang menjadi "the it icon/sign" beberapa musim belakangan, saya dengan pasrah melepas dosa saya untuk kembali meluap di hari terakhir itu XD. Segelas taro milk tea sudah ditangan dan siap diteguk oleh dosa saya haha, minuman atau makanan dari ubi ungu itu belakangan menjadi favorit saya belakangan ini. 

Di kedai ini, sebenarnya juga menyediakan atribut "kumis" dan topi ala Charlie Chaplin untuk customernya yang ingin mengabadikan kunjungannya di kedai itu. Namun, karena kami berdua tipikal orang yang moody dan tidak seberapa suka mengabadikan kunjungan yang sekedar hanya jalan-jalan seperti ini (moody juga berpengaruh disini), maka kami menggantinya dengan saling mengedar kalimat antara kami berdua yang mungkin bisa dibilang tujuan utama kami berdua untuk mengisi Quality Time itu :). 

Taro Milk Tea
Moustache and Hat "Calais"
Pemberhentian kedua, kami mendaratkan diri di sebuah kedai makanan (masih di dalam mall yang sama). Setelah sebelumnya mengisi dahaga untuk si kerongkongan, kali ini kami memilih untuk memberi asupan untuk si perut. Saya lupa apa nama tempatnya >.<, di meja itu kami menikmati makanan dan masih dengan tambahan bertukar cerita. Mungkin saya terbilang manusia klasik, meskipun teknologi menghadirkan begitu banyak kemudahan komunikasi jarak jauh, saya lebih menikmati mengobrol langsung secara empat mata. Karena menurut saya teknologi itu terbatas, twitter hanya menyediakan 140 karakter dan berbagai kesalah pahamannya(?) :D. Instant messenger?, tak lebih dari sarana hiburan mungkin, karena bukankah mengobrol juga butuh atmosfir nyata?. Atmosfir nyata yang mungkin bisa menyatukan antara obrolan joke dan obrolan santai :D.  

Sebelum akhirnya petang menjelang, kami berdua kembali singgah di sebuah kedai kopi untuk menghabiskan sore hari, lagi-lagi masih di mall yang sama. Masih saja bertukar kata sambil menghabiskan dua kotak rokok masing-masing dari kami yang kesadarannya telah dibunuh karena obrolan kami berdua :). It's a simple way, tapi darisana mungkin saya (kami) masih bisa merasakan esensi dari persahabatan kurang lebih tujuh tahun yang telah terjalin. Hingga hari itu, pemberhentian terkahir kami menepi di sebuah stasiun radio. Menemani si sahabat dengan pekerjaan-nya sembari masih sibuk dengan kuliahnya. Mungkin sebelas dua belas dengan menghabiskan hari dengan pacar, tapi toh sahabat itu juga butuh hati dan cinta. Selain butuh diri sendiri, sahabat sejatinya mampu mengisi celah (yang masih kosong) di departemen pacar atau kekasih di negara hati dan cinta :)). 

Jam sepuluh malam, rumah sudah kembali saya gumuli. Gaung takbir penanda berakhirnya Ramadhan menyeruak bergerombol di telinga. Puasa telah habis masa, Idul Fitri mengganti masa. Saat petang menuju dini hari, saudara-saudara mulai berdatangan dari luar kota. Idul Fitri seperti sudah mulai menyatukan kembali apa yang sempat terpisah dengan jarak selama setahun kemarin :). 

Rabu, 29 Agustus 2012

Notes from Eid Mubarak #1

Lebaran itu, bagi sebagian umat muslim di seantero Indonesia identik sekali dengan pulang kampung, atau jika lebih dipersempit diksinya berubah menjadi mudik. Ada juga yang memilih lebaran sebagai saat yang tepat untuk berkumpul kembali bersama seluruh keluarga, saudara, sahabat, dan teman. Namun, bagi Saya sendiri, lebaran itu berisi keduanya tanpa terlepas dari kegiatan dan esensi harfiahnya yaitu saling memaafkan lahir dan batin satu sama lain sesama manusia. 

Bagi Saya (lagi), lebaran selalu punya cerita menarik tersendiri buat Saya tiap tahunnya. Berbekal memori otak yang memang diciptakan tanpa batas ini, Saya ingin menuliskan catatan-catatan kecil di lebaran tahun 2012 ini yang begitu lebih bersemarak seperti lebaran-lebaran tahun yang lalu. Lebaran ala anak kos, lebaran ala anak perantauan, lebaran mahasiswa yang lagi pulang kampung, atau entah apapun judulnya, happy reading and Happy Eid Mubarak Peoples, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir & Bathin :).

Insiden Kereta Api Mogok
Finally, tepat di tanggal merah dimana negara ini sedang memperingati hari kemerdekaanya, Saya baru bisa benar-benar hengkang sejenak menjejakkan kaki dari ranah kota perantauan Yogyakarta ini. Tidak lain dan tidak bukan, kerja part-timelah yang memaksa Saya untuk singgah merasakan bulan Ramadhan di Yogyakarta, padahal liburan kuliah sudah datang sedari pertengahn bulan Juni lalu. Yah, mau tidak mau, namanya sudah resiko dari menerima dan (masih) menjalani pekerjaan paruh waktu itu, Saya benar-benar baru bisa pulang di detik-detik menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.

Berbekal dengan banyaknya pilihan-pilihan transportasi yang ada di kepala, pada akhirnya Saya lebih memilih untuk naik kereta api sebagai kendaraan yang membawa Saya menuju kampung, Surabaya. Dengan alasan, jikalau Saya memilih naik bis seperti biasanya, kemungkinan bakal saling berebut tempat duduk dengan penumpang lain yang membludak karena hari raya, dan belum berhenti disitu saja, Saya teringat satu hal klise yang berada di jalanan ketika menjelang hari raya seperti ini, macet dimana-mana dan waktu kedatangan bis dijamin lebih lama dari waktu biasanya. Memang benar, sebenarnya dengan memilih untuk naik pesawat terbang adalah pilihan yang paling cepat dan tepat. Cepat sampai tujuan, pilihan yang tepat anti-macet dan kenyamanan. Namun, dibalik alasan karena dompet Saya enggak sampai buat beli tiket pesawat terbang,  Saya sendiri mungkin bisa dibilang orang yang sangat menikmati sekali perjalanan. Enggak papa deh, lama di perjalanan, asalkan masih bisa ditolerir sedikit masalah kenyamanan dan waktu sampai ketujuannya, tapi yang lebih penting bisa menikmati perjalanan. Dari banyaknya pertimbangan dan alasan-alasan itu, pikiran Saya mengerucut untuk memilih kereta api untuk pulang ke Surabaya.


Tepat 30 menit sebelum kereta api melaju, dengan diantarkan salah seorang teman, Saya sudah sempurna duduk di kursi tempat duduk penumpang di gerbong nomor tiga kereta api yang akan membawa Saya ke Surabaya, PT. Kereta Api Indonesia menamainya Sancaka. 



Singkat cerita, Saya banyak tertidur di awal perjalan hingga tengah perjalanan saat kereta mulai menyentuh kota Madiun, maklum sebelum berangkat ke stasiun, pagi harinya Saya masih harus berurusan dengan kerja part-time Saya selama lima jam hehe. Berhenti di kota yang dulu pernah Saya singgahi saat kecil, diikuti dengan bedug Adzan maghrib tanda waktu berbuka puasa. Mungkin karena si perut sudah meraung-meraung minta makan sedari tadi, Saya segera menyambar sebotol kecil tupperware di postman bag yang tergantung di badan Saya, meneguk air di dalamnya dan segera menyambungnya dengan dua bungkus makanan ringan yang memang sengaja Saya siapkan untuk berbuka puasa di kereta. 

Lima belas menit berhenti di Madiun, bel sebagai penanda keberangkatan kereta api diraungkan. Kursi Saya bergetar dan kereta kembali meluncur ke arah timur melanjutkan lajunya. Di detik ini, Saya mulai sedikit  merasakan terlalu banyak asupan tidur yang Saya terima. Kedua mata benar-benar melek penuh daya. Saya kembali merogoh postman-bag yang masih tergantung di badan, dan meraih sebuah benda yang ternyata insting Saya tak salah untuk membawanya di perjalanan kali ini. Sebuah buku karya Dewi Lestari yang belum sepenuhnya selesai Saya baca, Partikel. Baiklah, mungkin kali ini Saya lebih asyik menikmati bacaan daripada menikmati perjalanan yang berlangsung. Tapi, kalau boleh jujur menikmati bacaan ketika perjalanan  bisa dibilang seasyik menikmati perjalanan itu sendiri.

Tepat pukul sembilan malam, sesuai dengan penujuk waktu tibanya kereta api di tempat tujuan yang tercetak di tiket penumpang. Seharusnya, tiga puluh menit ke depan kereta benar-benar sudah sampai di kota tujuan, Surabaya. Namun, tanpa pernah Saya kira atau mungkin penumpang lain kira, tepat di pukul itu kereta api tiba-tiba diberhentikan di sebuah stasiun kecil di daerah yang sebenarnya sudah tidak seberapa jauh lagi dari stasiun kota Surabaya. Pikiran Saya waktu itu mengira, kemungkinan kereta sengaja diberhentikan karena menunggu kereta dari arah yang berlawanan melaju terlebih dahulu, dan biasanya tak memakan waktu lebih dari lima belas menit. Di detik lebih dari lima belas menit, para penumpang yang lain mulai ngedumel karena kereta tak segera dijalankan, mereka segera berhambur menuju gerbong depan tempat dimana lokomotif berada. Satu dua orang mulai kembali ke gerbong asal tak seberapa lama kemudian, mimik wajah mereka masam. Ada yang segera meraih travel bag dan segera memutuskan untuk turun di stasiun itu, dan ada pula yang kembali ke tempat duduknya dengan masih ngedumel ke kerabat di sebelahnya dengan berseru "Kereta api-nya mogok, sekarang lagi nunggu lokomotif dari Surabaya. Perkiraan jam sepuluh kurang seperempat kereta baru bisa jalan lagi". Kereta api mogok?, okay, awalnya kata kereta api mogok Saya kira hanya berada dalam kamus bercanda. Tapi, here it is, Saya benar-benar menemuinya sekarang >.<.

Kontan saja, salah seorang sahabat yang sudah berbaik hati untuk menjemput Saya juga ikutan dongkol. Dia sudah sampai di stasiun gubeng Surabaya jam sembilan tepat. Mengumpat kereta api, walau sebenarnya dia sangat-sangat menggilai dunia kereta api. Karena memang tak bisa berbuat apa-apa, mau nekat ikutan turun di stasiun ini juga dibilang terlalu nekat. Hanya bisa melayangkan kata-kata klise "sabar bentar yah" ke sahabat Saya itu (walau sebenarnya Saya sendiri udah enggak sabar menunggu terlalu lama), dan beruntunglah Saya membawa bacaan untuk meredam kebosanan selama tiga puluh menit karena kereta api mogok itu. And yeah, massive thank you for Dewi Lestari and Rahne Putri yang telah menciptakan karya yang begitu bisa meredam kebosanan seperti Partikel dan Sadgenic ini.


Mungkin karena takut tertimpa kesialan lagi, kereta api bisa menepati janjinya. Tepat sesuai dengan janjinya untuk melanjutkan perjalanan di pukul sepuluh kurang seperempat, lokomotif benar-benar menarik gerbong dengan kecepatan ekstra kencang (dari biasanya) menuju Surabaya. Hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Saya sudah bisa melihat hijaunya kubah masjid agung Surabaya dari dalam kereta api, serta disusul lima menit kemudian kereta benar-benar berhenti di ranah rel stasiun gubeng Surabaya. Tanpa menunggu lama dan karena sudah terserang wabah bosan yang terlalu meradang, Saya segera meraih satu travel bag yang saya selipkan di tempat menaruh barang persis di atas tempat duduk penumpang, menyisir lorong gerbong kereta api sancaka, dan menginjakkan kaki saya kembali di tanah kampung Saya, begitu pintu gerbong sudah Saya lalui. Huwahhhhh....i miss Surabaya sooo muchhh!!!.

Cerita lebaran tahun ini Saya mulai pada hari itu. Sempurna menginjakkan kaki di rumah pada pukul setengah satu dini hari. Setelah sempat menghabiskan beberapa jam dahulu bersama Aditya Aryo, salah seorang sahabat yang telah rela mau menjemput Saya di stasiun, walau sebenarnya letak rumahnya di ujung Surabaya. Dan sebagai simbolisasi ucapan terima kasih, kami berdua menghabiskan beberapa jam disebuah warung soto, temu kangen singkat sebelum temu kangen yang sebenarnya. Hingga akhirnya, sama seperti tiap kali ketika Saya pulang ke rumah, tak akan pernah bisa langsung pergi tidur hingga matahari muncul di kota Saya, kota Surabaya.


Minggu, 15 Juli 2012

Tryin' Some-New Experimental


A glasses without lens or an lenses without glass?. Just choose one that do you think the best. It's really fun to trying something new (especially for fashion) hehehe. So, maybe it could be a mainstream-things-that-not-exactly-mainstream for me to applied that glasses into my eyes XD.

Sabtu, 14 Januari 2012

Kamis, 12 Januari 2012

Tarara Macaron from One Day in Surabaya


Saya lagi suka bikin photo empat petak seperti ini :P
Thank's to Aditia Aryo for the photos

Surabaya Satu Hari


Hi, blog. Saya sepertinya sudah cukup lama tidak mengisi entri baru di blog saya ini. And, before telling you about something, I would like to say Happy New Year 2012 for you all. Semoga tahun ini bisa memberikan kebahagian, keberkahan buat kita semua. Amin. Amin. God Bless You All.
---
  Bulan Desember yang lalu. Lebih tepatnya empat hari sebelum tahun baru tiba. Saya memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Memutuskan untuk pulang ke Surabaya hanya untuk mengunjungi kota selama satu hari. Yah, ini saya lakukan untuk membayar lebih awal atas kekecewaan saya tak bisa pulang ke kota(?) halaman untuk merayakan tahun baru, karena ada sesuatu hal yang tak bisa ditinggalkan di tempat saya bekerja part time. Daripada saya merasa sedih karena benar-benar tak bisa pulang, jadi saya mempergunakan satu hari libur yang diberikan kantor untuk pulang ke sana. Saya sudah sangat rindu dengan kota ini :’(.
  Ada satu hal yang membuat kepulangan saya ke Surabaya kali ini sedikit berbeda. Dengan berat hati saya tidak memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena alasan kalau saya pulang ke rumah, pasti saya akan semakin cepat merasa home sick ketika balik ke Yogyakarta. Dan alasan lainnya, saya tak rela melihat wajah ibu saya hanya selama 24 jam (satu hari) saja. Jadi, dengan berat hati itu saya memutuskan untuk menginap di rumah sahabat saya, Aditia Aryo. Dia sudah berbaik hati menjemput saya di pagi buta, pukul dua dini hari di terminal yang cukup jauh dari rumahnya berada. Yaps, dengan berjanji sekuat hati sebelum sampai di Surabaya untuk benar-benar menikmati satu hari ke depan di kota ini. Saya kangen. Kepulangan saya kemari terakhir kali saat idul fitri tiba.
  Saya bisa mencium lagi angin pagi menjelang siang kota Surabya yang saya cintai. Kami memutuskan untuk keluar dari rumah pukul sebelas siang. Tujuan utama kami di tempat makan seputaran SMA Komplek yang berada di Jl. Slamet untuk bertemu sahabat saya yang lain, Praharani Elok. Pulang ke Surabaya memang seperti ajang kangen-kangenan saya ke sahabat-sahabat yang saya punya. Mengobrol banyak hal tentang apa yang terjadi selama kita tidak bertemu, suatu hal lain yang teramat sangat saya rindukan ketika pulang. Kami tak terasa menghabiskan waktu selama dua jam di tempat ini sembari menikmati cemilan ringan berupa siomay dan mie pithik.
  Dua jam berikutnya, kami hijrah untuk menemui sahabat kami yang lain. Sahabat terbaik yang pernah saya punyai, Bismaputra Jayasujana. Kami memilih tempat pada sebuah pusat perbelanjaan yang bisa dibilang masih baru di Surabaya, Grand City. Ini baru kali kedua saya kemari. Setelah memasuki tempat ini, sudah banyak sekali perubahan yang terjadi dari segi tempat-tempat yang mengisi bangunan ini. Dan , perubahan lain yang cukup membuat saya sedikit sedih namun bisa tersenyum gembira hingga bibir saya terangkat naik. Perubahan itu bisa saya bilang sebuah perubahan. Sebuah perubahan dimana saya sudah tak bisa mengenali sosok sahabat saya sendiri. Sahabat yang sudah menjalin pertemenan dengan saya sejak Sekolah Menengah. Memang, tak bisa menyalahkan waktu yang begitu cepat bergerak maju hingga menuju sebuah perubahan. Tak bisa menyalahkan juga keputusan saya untuk berkuliah di Yogyakarta sehingga saya tak bisa lagi intens berhubungan dengan sahabat saya tersebut. Sebuah ketergantungan karena intens yang menimbulkan saya takut kehilangan. Yang baru saya mengerti, perasaan seperti ini bisa terjadi juga dalam sebuah hubungan sahabat.
  Namun, di balik itu. Saya bisa tersenyum karena mungkin sahabat saya tersebut bisa menemukan sebuah dunia baru untuk mengisi hari-harinya tang sudah tanpa saya dan tanpa cinta yang masih dengan setia ia cari hingga sekarang. Kami mungkin sama-sama belajar untuk menjadi manusia dewasa. Usia sudah tak mengijinkan kamu untuk menjadi sosok kanak-kanak seperti dulu. Tapi kenangan masa kanak-kanak justru yang bisa menyatukan kami, mungkin ini yang bisa membedakan dua hubungan antara manusia pada hubungan cinta dengan kekasih dan cinta dengan sahabat. Kami memang bersahabat, tapi mungkin kami tidak bisa selalu bersama-sama untuk meraih masa depan kami masing-masing. Saya bisa berucap seperti itu, karena saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan hidup saya mendatang. Yang terpenting, saya bahagia bisa melihat sosok sahabat saya tersebut dibalik ketidak mampuan saya (lagi) mengenal sosoknya . We’re still best friend forever, dear.
  Seperti yang pernah saya posting di entri blog saya sebelumnya. Surabaya selalu membuat saya berkenalan dengan teman baru. Kali ini sosok anak kecil (hehe) yang masih duduk di sekolah menengah bernama Alicia yang mengisi di daftar orang-orang yang pernah saya temui. Glad to see you :).
  Waktu memang tak pernah menyediakan rentang yang cukup. Saya harus kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya, saya dan sahabat saya yang saya tumpangi rumahnya, Aditia Aryo berkeliling kota ini. Saya masih rindu. Walaupun, di perjalanan berkeliling ini pada akhirnya saya bisa mendapat macaron yang saya idam-idamkan. Semua mungkin bisa terbilang sudah lengkap. Satu hari itu bagai roller coaster yang membuat saya merasa fun. Surabaya satu hari yang membuat saya bisa tersenyum dari penatnya saya di Yogyakarta.
Terima kasih sahabat, Bismaputra Jayasujan, Aditia Aryo, dan Praharani Elok.

Selasa, 06 Desember 2011

KAMI

Jakarta tampak lengang. Dengan berjuta lampu temaram yang menyebar di tiap bagian tubuhnya. Sesekali angin malam menyeruak masuk celah jendela, membuat sebuah pergumulan tanpa cinta dengan kulit. Gedung pencakar langit yang tak bisa sempurna tidur sejenak, nampak terlihat dari penerangan cahaya yang masih berpendar terang terlihat dari bagian luar. Bagai satu keinginan terpendam untuk masa depan yang berada dalam salah gedung pencakar langit di kota Megapolitan.

Kami berdua beradu asap rokok. Aroma strawberry yang beradu dengan menthol yang melekat. Saat-saat  seperti ini seharusnya lebih semarak jika dentingan beradu botol-botol bir ikut mengambil peran dalam drama dini hari kami berdua. Bersandar pada sebuah tembok di pinggir pintu balkon yang terbuka. Kami mengijinkan angin malam masuk dengan bebasnya, membuang asap rokok beraroma kami untuk kemudia bercinta dengan udara diluar. Dengan berlatar belakang sapuan berjuta-juta gedung-gedung penanda jaman. Untuk kali pertama kami berdua, secara bersama-sama menikmati dini hari di kota yang mungkin untuk masa depan kami.

Segalanya tak berubah dan tak akan berubah diantara kami. Kecuali bergesernya pemikiran kami, yang katanya sangat dibutuhkan dan harus dilakukan untuk eksistensi hidup di dunia. Kami masih gemar mencipta sebuah gelak tawa hanya untuk sekedar memecah keheningan dan dinginnya dini hari. Terlebih memecah apa-apa saja yang sudah mengikat pikiran kami yang mampu membuat kami sedikit sukar menikmati hidup. Hidup seharusnya dinikmati, bukan untuk membuatnya lebih sulit. Banyak orang yang berkata demikian. Tapi membuat untuk menikmati hidup itu terkadang bukan perihal yang mudah.

Kepingan beberapa puzzle kehidupan. Kata banyak orang hidup itu seperti merangkai sebuah puzzle dengan hasil akhir sebuah karya seni yang super duper bercita rasa tinggi. Kepingannya ada berupa teman, sahabat, orang tua, dan cinta. Tapi aku atau mungkin dia tak pernah membatasi kepingan-kepingan apa saja yang akan membentuk lukisan karya seni indah masing-masing kami. Aku tak ingin sebegitunya bersusah payah menjalani hidup dengan mencari tiap bagian puzzle-puzzle itu. Kalau kita bisa mencarinya bersama-sama, kenapa tidak ?. Tentu tanpa menjadikannya sebagai tujuan utama. Bersama-sama mencarinya dengan rasa cinta. Bersama-sama mencarinya bukan untuk mencari cinta. Cinta itu sahabat. Cinta itu teman. Cinta tidak seharusnya membunuh. Namun cinta terkadang juga hidup. Dia berkembang seiring berkembangnya jaman. Terkadang bisa membunuh tanpa bersisan secuil pun.

Gedung pencakar itu roboh seketika. Tanpa menyisakan secuil pun seonggok bangunan kuat. Namun, sebelum gedung itu roboh, kami menopangnya bersama-sama. Aku berani sangsi, aku tak akan mampu menopangnya sendirian. Kami menopangnya dengan masih menghisap rokok beraroma di mulut kami. Kami berdua saling membutuhkan satu sama lain. Manusia makhluk sosial. Masih butuh orang lain untuk hidup, walau pada akhirnya akan kembali menjadi sebuah individu ketika di akhir. Kami, dua pasang sahabat dengan cinta. Cinta tak seharunya diberi kepada sang kekasih. Bukan, bukan karena aku tak memiliki kekasih. Tapi kekasih yang memberi cinta, kehadirannya selalu tak terduga persis seperti kisah pangeran berkuda putih yang datang secara mendadak ketika puti salju tertidur karena sebuah apel. Cukup klise mungkin, tapi sudahlah.

Hanya ingin menikmati hidup. Melihat indahnya matahari terbit dan terbenam. Melihat indahnya manusia yang saling mencinta. Duduk bersila dengan dia di pinggir jendela yang terbuka. Dengan sapuan gedung-gedung pencakar langit penanda jaman kota megapolitan. Lantai enam. Dengan aroma strawberry dan menthol yang memamcar dari mulut kami.

Katanya, menikmati hidup itu gratis kok. Oh, yah?. Apakah benar?.
Bagi saya sahabat itu yang gratis. Dengan berjuta-juta teman yang silih berganti berdatangan, sahabat terdekat tetap yang dihati, walau hati yang dipunyai sedang hancur dan menunggunya pulih :).

Untuk seorang sahabat :).



Jumat, 02 Desember 2011

Jakarta 5 A.M. and this time i'm not leaving without you...

For the very first time i have a idea about "Jakarta 5 A.M". It comes from, when for the very first time i watch Breakfast at Tiffany's (yes, i'm a addicted of this movie. and yes, i watch this movie when i got a broke up of my relationship last year). The Opening Scene of that movie is super duper cool and cold. Taken on the early morning 5 A.M. Madison Avenue, New York. A super calm New York in the morning, a super beautiful sun when it ready to high, a super emotionally fellin' when we are get up in the morning, a super duper fabulous little black dress by Givenchy, and also a super duper extraordinary awesome classic actress, Audrey Hepburn to play her role as the-super-fabulous-chick-free-women called, Holly Gollightly.


And i'm already back to this Capital City, Jakarta. Namun, Sendiri. Hanya membawa sebuah travel tote bag besar ditambah dengan sebuah tas kecil. Saya kembali menginjakkan kaki di Ibukota. Sempat bersangsi untuk sementara tidak akan menginjakkan kaki di kota ini lagi. Yah, anggaplah saja sebagai janji-dengan-emosi-maksimal seseorang yang habis putus cinta (dulu), dengan mantan kekasih yang masih tertinggal di celah-celah banyaknya gedung bertingkat yang dimiliki kota ini.

Jakarta 5 A.M., bagi saya jam 5 pagi itu adalah waktu yang sekiranya masih sangat nikmat sekali dinikmati untuk merebahkan badan di pelukan tempat tidur :P. Bagi sebagian orang, apalagi yang hidup di rumitnya kota megapolitan seperti Jakarta, jam 5 pagi mungkin sudah menjadi dua atau satu jam setelah mereka bangun, untuk segera bersiap-siap, menghadapai realita yang ada, bersama kepala-kepala lain yang juga menggantungkan nasib hidupnya kepada kota megapolitan, Jakarta.

Ternyata tak sepenuhnya demikian, Jakarta 5 A.M. extremely beautiful for me (yeah, for me :). Saking cantiknya pagi hari di Jakarta, saya bisa sedikit melupakan keterasingan saya atas kondisi dimana saya turun di Jakarta, sendiri, mengambil busway dari Stasiun Pasar Senen untuk kemudian sampai ke tempat tujuan saya di bilangan Cilandak. Tentunya, ini kesempatan paling pertama yang diberikan saya ketika mencoba datang ke Jakarta tanpa bisa mengandalkan siapapun, kecuali mengandalkan diri sendiri :).

Di dalam busway, ketika jarum panjang baru meninggalkan sekitar sepukuh menit dari angka dua belas. Ingatan saya sedikit memainkan kembali Opening Scene dari Breakfast at Tiffany's. Saya menonton film ini ketika tahun lalu saya putus dengan mantan saya. This film have a beautiful simple opening scene. The big city New York, just same as Jakarta. Yang kemudian, saat itu (saat saya menonton-nya), ingatan saya kembali  dicuri oleh pikiran tentang mantan saya. Dan...yang bisa saya keluarkan adalah beberapa simple-silly-words-from-heart-broken-guy-like-me. "Kota besar dengan sejuta gedung-gedung pencakar langitnya yang indah namun mencekam. Ternyata masih menyimpan sisi indah dibalik rumitnya hidup disana. Pagi hari memulai hari baru. Terbilang kebalikan atas apa yang terjadi setelah waktu menjelma menjadi dua angka yang berjajar. Fellin' so calm. Dan, apakah kamu juga bisa dikatakan merupakan pemuja kedamaian itu?. Pemuja kedamaian indah saat jam 5 pagi?. Pemuja kedamaian indah yang mampu diberikan gedung-gedung bertingkat ini?".

Yeps, that is a past story of me. And now, i stand in Jakarta. 5 A.M. It doesn't matter if i'm alone. Jakarta 5 A.M. can change my feelin' about my loneliness. Beautifull. Thank You Jakarta.


And this time i'm not leaving without You...
It's been a long time since I came around
It's been along time but I'm back in town
But this time I'm not leaving without you

You taste like whiskey when you kiss me oooh
I'll give up anything again to be your baby doll
Yeah this time I'm not leaving without you

There's something, something about this place
Something about lonely nights and my lipstick on your face
Something something about my cool Nebraska guy
Yeah something about
Baby you and I

Been two years since i let you go,
I could've listened to a joke for rock n roll
And muscle cars drove a truck right through my heart

You taste like whiskey when you kiss me oooh
I'll give up anything again to be your baby doll
Yeah this time I'm not leaving without you

There's something, something about this place
Something about lonely nights and my lipstick on your face
Something something about my cool Nebraska guy

Yeah something about, baby you and I
You and I
You, you and I
You, you and I
You you and I
You and I
You you and I
You you and I

There's something, something about this place
Something about lonely nights and my lipstick on your face
Something something about my cool Nebraska guy
Yeah something about
Baby you and I

You and I
You and I
You you and I
You you and I
You and I

You you and I
you you and I
you you and I

Been along time since I came around
Its been along time but I'm back in town
And this time I'm not leaving without you

A some interesting music by Lady GaGa, playing in the radio when i'm on my bus from Pacific Place to going home to Cilandak. Maybe, Jakarta gives me soooo many memories that can make myself be like this now :). No regret all of these. I'm just say thank you so much for Jakarta and.....

Sabtu, 26 November 2011

J'adore WORDISME ~Sebuah Catatan Kecil Tentang Belajar Menulis


Tak Perlu Jauh-jauh Pergi ke Negeri Cina 
Bagi saya, mungkin berdirinya ilmu itu selalu bersanding kompak dengan passion. Keduanya saling berkaitan satu sama lain, Ilmu butuh passion agar bisa berkembang. Sedangkan passion butuh ilmu untuk mewujudkannya. Terlepas dari aspek-aspek lain yang mengisi celah-celah ruang diantara keduanya, bagaimana mungkin kita bisa atau ingin meraih dan menambah ilmu jika saja kita tak ada keinginan atau passion atas sesuatu yang ingin kita cari ilmu-nya tersebut. Dan bagaimana bisa kita mengetahui keinginan atau passion kita, kalau saja kita tak mengerti (minimal) sedikitpun hal-hal (ilmu) yang menjadikannya sebuah rasa keinginan atau passion pada diri kita sendiri.


Ada sebuah pepatah yang berkata “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Kalau saja saya boleh menambahkan, mungkin saya akan menambahkan kata passion pada kalimat tersebut hingga jika dijadikan dalam satu kalimat menjadi “kejarlah ilmu dan passion sampai ke negeri Cina”. Pepatah yang sering dijadikan motivasi (mungkin oleh kebanyakan orang jenius dan gila ilmu) itu menjadikan negeri Cina sebagai pusat dimana banyak ilmu yang di dapat darisana. Ilmu dari yang terbaik (seperti dunia bisnis) sampai yang terjelek sekalipun (semisal pintarnya Cina membuat imitasi produk-produk Famous Luxurious Brand). Namun, negeri kita tercinta ini, Indonesia. Juga mampu menyajikan berbagai atau mungkin berjuta-juta  ilmu dan passion yang bisa kita saring dan ambil sesuai apa yang kita inginkan, setidaknya itu yang bisa saya katakan dan saya rasakan :).

Hanya berbekal segenggam berry hitam elektronik yang di dalamnya sudah terintegrasi dengan social media Twitter, di suatu malam yang melelahkan saat saya baru pulang kuliah plus kerja paruh waktu. Di timeline saya menampilkan cuap-cuap dari penulis novel terkenal yang saya follow, siapa lagi kalau bukan Alberthiene Endah (@AlberthieneE). Saat itu, beliau sedang menginformasikan suatu hal yang cukup menggairahkan saya kedalam quota 140 Karakter di Twitter-nya. Sebuah workshop menulis gratis selama satu hari, yang waktu itu masih belum mempunyai nama. Yang akan diadakan pertengahan bulan November di Jakarta, dengan persyaratan pendaftaran yang bisa dibilang tidak cukup rumit. Pendaftar hanya diharuskan mengirimkan data diri, cerita pendek tentang kenapa ingin menjadi penulis, dan terakhir (yang baru saya tahu setelah mendaftar) mencantumkan photo paling kece yang dipunya :P. Dan kemudian akan disaring dan dipilih menjadi 300-an orang yang beruntung bisa mengikuti acara workshop menulis gratis selama satu hari ini.

Singkat cerita, tanpa segan dan menyelingkuhi rasa kantuk saya yang sedang melanda saat itu, saya segera membuat, mengetik apa-apa saja yang diperlukan (tentu saja tanpa mengirimkan photo, karena pada waktu itu saya belum tahu kalo diharuskan untuk mengirim photo paling kece juga :P) lalu mengirimkan ke alamat e-mail yang di informasikan oleh mbak Alberthiene Endah (AE). Di selang waktu satu bulan berikutnya (mungkin karena banyaknya pendaftar dan sistem penyeleksian yang cukup rumit karena banyakanya pendaftar) tepat di akhir bulan Oktober saya menerima e-mail bahwa saya lolos untuk mengikuti Workshop Menulis Gratis selama satu hari yang saat itu pada akhirnya diberi nama, WORDISME.

Negeri Cina memang boleh mempunyai berjuta-juta ilmu dan passion yang bisa dijemput disana. Namun, mungkin saya sedikit merasa beruntung dan sedikit lega. Tak perlu jauh-jauh ke negeri Cina (mungkin untuk saat ini) untuk menambah ilmu dan mengejar passion saya (tentu saja dalam bidang menulis). Jakarta memberikan peluang saya untuk menambah ilmu dan mengejar passion saya di bidang menulis melalaui Wordisme. Hanya butuh sembilan jam dari Yogyakarta. Bersembunyi di dalam kotak besi besar yang ditarik oleh kotak serupa namun beruap, yang mengantar saya menjemput ilmu dan passion tentang MENULIS.


And the Show Begin..
Pagi hari yang alhamdulillah cerah tanpa mendung secuilpun, menyambut hari Sabtu saya di ibukota. Memaksa diri untuk bangun pagi, karena sejujurnya bangun pagi memang bukan kebiasaan saya. Dan workshop menulis gratis selama satu hari itu tiba pada hari ini, ada perasaan gugup yang saya rasakan. Betapa tidak, tentunya di acara tersebut akan banyak sekali saya temui teman-teman seperjuangan yang sama-sama hobi menulis (bahkan mungkin sudah ada yang menjadi seorang penulis). Hal lain yang membuat saya gugup adalah bertemu para narasumber yang benar-benar sangat berkompeten di bidang kepenulisan. Sebut saja, Petty S. Fatimah dan Reda Gaudiamo yang benar-benar sudah merasakan manis pahit atau bahkan berkali-kali orgasme di bidang kepenulisan jurnalisme pop. Kalau boleh sedikit berlebihan, Indonesia sebenarnya juga memiliki sosok Editor in Chief sekaliber milik majalah Vogue USA, Anna Wintour. Dan Petty S. Fatimah mungkin sosok yang tepat untuk mewakili sosok Anna Wintour dari Indonesia. Berikutnya, ada sosok Alberthiene Endah yang piawai sekali bercerita tentang kehidupan pribadi public figure dari Indonesia mulai dari nol sampai tuntas dengan sebutan bilangan  yang tak bisa disebutkan. Sesosok penulis biografi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Adalah Raditya Dika dan Aulia “Ollie” Halimatussadiah yang benar-benar berkompeten untuk kepenulisan blog. Teknologi Informasi yang semakin berkembang dewasa ini, telah memberikan kemudahan untuk kita mengakses bacaan atau bahkan menulis tidak saja dalam media kertas yang kemudian dijilid dengan sedemikian rupa hingga menjadi buku. Telah lahir sebuah media bernama blog yang telah dilahirkan dunia maya yang ikut berperan berkembang bersama saudara-saudaranya seperti facebook, twitter, dan media lain yang telah dilahirkan dunia maya. Dengan diramu asupan kocak Standup Comedy ala Raditya Dika dan sedikit bisnis kepenulisan dari Ollie, mereka berdua bercerita, sharing bermanfaat dan berbagi ilmu tentang kepenulisan blog. Ketika bicara tentang menulis atau mungkin membaca fiksi/cerpen itu senikmat bercinta. Pandangan saya dengan seketika akan tertuju pada sosok Djenar Maesa Ayu. Siapa yang tidak kenal dengan kumpulan cerpen seperti Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, dan Novel Nayla. Beberapa karya yang katanya sangat vulgar hingga membuat suatu kontroversi. Yah, sebenarnya kalau boleh saya sedikit berargumen, menonton film porno justru lebih vulgar daripada membaca karya-karya Djenar Maesa Ayu. Mungkin saja, saya bisa berargumen demikian karena background pendidikan saya adalah seni. Seni yang vulgar biasanya mengandung kesan estesis dan keindahan serta cita rasa yang benar-benar tinggi. Namun, karena korelasi antara bacaan dan film itu berbeda, jadi saya lebih memilih untuk mengembalikan persepsi akan karya-karya Djenar ke pribadi masing-masing. I love Djenar Maesa Ayu. Berduo bersama Clara R. Juana atau yang lebih akrab disapa Clara Ng. Sebuah novelis dan cerpenis yang benar-benar produktif menghasilkan karya-karya yang apik. Tidak melulu telah menelurkan beberapa karya untuk remaja hingga dewasa, karya-karyanya juga telah menyentuh pikiran-pikiran polos anak kecil untuk berimajinasi dari bacaan. Novel dan kumpulan cerpen yang kebanyakan kita kenal dari media buku, seakan tak pernah lepas dari sosok Editor yang siap membabat habis karya-karya tulis dari para penulis. Adalah Hetih Rusli, wanita dibalik label Editor fiksi dari penerbit Gramedia Pustaka Utama, dan Windy Ariestanty dari Gagasmedia. Berkolaborasi bersama kedua penulis fiksi/cerpen Djenar Maesa Ayu dan Clara Ng, keempatnya berdiri di atas panggung untuk memberikan wejangan penuh kegilaan untuk meluluskan ke-horny-an saya (dan peserta lain) atas ilmu-ilmu kepenulisan fiksi/cerita pendek. Sebuah film, ternyata juga tidak terlepas dari dunia kepenulisan. Aditya Gumay, Alexander Thian yang merupakan selebriti twitter dengan user id @aMrazing, dan Salman Aristo adalah sosok sukses dibalik kesuksesan film-film dan sinetron Indonesia. Mereka bertiga memberikan beberapa ilmu menakjubkan tentang kepenulisan skenario. Tentunya betapa beruntungnya saya dan peserta lain bisa bertemu dan menyerap ilmu secara langsung dari nama-nama besar dibidang kepenulisan dari beliau-beliau ini. Cukup menurunkan rasa ke-gugup-an saya yang lalu digantikan dengan rasa bersyukur.

Tepatnya di gedung Kompas-Gramedia di kawasan Jakarta Barat. Sekitar pukul delapan kurang seperempat saya menginjakkan kaki saya di lantai tujuh gedung tersebut, tempat dimana diadakannya acara Wordisme. Disambut dengan ramah dan ceria oleh Chiko Handoyo Soe (@gembrit) selaku panitia yang memegang hak penuh atas kesekretariatan. Lalu dijejali dengan dua buah goddy bag berwarna hitam yang membungkus isi yang benar-benar menyenangkan dan mengenyangkan. Artasya Sudirman (@myArtasya), Pembawa acara (secara general Wordisme) cantik dengan atasan berwarna putih, penuh dengan lipatan crowl dilengan, serta bawahan berwarna abu-abu kecoklatan dengan detail penuh kancing berwarna hitam di bagian depan menyapa semua peserta di jarum jam tepat menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.  Yang kemudian di susul dengan sambutan singkat dan padat ketua panitia wordisme, Alberthiene Endah (@AlberthieneE) yang dibalut dengan dress cantik berwarna biru tua dengan belahan leher V yang menambah aura cantik dari tubuhnya yang langsing.

Sesi pertama diisi dengan materi pelatihan jurnalisme pop. Dengan narasumber Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi Majalah Femina) dan Reda Gaudiamo (Pemimpin Grup Majalah Wanita Gramedia), serta di moderatori oleh Indah Ariani (@IndahAriani) dari majalah Dewi. Selama satu jam setengah kedua narasumber benar-benar memberikan saya sebuah pencerahan dan tambahan ilmu tentang apa-apa saja yang perlu diperhatikan dalam kepenulisan jurnalisme pop. Yang diantaranya adalah kita harus mempelajari dan memahami (membaca dan menelaah) karakter (angle, gaya penulisan, dan format penulisan) majalah atau media yang ingin kita tuju, karena sejatinya setiap majalah itu memiliki karakter yang berbeda-beda menurut target audience yang mereka tuju dan jangan takut untuk mengirimkan tulisan-tulisan yang sudah memperhatikan semua karakter dari majalah kepada majalah yang ingin kita tuju . Tentu saja di sesi pembukaan ini cukup menggugah diri saya, karena memang kelak bekerja di dunia media (majalah lebih tepatnya) adalah impian saya. Apalagi mendapat wejangan secara langsung dari ahlinya seperti Petty S. Fatimah dan Reda Gaudiamo, yang sudah bertahun-tahun hidup untuk menulis pada sebuah majalah.

Kepiawaian Alberthiene Endah dalam menuliskan Biografi dibagikan kepada semua peserta wordisme di sesi kedua acara ini. Pukul sepuluh tepat, beliau ditemani pembawa acara kawakan yang berkompeten, Mayong Suryolaksono yang identik dengan acara lawas yang membahas review-review film bertajuk Cinema Cinema. Dalam suara cantiknya yang diluar dugaan saya ketika hanya melihat avatarnya di twitter, Alberthiene Endah menguraikan beberapa ilmu untuk kepenulisan sebuah biografi. Yang diantaranya adalah menulis biografi itu adalah menulis dan menceritakan  tentang kisah hidup, historis, liku-liku kehidupan orang yang mempunyai kekayaan hidup dan memiliki Human Interest, yang bisa menginspirasi orang lain (yang membaca) untuk berubah lebih baik. Dengan segi kepenulisan yang tidak banyak berbeda dengan menulis-nulis hal lain, namun ada hal-hal yang perlu ditambahkan yaitu harus siap mental menghadapi emosi yang sering berubah-ubah dari narasumber yang akan diwawancarai, untuk wawancara dengan narasumber sebisa mungkin tidak lebih dari satu setengah jam karena setiap orang memiliki tingkat kesegaran, jika lama, dikhawatirkan jawaban akan melantur kemana-mana. Sebisa mungkin untuk intens bertemu dengan narasumber, agar tercipta kesinambungan wawancara. Di sesi ini, Alberthiene Endah juga bercerita tentang proses kepenulisan saat menulis buku biografi Probosutedjo, dimana ada satu bab yang pada akhirnya dihapus dan tidak ikut diterbitkan, karena dianggap terlalu kontroversi. Dan dari sini mungkin saya bisa sedikit menyimpulkan, menghadapai emosi dari editor juga sangat diperlukan. Browsing dan mencari banyak referensi tentang narasumber juga sangat dianjurkan sebelum melakukan wawancara langsung dengan narasumber dan mulai menulis biografinya.

Raditya Dika (@radityadika) dan Aulia “Ollie” Halimatussadiah (@salsabeela) melanjutkan sesi berikutnya dengan materi pelatihan penulisan blog, yang dipandu dengan moderator yang juga merupakan selebritis twitter yang juga seorang penyiar radio, Miund (@miund) . Raditya Dika, seorang blogger yang dikenal dengan buku Kambing Jantan yang merupakan catatan keseharian-nya di blog, kemudian di terbitakan dalam sebuah buku, dengan bumbu penuh kocak dia memberikan beberapa tips jitu dalam penulisan blog, diantaranya tulislah blog dengan jujur, tulis apa saja yang kamu mau. Jangan pernah memasang target agar blog kita ingin dikenal banyak orang. Seringlah menulis, walau tak ada yang membaca blog kita satupun. Dan dari semunya, yang paling terpenting adalah You don't have to be better, you just have to be different dan jangan berpegang teguh pada mood saat menulis, mending menulis jelek daripada tidak menulis sama sekali. Sementara dari pandangan Ollie yang saat itu banyak memakai kombinasi warna krem, hitam, dan oranye pada busananya meninggalkan beberapa ilmu yang diantaranya, Mulailah menulis dengan hal kecil, seperti apa yang dialami sehari-hari, lalu berkembang ke reaksi atas apa yang diawali dari hal kecil  itu, lalu kemudian expertise blogging. Tulislah apa yang kita suka, lalu promosikan blog kita via twitter (mention teman terdekat tentang blog kita), tutup wanita dibalik self-publishing nulisbuku dan kutukutubuku ini.

Selang beberapa jam setelah istirahat makan siang. Tepatnya satu setengah jam setelah tengah hari, giliran Djenar Maesa Ayu, Clara Ng, serta Hetih Rusli dan Windy Ariestanty yang memberikan pelatihan sesi ke empat, yaitu pelatihan menulis fiksi/cerita pendek. Saya sangat menikmati sekali sesi ini, pembawaan Djenar yang santai dengan penuh rock ‘n roll (perpaduan tank top, hot pants, empat kaleng bir yang membuat saya tergoda, dan seringnya beliau ke kamar mandi. All of that is so cool), dan sosok Clara Ng yang keibuan, ditambah dua sosok editor dari dua penerbit yang berbeda, Hetih Rusli mewakili penerbit Gramedia Pustaka Utama dan Windi Ariestanty dari penerbit Gagasmedia yang piawai menjabarkan apa-apa saja yang diperlukan agar buku kita bisa diterbitkan.  Dengan dipandu oleh moderator Hilbram Dunar, menjadikan sesi itu cukup kocak, santai tapi masih tetap serius. Sehingga saya dapat mengambil beberapa ilmu untuk kepenulisan fiksi/cerpen yang diantaranya adalah, Menulislah karena butuh menulis, jadilah objek ketika menulis jangan memposisikan kita sebagai subjek, biasakan menulis tanpa konsep agar lancar ketika bergerak untuk menulis. Gunakan bahasa yang mudah untuk menerangkan sesuatu tanpa harus memakai diksi yang berbunga (ex: penis is penis. Bukan “sesuatu yang menyerupai microphone). Seorang penulis harus kuat dengan kesunyian, bukan tidak mungkin dari situlah muncul sebuah ide dan harus kuat menampung ide tersebut. Dan yang terpenting adalah kenali diri kamu sendiri ketika menulis. Clara Ng sebagai sosok yang cukup produktif dalam menghasilkan banyak karya, juga menambahkan dalam menulis sebuah fiksi/cerpen, kita akan banyak mendapatkan ide dengan cara peka dengan perasaan (sensitif), kemudian dari banyaknya ide yang muncul pilihlah yang paling baik dan bagus. Dan kembangkan ide tersebut hingga memiliki konflik. Fiksi/cerita pendek yang bagus harus memiliki konflik. Menulis itu merupakan tingkatan paling tinggi dari level berbahasa (dari level paling bawah yaitu mengerti (apa yang diucapkan), membaca, berbicara, dan yang paling tinggi adalah menulis (menyampaikan apa yang ada dipikiran). Selain sosok penulis, yang sangat berperan penting dalam penulisan sebuah cerita fiksi/cerita pendek, sosok editor tentunya juga sangat berperan untuk menjembatani penulis dengan pembaca. Hetih Rusli dan Windy Ariestanty lebih selalu memperhatikan penulis yang memiliki kemampuan untuk bercerita dan memiliki tehnik bercerita yang piawai. Mereka berdua juga menambahkan, sebagai penulis fiksi berusahalah untuk mengenali objek yang ingin ditulis (dalam artian pembaca). Serta berusahalah menulis dengan baik dan menenangkan hati sehingga mampu menguasai emosi editor dan juga pembaca. Tutup sesi keempat ini di jarum jam tepat dipukul tiga sore.

Sesi terakhir dari acara wordisme yang di moderatori oleh Artasya Sudirman adalah pelatihan menulis skenario. Sesi ini menyajikan tiga buah narasumber yang sangat berkompeten dibidang kepenulisan skenario film dan sinetron. Beliau-beliau ini adalah Salman Aristo, pria dibalik film Brownies, Ayat-ayat Cinta, Sang Pemimpi dan beberapa film-film Indonesia yang sudah banyak kita nikmati di bioskop. Lalu disambut dengan Alexander Thian, pria yang juga merupakan selebriti twitter dikenal dengan user id @aMrazing, yang juga merupakan sosok sukses dibalik sinetron-sinetron penuh drama yang setiap harinya sering kita lihat pada layar kaca. Dan yang terakhir adalah Aditya Gumay, pria dibalik layar film Rumah Tanpa Jendela dan Emak Ingin Naik Haji. Sesi ini merupakan pengalaman pertama saya bersentuhan dengan menulis skenario. Tentunya masih benar-benar kosong ilmu saya tentang menulis di bidang ini. Sehingga ada kalanya saya sedikit tidak mengerti apa yang dijabarkan narasumber berkompeten ini. Yang saya ingat, mereka betapa seringnya membahas bahwa sinetron di Indonesia itu bisa dikatakan konsumsi babu (pembantu, yang bisa dikatakan selalu dipandang sebelah mata), dan ternyata dibalik kebabuan sinetron dan semakin panjangnya episode sinetron yang ditayangankan, sebenarnya merupakan titik sukses dari sinetron tersebut dan tentu saja memberikan pemasukan yang cukup banyak bagi siapa-siapa saja yang berdiri dibalik layarnya. Dari sini, saya bisa menyimpulan ada sisi menarik untuk menulis skenario. Tidak melulu membahas tentang sinetron, ketiga narasumber ini juga memberikan beberpa ilmu yang bisa kita saring untuk pembelajaran dalam menulis skenario film ataupun sinetron. Diantaranya adalah, dalam penulisan skenario sinetron kita harus punya ide yang premis (ide yang bisa dijual), mental yang kuat juga merupakan syarat utama bagi siapa saja yang ingin terjun kedunia kepenulisan skenario film/skenario, harus kuat dicemooh karena hasil yang kurang memuaskan, dan terlebih harus kuat mental ketika tanpa diduga kita diharuskan merubah skenario yang sudah kita buat sedemikian rupa dalam kisaran waktu yang tidak lama. Dalam menulis skenario, menulisah untuk visual sehingga deksripsi itu penting. Pemakaian bahasanya juga harus lugas, bukan hanya bisa dirasa namun harus bisa dilihat dan di dengar. Sesi terakhir ini bisa dikatakan cukup seru, ada sosok @aMrazing yang begitu suka nyinyir dan cerewetnya dia ketika bercuap-cuap di twitter, namun ternyata saat bicara di depan umum, beliau juga masih punya rasa gugup yang menguasai. Sesi ini pun ditutup tepat pukul lima sore, dan menandakan ditutupnya seluruh rangkaian acara yang cukup mengenyangkan pikiran saya akan menulis sekaligus mengenyangkan perut saya yang dijejali dengan banyak makanan plus snack dari panitia.

Seakan tak ingin berpisah dengan para peserta. Setelah semua sesi pelatihan sudah menjejali penuh akan kehausan ilmu menulis para peserta, para panitia wordisme membagi-bagikan undian doorprize bagi peserta yang beruntung nomer pesertanya dipanggil. Sebenarnya saya mengincar doorprize kursus menulis. Tapi apa daya, peserta lain lebih beruntung dan mendapatkan doorprize tersebut. Tapi, saya tak berkecil hati begitu saja. Dengan semua packaging dan isi yang benar-benar menarik dengan ilmu yang banyak saya ambil dari keseluruhan acara wordisme. Saya sudah cukup senang dan bersyukur bisa terpilih untuk mengikuti acara ini. Yang menutup satu minggu penuh di Jakarta kali ini dengan begitu menyenangakn dan mengenyangkan. Terima kasih semua panitia, Alberthiene Endah (@AlberthieneE), Aulia “Ollie” Halimatussadiah (@salsabeela), Rahne Putri (@rahneputri), Jia Effendie (@JiaEffendie), Rifky Septiaji (@rseptiaji), Faizal Reza (@monstreza), Sitty Asiah, Abdi Antara (@OmAbdi), Artasya Sudirman (@myArtasya), Chiko Handoyo Soe (@gembrit). Semua pembicara dengan sejuta ilmu yang diberikan dan moderator. Semua peserta dari teman baru, teman yang sudah kenal, dan teman lama yang bisa saya jumpai lagi diantara 300-an peserta. J’adore WORDISME. 

Practice make perfect. Tidak ada kata lain yang lebih dahsyat untuk menggantikan-nya. Melihat betapa seringnya para narasumber mengucapkannya di setial sesi pelatiham menulis di Wordisme.


Penuh Selebriti Twitter..
Dewasa ini, peran social media sangat berpengaruh dalam ranah pergaulan atau mungkin sudah sedikit demi sedikit merambah ke ranah kehidupan lain seperti bisnis atau mungkin cinta dan lainnya. Salah satunya social media Twitter, yang dalam kuota 140 karakternya, tanpa menunggu dalam beberapa detik saja kita bisa memiliki teman baru, klien baru dalam urusan bisnis, atau mungkin calon gebetan baru dalam urusan cinta. Twitter semakin bergejolak hingga seakan-akan memunculkan dunia kecil baru yang lahir di dalam dunia besar yang kita pijak dengan kedua pasang kaki kita. Di dalam dunia kecil itu sama-sama hinggap berjuta-juta macam manusia dari berbagai latar belakang. Dan beberapa dari berjuta-juta itu, lahirlah selebriti twitter. Mungkin, bisa dibilang sama halnya dengan selebriti di dunia nyata, banyak orang yang mengenal mereka. Selebriti twitter pun demikian, banyak yang mengenal dan memuja mereka yang ditunjukkan dengan jumlah follower mereka yang tak bisa dibilang sedikit.

Karena social media Twitter sendiri lebih banyak menampilkan susunan-susunan huruf menjadi sebuah kata dan kalimat, dari booklet yang saya dapat dari Wordisme, alasan itulah yang memacu diadakannya acara ini. Karena di twitter semakin banyak dijumpai benih-benih muda yang pintar, cerdas, dan piawai menulis dengan spontanitas yang apik ke dalam kuota 140 karakter yang diberikan.

Beberapa selebriti twitter, yang tentu saja mereka juga mencintai bidang menulis dengan keunikan masing-masing, dari yang benar-benar selebriti, public figure, sudah menjadi penulis terkenal sampai ordinary people yang saking lucu dan unik tweet-tweet mereka sehingga mampu mendongkrak follower yang siap-siap mengalahkan follower @ladygaga, hingga ditasbihkan menjadi selebriti twitter seperti layaknya selebriti-selberiti yang lahir dari youtube sensation yang sedang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Di wordisme ini lah, dimana saya bisa berjumpa secara langsung dengan beberapa dari beberapa selebriti twitter yang sering wara-wiri di timeline. Dan tak tanggung-tanggung, beberapa dari mereka menjadi panitia inti dan tiga dari mereka menjadi pembicara untuk memberikan materi pelatihan kepenulisan.

Diantaranya ada sang ketua suku pelatihan menulis wordisme, mba’ Alberthiene Endah dengan tweet-tweet penuh cinta tulusnya yang dikenal dengan user id @AlberthieneE, Raditya Dika (@radityadika) dan Alexander Thian (@aMrazing) yang juga mengisi materi pelatihan menulis blog dan pelatihan menulis skenario. Di belakang nama-nama besar itu, bersiap sedia beberapa selebriti twitter yang siap mengejar follower ketiga penulis yang sudah malang melintang di industri kepenulisan tersebut, yang terbilang banyak berdiri menjadi panitia wordisme, adalah Abdi Antara yang kerap dijumpai dengan user id @OmAbdi, lalu ada Chiko Handoyo Soe dengan user id @gembrit, yang saking banyak penggemarnya di dunia twitter, dia membuat sebuah hashtag khusus #chicoholics. Duo penyiar radio kondang yang juga banyak memiliki follower, Artasya Sudirman (@myArtasya) dan miund (@miund). Yang kemudian disusul dengan Rahne Putri (@rahneputri), Rifky Septiaji (@rseptiaji), dan @zarryhendrik yang kemunculannya bisa dijumpai di akhir acara. Dari beberapa nama tersebut ada yang mengambil peran sebagai panitia untuk sukses dan berjalannya wordisme. Twitter-an jalan, Wordisme juga harus tetap jalan.

Karena padatnya acara yang telah disusun. Membuat saya tak bisa mengabadikan photo bersama para pembicara. Sebenarnya bisa, tapi saya harus mengorbankan sedikit waktu awal pelatihan di tiap materi pelatihan jika ingin mengabadikan photo bersama para pembicara. Dan alhasil, karena ketidak-bisa-an saya berphoto dengan para pembicara, saya banting setir untuk mengabadikan photo bersama selebriti-selebriti twitter yang tersusun menjadi panitia wordisme. Daripada tak mengabadikannya sama sekali, khan terbilang sayang juga. Ilmu dapet, seneng-senengnya juga dapet :).


with Alberthiene Endah
with Chico Handoyo Soe (@gembrit)

with @OmAbdi , buat sahabat saya @praharanielok yang ngefans banget sama dia >.<

with Andris (@unbornsin), pakar semiotika di twitter :P

saya saya saya :))

And the last word...J’adore Wordisme
Memang bukan di Perancis hingga saya bisa berucap J’adore. Tapi di Indonesia yang mampu bercita rasa seperti Perancis. Cita rasa tinggi bak koleksi super mewah dari koleksi asli Haute Couture yang hanya bisa dijumpai di negeri yang katanya romantis. Namun, kali ini cita rasa tinggi dalam artian lain. Dalam artian lain yang dimaksud banyak ilmu yang bisa saya dapat, banyak pelajaran yang saya terima, keseriusan yang juga dibarengi dengan kesantaian yang menggembirakan. Menyenangkan dan mengenyangkan. Mungkin akan sedikit lebih romantis dan penuh perasaan daripada diucapkan kepada kekasih. J’adore. J’adore WORDISME. Terima kasih atas berjuta-juta ilmu menulis yang diberikan.... 

Persembahan grafis dari saya untuk WORDISME, selain dalam bentuk tulisan ini :)

Kamis, 24 November 2011

How I Dreaming Karimun Jawa

Bulan November,
boleh-boleh saja ketika koleksi fall/winter sedang gencar-gencarnya ditampilkan di panggung fashion show. Banyak coat kulit berwarna gelap pastel bertebaran, topi-topi manis berbahan bulu-bulu kelas tinggi. Karena mengingat, bulan November itu selalu identik dengan hujan dan kemudian disambung dengan musim salju yang menyambutnya di bulan Desember. Intinya bulan ini bumi sedang dilanda hawa yang sejuk, dingin, bahkan sampai beku. Namun, sedikit beruntung atau malah bersedih hati, Indonesia hanya mampu di datangi si musim hujan dan kemarau.  Kalau saya sih beruntung, merasa beruntung karena hujan dan kemarau yang datang sebenarnya adalah hal yang tidak banyak bisa dibedakan di Indonesia.

Musim hujan ketika saya memimpikan Karimun Jawa. Sebuah pulau kecil nan indah di sebelah utara Provinsi Jawa Tengah. Entah kenapa, saya begitu sangat mengidam-idamkan menginjakkan kaki saya di pulau kecil ini. Bermain-main dengan hamaparan luas laut birunya, yang mampu menyapu titik-titik pasir putih yang sempurna bercumbu dengan kaki maupun badan saya. Barangkali terinpspirasi dari video ini, namun sebenarnya tidak sepenuhnya benar karena memang setting tempat videonya bukan mengambil tempat di Karimun Jawa. Saya hanya mengimajinasikan hawa sejuk dan terik panas disana. Bermain-main bersama sahabat-sahabat saya di hamparan luas yang indah. Merupakan contoh dari beberapa surga duniawi yang bisa dinikmati.


Sama halnya seperti menunggu sebuah jawaban dari pertanyaan yang tak kunjung dijemput oleh jawaban itu sendiri. Entah kapan secuil keinginan traveling saya ke Karimun Jawa bisa ter-realisasikan. Mengingat semenjak kuliah lalu menyambi dengan kerja, hampir tak ada waktu libur yang panjang. Semoga cepat atau lambat bisa ter-realisasikan. Tentu saja tak ketinggalan bersama sahabat-sahabat terdekat :)).