CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

Twinkle Twinkle Little...

Kalau saja memang benar,
Kita berpijak di bumi di bawah langit yang sama
Apakah kau melihat,
Malam ini semburat hitam pekat terpatri indah di atas sana
Bulan membentuk tubuhnya menjadi bibir yang ujung-ujungnya tersungging ke atas
Sementara hamparan bintang membentuk gugusan rasi-rasi bintang yang aku tak tahu,
yang kutahu segalanya di atas sana indah
Picasso pasti kalah telak
Ki Joko Pekik sama halnya, Beliau tanpa segan mengangkat tangannya dengan sebilah kuas lukis yang terbuang dari salah satu sisi tangannya
Segala di atas sana seolah bergerak, 
Aku juga bergerak dari bawah dengan posisi kepala yang menengadah ke atas
Keindahan di atas sana mungkin saja juga meniupkan angin yang kemudian terbang ke bawah
Pergerakan ini membuatku berjalan ke arah maju
Pergerakan awan dengan sempurna bisa bersentuhan dengan ragaku yang bergerak maju
Kalau saja aku bisa meminta sesuatu hal yang begitu kecil,
Akankah zat seringan dan sekecil angin bisa meniup habis apa-apa saja yang ada di ragaku?
Hingga raga yang ditampilkan bulan malam ini,
Tak mustahil untuk diijinkan terpatri indah di bawah indera penciumanku. 

Minggu, 09 Oktober 2011

Bertemu Alejandro

Ku pikir diriku berada di Mexico
Jauh dari pelukan negeriku
Namun energi panas yang ditimbulkan matahari
Membuatku tersadar akan keberadaanku yang masih sama seperti semula
Mungkin panasnya sama halnya dengan panas di Mexico
Atau mungkin tidak
Entahlah
Yang terpenting aku tak harus berpetualang ke Mexico
Hanya sekedar untuk pelarian
Pelarian sejenak dari kekasihku yang semakin serupa dengan Ayahku
Kalau adanya seperti itu,
kenapa aku tak bermesraan saja dengan Ayahku
Cinta bukan perihal menyuruh dan disuruh
Cinta bukan penjahat yang ditahan polisi
Ibaratnya, kau mungkin jauh-jauh lari dari Mexico yang berupa sebuah negara imajinasi
Melakukan pelarian sama halnya denganku
Pelarian dari kekasihmu yang semakin serupa dengan Ibundamu
Luapan-luapan kata itu yang kau hembuskan padaku
Yang menyiratkan energi cinta yang bebas
Suatu hal yang tak pernah kujumpa
Tak mengenal kata sayang
Karena memang aku bukan kekasihmu
Aku hanya pelarian sejenak, dermaga tengah perjalanan untukmu menuju Mexico negara imajinasi
Dan kaupun serupa dengan kau menganggapku apa
Sebuah cinta yang tak akan bisa saling memiliki satu sama lain
Hanya sebuah pergumulan hewani di atas ranjang
Selebihnya,
hanya melingkar seperti lingkaran halo berwarna perak yang selalu ku simpan di koper
Nol besar, nol yang tak berarti apa-apa
Tak ada apa-apa
Aku bisa saja meninggalkanmu seenaknya saja
Kaupun sama halnya denganku
Tanpa mengenal nama kita satu sama lain
Aku dengan seenaknya menamaimu Alejandro
Dan kau menimpali dengan menamaiku Bella
Karena pikiranku hanya terpusat pada negara imajinasi Mexico
Yang mungkin terik matahari nya sangat panas
Melebihi hangat yang ingin kurasa
Panas yang telah kudapat dari sosok tiga dimensimu
Sampai bertemu lagi Alejandro

Yogyakarta, 10 Oktober 2011. (12.00)

Jumat, 07 Oktober 2011

Ucapan Yang Sempurna. Kejujuran Yang Tak Sempurna

Menjerang Malaikat Juga Tahu
Berandai dicintai sosok manusia dengan sosok dibawah umur yang abadi
Sesungguhnya sudah aqil baliq
Namun stimulasi otaknya hanya berkecamuk dengan mobil-mobilan
Hebat berbicara seni
Tak hebat berucap akademik
Hebat melakukan kegiatan di ranjang
Tak hebat melakukan cinta
Selayaknya tak perlu ada kompetisi
Selayaknya juga lah tak perlu memilih
Siapa yang menginginkan manusi kurang sempurna ?
Dibalik ucapan tentang sempurna,
kurang sempurna seharusnya lebih jujur
Itu yang berlaku di hukum realita
Menjerangnya sampai panas
Membiarkan sampai meletup
Dan yang dijumpa adalah kosong
Pasrah
Atau tak memilih, namun mencari sosok yang seimbang dengan penampakan diri ?

Yogyakarta, 5 Oktober 2011. (10.30)

Remahan Roti Buatanmu

Aku gemar menyantap roti 
Kaupun, juga gemar menyantap roti 
Untuk menyempurnakan asupan gizi, aku menambahkan gemar menyantap yogurt
Lagi-lagi aku menemukan kau juga gemar menyantap yogurt
Namun, lambat laun waktu menyempurnakan terbukanya sebuah rahasia
Kau ternyata gemar menyantap roti
Tapi gemar menyantap remahan roti
Kau ternyata gemar menyantap yogurt
Tapi, satu gelas kecil terbuat dari kertas berisi yogurt beku
Semuanya kurasa hanya kebetulan
Kebetulan untuk meyakinkan sebuah perbedaan
Waktu jua yang ternyata mengungkap bahwa keduanya adalah sebuah simbolisasi
Yang kemudian aku mengetahuinya sebagai simbolisasi bermakna
Remahan yang merupakan potongan-potongan tak beratur dari sebuah roti yang sempurna
Beku yang merupakan wujud pemadatan dari cair
Semuanya yang berawal dari satu kesatuan dari dua yang beda
Semuanya yang berawal berjalan dengan arus yg cukup lancar
Kalau saja ini adalah sebuah hidangan lezat yang siap kusantap
Meragu seperti ini pasti hanya akan membuatnya habis disantap kadaluwarsa
Terlalu lama
Aku lebih memilih membeli roti dan yogurt baru di supermarket langganan kita
Kalau yogurt beku mungkin akan bisa mencair
Namun, aku berani sangsi dirimu tak akan mau menyusun remahan-remahan roti itu
Pun kalau kau membeli roti sempurna,
kasihan roti itu
Akhirnya juga akan menjadi ceceran remahan tubuhnya
Sudah kegemaranmu membuat roti menjadi remahan-remahan
Selama masa berdua jadi satu
Kutak menahu sudah berapa roti yg kau remah
Suatu hari aku menemukannya 
Ternyata, hanya satu buah roti raksasa yang kau remah saat masa berdua menjadi satu
Aku lapar
Menyusunnya dari beberapa potong, lalu ke sepotong, sampai akhirnya menjadi sempurna
Lalu melahapnya
Hambar, pahit, asam, dan manis
Semuanya menguasai mulut-ku
Roti ini yang paling lezat yang pernah kusantap
Yang pada akhirnya aku tak menjumpai wujud roti itu lagi
Sudah kulahap habis
Aku bagai terlahir kembali
Sudah, sana pergi
Aku tak mau membagi roti berbentuk hati yang sudah kulahap ini bersamamu
Untuk apa kalau pada akhirnya kau membuatnya menjadi remahan
Cari saja orang yang mau berbagi roti denganmu
Lebih baik, carilah yang gemar melahap remahan roti sama sepertimu
Serta yogurt beku untuk kesempurnaan


Yogyakarta, 07 Oktober 2011 (18.30)

Ratu Disko, yang Katanya Bagai Jalang


Bagi sebagian orang,
cahaya bulan yg digantikan lampu disko yang berpendar itu tak semestinya
Entahlah,
bersumber dari hati yg iri berkecamuk manja
Atau kacamatanya memang tak cocok bergumul dengan lampu disko
Namun, seharusnya bersyukur
Tuhan masih mengalirkan kepadanya kehidupan sampai di tahun 2011
Yang seharusnya 2011 telah menggeser lampu disko menjadi alternatif lain utk menikmati cahaya temaram di malam hari
Maria tak bercela itu hanya satu
Setauku sampai tahun 2011 aku masih mendengar cerita itu dari cerita kristiani
Pun kalau aku boleh jujur
Kebenaran Maria tak bercela belum bisa kupastikan sempurna
Hanya kudengar dari cerita yang bisa ditambah & dikurang
Aku hanya ingin sedikit ber-realita
Bersanding disamping Sid Vicious itu lebih baik
Tak perlu bersusah payah menambahkan make up tebal bagai topeng
Lebih mudah diterima oleh akal
Tak perlu menjadi reinkarnasi Maria suci tak bercela
Kalaupun bicara tentang Maria
Lady GaGa pernah membuatnya bersanding dengan Judas
Aku tahu itu sosok Maria yang lain
Tapi masih tetap dalam kotak suci kristiani
Kau merasa suci
Aku tidak suci
Itu berlaku jika aku mengiyakan pandangan kacamatamu terhadapku
Pagi datang menjelang
Lampu disko beristirahat
Aku berani bersangsi, dirimu tak akan menjemput isitirahat
Hanya mengintai bagai pengintai
Pengintai sendu dari belakang
Aku pulang
Meninggalkan pesan pada jalang
Mana yang lebih hina, ratu jalang atau ratu disko?
Tak ada yang hina
Kita ada karena Tuhan
Memang salah menikmati apa yang kita punyai dan maui?
Menggerutu
Daripada menjadi penggerutu
Yang tak pernah lelah menjadi korban pergumulan dengan hati iri yang berkecamuk
Yang tak pernah lelah mengintai apa yg bisa dilakukan sekelilingnya
Ataukah sebenarnya dia tak bisa apa-apa?

Yogyakarta, 07 Oktober 2011. (20.00)
(Untuk sahabat yang bukan jalang. Dia hanya Ratu Disko. Praharani Elok)

Ular Ereksi, Buaya Darat, Raja Singa

Teman saya punya peliharaan dua buah ekor landak mini
Jangan salah, 
saya sendiri juga punya peliharaan
Peliharaan pertama saya ular mini
Sewaktu-waktu dia bisa berubah bentuk menjadi besar
Bahkan tak jarang dirinya bisa memuntahkan bisa
Bisa dengan warna putih gading
Entahlah, sebelumnya aku tak pernah tahu rupa wajah bisa
Hewan peliharaanku yang kedua adalah sebuah Buaya
Buaya darat
Bukan buaya mini
Dia bukan hewan amfibi
Dia hanya berani bereksistensi di daratan
Jika dilempar di air 
Dia bagai tak bernyawa
Tak akan kujumpai dirinya mengumbar pesona
Buaya darat yang malang
Yang ketiga aku memelihara seekor Singa
Raja Singa
Merupakan pemimpin dari segala jenis hewan
Sangat berkuasa
Tapi ternyata kemalangan juga menimpa dia
Kekuasaannya hanya sebagai penutup kekurangan yg di derita-nya
Sebuah penyakit sebagai kekurangannya
Mungkin aku juga termasuk malang, 
memelihara mereka sama halnya tak bisa menikmati 24 jam tiap hariku
Dan pada suatu hari, 
aku memutuskan untuk beranjak
Beranjak dari kehidupan ketiga hewan peliharaanku
Semestinya makhluk hidup yg telah dewasa
Sejatinya mereka bisa hidup sendiri
Tanpa aku harus memelhara-nya
Tanpa perlu harus main kucing-kucingan untuk kabur
Kabur dengan tangan terbuka
Mereka juga terbuka melepasku beranjak dari mereka


Yogyakarta, 04 Oktober 2011. (19,00)

Perang Meledak Ongkang-ongkang Kaki

Ongkang-ongkang kaki
Buka tutup 
Panas 
Gerah 
Berharap angin masuk 
Tpi apa daya si angin sdh di usir terlebih dahulu 
Berencana memanggilnya kembali
Pasti si angin kembali 
Akan membuat ongkang-ongkang kaki menjadi lebih lebar
Tapi bersyarat 
Sudah menahu bersyarat seperti apa
Bagai torpedo masuk ke gua 
Sembunyi dalam gelapnya
Butuh waktu sebelum meledak
Meledak 
DHAR DHAR DHAR DHAR 
Barulah si angin pergi menjamah
Memasuki ongkang-ongkang kaki 
Pergi
Lalu disapanya jika perlu angin lagi


Yogyakarta, 5 Oktober 2011. (13.00)

Gigolo Berkelamin Ganda


Kedua kakinya terbuka
Dengan sempurna menyiratkan posisi mekangkang
Terkadang, dia berdiri pasrah
Dengan seonggok tubuh yang disangga dengan dua kaki terlipat
Di depan dirinya berdiri
Menggenjot dengan awalan perlahan
Namun, alur pun berjalan
Menggenjot mulai mengenal percepatan
Dihisap,
Bagai meniup terompet
Dengan hasil nada monokrom
Itu itu saja, uh ah uh ah
Dirinya mengenal dua dunia
Bagai makhluk amfibi
Buaya, katak
Bermaksud agar lebih mudah untuk menjalani hidup
Hidup satu dunia itu hambar
Kalau bisa dua, kenapa harus satu
Banyak pilihan
Dia menginginkan warna warni
Dunia seharusnya bukan terpaku seperti cerita dongeng
Yang hanya mengenal tokoh putri dan raja
Cerita dongeng tidak mengenal waktu dan kondisi
Pun di realita, tidak hanya mengenal pagi dan malam
Masih ada sore
Sore dengan senjanya yang indah
Yang dirinya petik hanyalah keindahan dan mimpi dari cerita dongeng
Tak ingin hidup berangan-angan tentang cerita sebuah dongeng
Selanjutnya,
dirinya mengaplikasikan keindahan dan mimpi itu dalam dunia nyata
Dunia pun lebih berwarna
Tak sepenuhnya seperti cerita dongeng
Tak sepenuhnya seperti realita
Imajinasi fantasi yang ber realita
Hidup di dua dunia
Dirinya sangat menikmati sekali keindahan dan mimpi
Sebagaimana mekangkang dan ditiup
Dua dunia dalam satu dunia
Dia tak menginginkan menamai dirinya sendiri apa
Agar bebas
Agar keindahan dan mimpi itu selalu terpancar
Yang dia tahu dan dengar,
banyak kepala-kepala menamainya Gigolo berkelamin ganda
Ganda itu dua khan ?
Sangat cocok dengan dua dunia yang berkecamuk di binanya

Yogyakarta, 3 Oktober 2011 (11.15)

Minggu, 02 Oktober 2011

Nasi Rames Dalam Isi Sebuah Tas Birkin

Bagi mereka,
mereka yang tidak teridentifikasi
Gucci harus bersanding dengan Dori Oat Fillet
Bukan Louis Vuitton yang bersanding dengan nasi rames
Sebuah proyeksi dari pencitraan yang menggebu
Terangnya abadi berpendar
Meredup,
tatkala mengantri nasi rames lebih nikmat daripada mengantri tas Birkin
Nasi rames memasuki arena peragaan busana di Milan
Bingung merasuki dengan pelan
Pencitraan & kapasitas diri yang nyata unjuk kebolehan
Tiada yang menang
Tiada pemenang
Pilihannya tertuju pada tas birkin yang berisi nasi rames
Lapisan kulit khas bersama aroma khas menguasai
Sampai pada akhir peragaan busana
Dia berujar dalam hati,
"Sejatinya. Sudah seharusnyakah menghilangkan jati diri hanya untuk sebuah pencitraan?"

Yogyakarta, 01 Oktober 2011 (13.00)
(Paduan nasi rames, bersama formasi Cory Monteith, Lea Michele berbusana panas, dan Diana Agron di halaman muka Gentlemen's Quarterly).

Penjilat Dubur Busuk Bukan Omnivora

Menjilat sesuatu itu seharusnya menjilat kenikmatan
Apakah sebuah perkecualian?
Saat aku menjilat,
aku merasakan dan membaui aroma dubur
Baunya busuk
Lebih busuk dari feses yang dimuntahkannya
Apakah sebuah perkecualian?
Ketika aku tetap menjilat kenikmatannya?
Selang kemudian,
anyir menguasai mulutku
Berbaur bersama aroma dubur
Menyatu membentuk substansi campuran tak terdefinisi
Mual mendesak diantara celah dubur dan anyir
Aku menyerah
Menyudahi petualanganku untuk menjilat
Kalah
Ini asing,
aku bagai terasing
Tak biasa
Maaf, aku tak bisa menjilat lagi
Aku bukan kelompok omnivora pemakan segalanya
Aku mungkin seorang pemilih
Sekali lagi maaf,
aku bukan penjilat segalanya
Bukan penjilat segalanya yang hanya untuk sebuah kenikmatan untuk diriku
Maaf

Yogyakarta, 02 Oktober 2011 (15.15)

Bad Romance

Aku mencintainya bagai Tuhanku
Aku menginginkannya, karena dia bukan hanya sosok imajiner dari sebuah mitos realistis belaka
Memang benar,
Kata orang dirinya juga termasuk kelompok hasil imajiner
Tapi persetan apa kata orang
Sosoknya lebih menggelitik daripada hanya sekedar komentar hasil keberadaannya
Aku menginginkan apapun darinya
Dari hal terbaik sampai terburuk
Aku kesetanan
Menginginkannya bagai kerasukan setan
Yang pada akhirnya,
akulah setan itu sendiri
Tak terkontrol
Dirinya menyinari
Wujudnya bagai sosok matahari
Aku akan rela berpayungkan matahari, walau harus melepuh tanpa sisa
Hingga pada akhirnya,
apakah aku sosok yang juga diinginkannya?
Sosok terpilih dari orang-orang bertopeng yang menusuknya dari belakang
Orang-orang bertopeng yang juga diam-diam menggilainya
Dasar palsu
Aku lebih menginginkannya daripada kalian orang-orang dengan wajah bertopeng


Yogyakarta, 02 Oktober 2011 (16.15)

Minggu, 18 September 2011

Jawaban Dari Sebuah Coklat


Satu batang coklat
Berbadan coklat pekat
Tiba di saat malam pekat
Sedikit terlambat
Bukan tak mungkin untuk dilumat

Kabarnya membuat mabuk
Namun malah menahan kantuk
Jelasanya memang membuat mabuk
Mabuk
Mabuk
Mabuk
Tanpa bertanggung jawab, si pemberi telah membuat mabuk
Hingga pada akhirnya suntuk
Lebih dari sekedar kantuk
Akhirnya terbaring karena kantuk

Coklat ini seperti berjiwa
Entah kenapa memabukkan
Lepaskan pikiran dari kungkungan bahan pembuatnya
Mengencang imaji lekat seperti coklat
Mungkin bagai ramuan
Namun itu terlalu kejam, karena mungkin kau tidak kejam
Atau mungkin memang kejam ?
Karena imaji yang sedang  lekat adalah sesuatu lampau
Tapi musim lampau seperti itu sudah berlalu
Eksistensi-nya sudah pudar
Diikuti sesuatu lain yang ikut pudar
Namun tak bisa sempurna pudar


Apakah coklat ini adalah sebuah pertanyaan ?
Tentu butuh sebuah jawaban
Tapi siapa yang harus menguliknya ?
Karena sejatinya tak menahu kalau coklat adalah sebuah pertanyaan yang butuh jawaban
Karena sejatinya hanya tahu kalau coklat hanya sebuah makanan
Mungkin ini perkecualian,
Karena ini coklat yang memabukkan
Apakah berangkat dari situlah coklat ini pertanyaan yang butuh jawaban ?

Permukaan berlekuk yang manis
Isi yang asam meninggalkan yang manis
Seperti bermain-main di masa lampau
Korelasi yang cukup memaksa dengan perjalanan lampau dengan awal yang manis dan akhir yang asam
Ataukah itu korelasi yang memang ada dengan apa adanya ?
Sudah terpatri disana namun tak menahu untuk diketahui

Habis
Separuhnya telah habis
Separuhnya sudah terlumat oleh mulut yang masih sama
Mulut yang masih sama pun akhirnya menemukan jawaban
Jawaban atas sebuah pertanyaan yang seharusnya bukan sebuah pertanyaan yang butuh jawaban
Karena memang kondisinya kabur, samar-samar
Mulut yang sama hanya sebuah media
Sejujurnya, sebatang coklat hitam pekat yang dibawa di malam pekat yang sedikit terlambat sendiri yang menjawab pertanyaan yang bukan sebuah pertanyaan yang butuh jawaban itu

Yogyakarta. Genap satu tahun. Sudahlah.

***

Mungkin saja jawaban-nya ini  => http://www.youtube.com/watch?v=HhV3spXg9Xc , tanpa tahu arti sempurna-nya seperti apa. Karena memang tak pandai berbahasa Jepang J

Minggu, 28 Agustus 2011

beloved

menjadi yang dicintai
menjadi diri sendiri yang akan sedikit demi terkikis
menjadi diri sendiri yang konstan
jika menjadi yang dicintai tanpa mengharap sebuah akhir

menjadi yang dicintai
menjadi terbahagia di bawah terangnya awan
menjadi tersedih di bawah pekatnya malam

menjadi yang dicintai
menjadi memberikan seonggok daging penuh darah dan peluh
menjadi memberikan kebahagiaan dan kenestapaan
menjadi tanpa tersisa seiring habisnya waktu dicintai

menjadi yang dicintai
menjadi merampas dengan paksa sisi lain yang tersembunyi
menjadi merampas dengan paksa sisi lain yang sudah terpatri

menjadi yang dicintai
menjadi kebahagiaan yang hakiki tanpa terputus
tanpa keterbatasan waktu
menjadi kesedihan yang hakiki tanpa teputus
tanpa keterbatasn waktu

menjadi yang dicintai
menjadi peluh yang berarti
menjadi peluh yang menyakitkan
menjadi sosok tak tertandingi
menjadi sosok terkalahkan

menjadi yang dicintai
menjadi diam
menjadi bertanya-tanya
hingga semuanya diungkap dan dicintai oleh waktu

Jumat, 19 Agustus 2011

Tak Seharusnya...

Tak Seharusnya..
Aku berdiri disini menanti apa yang aku nanti
Karena yang kunanti tak seharusnya ku nanti

Tak Seharusnya..
Aku menatap sesuatu yang ingin aku tatap
Karena yang ku tatap tak seharusnya ku tatapi

Tak Seharusnya..
Aku mengenal sesuatu yang ingin aku kenal
Karena yang ingin ku kenal tak seharusnya harus ingin ku kenal

Tak Seharusnya..
Aku mempertanyakan ini
Karena sejujurnya tak seharusnya sendiri adalah tak terduga

Saat raga ini belum menyatu dengan sempurna
Padahal ku yakin kesempurnaan itu sudah menyatu
Saat hati ini belum menyatu dengan sebuah kekuatan
Padahal ku yakin kekuatan itu sudah di dalam hati
Dan padahal ku yakin..
Kalau..
Tak Seharusnya seperti itu..

Dalam kebimbangan hakiki
Dalam kesukaran stimulasi otak untuk bergerak sempurna yang hakiki
Dalam ketidak berdayaan hakiki yang tiba-tiba menyerang
Semua itu juga tak seharusnya seperti itu...

Tak Seharusnya...
Datang seperti cinta itu sendiri
Terkadang seperti asal usul ayam atau telur

Tak Seharusnya..
Sebagamaina aku bisa mengarsiteki sebuah tameng besi tahan peluru
Yang tak termakan waktu karena keabadian
Tapi itu pun tak seharusnya terjadi

Tak Seharusnya..
Adalah sebuah pertanyaan
Adalah sebuah jawaban
Adalah sebuah antologi kesedihan dan kegembiraan
Adalah sebuah kesatuan tawa dan tangis
Adalah serangan pelindung yang perlu di proses otak masak-masak..

Yogyakarta, 19 Agustus 2011 (TZ)

Dan mantra hebat Walt Disney-pun mampu menyerang saya. Kalah telak dipihak saya. Walaupun beribadah selama tiga puluh hari ini seharusnya bisa menyerang balik mantra ilusional berupa kepolosan awal kehidupan manusia.

Jumat, 12 Agustus 2011

Where is The Love ?...

Adalah sesungguhnya bukan sebuah tanya yang terbalas dengan jawaban

Dimanakah cinta ?
Adalah bukan diri yang berusaha mencerna proses dimana
Adalah waktu yang bergerak
Berproses
Hingga berakhir
Dengan tanda tanya
Kapan pastinya waktu bisa menjawab

Dimanakah cinta ?
Adalah mengambil
Mengambil kekuatan
Kekuatan terkuat pada jiwa dan raga
Sehingga letak sebuah cinta tak bisa terendus

Dimanakah cinta ?
Adalah sebuah bendera merah putih berkibar
Tepat di masa silam
Saat kebebasan baru berumur jagung
Yang bergumul dengan negara

Dimanakah cinta ?
Adalah bukan makhluk bernyawa
Terpaksa bernyawa
Seperti manusia
Yang saling berlomba siapa yang paling bernyawa

Dimanakah cinta ?
Adalah ?
Waktu yang berproses
Menyimpan kekuatan diri
Proyeksi positif hasil percintaan positif dengan kebebasan
...

Dimanakah cinta ?
Seperti manusia
Akan berlanjut dengan kemana
Kapan
Kenapa
dan satu-satu kemunculan kata tanya lain

Dimanakah cinta ?
Adalah berharap mendulang emas
Berharap
Hanya berharap
Mengeruk bentuk lain tanah pada diri sendiri
Berharap mendulang emas
Berharap pada sebuah hamparan tanah
Mengeruk tanah
Di hamparan tanah peristirahatan terakhir makhluk Tuhan paling sempurna

Yogyakarta, 13 Agustus 2011 (TZ)

note : terima kasih buat teman-teman yang sudah menyumbang sedikit buah pikiran-nya atas pertanyaan kecil yang terkadang tak bisa terdefinisikan jawaban-nya dengam sempurna ini :).

Minggu, 09 Januari 2011

a Little..


In a cold night on a little terrible sunday
With the little bestie,
a Little cup of Latte and a little cigarette.


Sitting on the little coffee shop
Bought a little body
a little emptiness of mind (maybe a hearts too)


Oh,my big God
Why i miss my little hero :(
Why i miss my little old oxford shoes :(
Why i act like a little Julian Kaye :(
....
..
.

Senin, 03 Januari 2011

Last or Nothing



Surabaya, 31 Desember 2010

Yah, memang bukan di Jogja wahai sang mantan.


Dini hari ini. Disaat waktu hidup untuk tahun 2010 sudah berakhir. Dini hari ini, aku banyak melihat letupan keras kembang api di atas awan gelap. Tidak hanya satu kembang api, banyak kembang api yang bisa kulihat dengan jelas. Warna-nya cukup beragam. Terbesit di pikiranku, tahun ini banyak sekali kejadian-kejadian yang beragam pula yang kauberikan. Entah itu senang, entah itu sedih.


Hampir sekali kita beranjak di usia 2 tahun hubungan kita. Tapi itu semua harus berakhir ketika tahun 2010 menyisakan 4 bulan terakhirnya.


Apakah aku susah menerimanya ?.
Pada awalnya teramat susah sekali. Namun karena segala sesuatu memiliki proses, awal yang susah-pun kini menghasilkan kesanggupan-ku untuk menerima semuanya.


Apakah aku ikhlas ?.
Pada awalnya aku teramat sangat tidak ikhlas. Seakan-akan hanya dirimu yang ada dunia ini sehingga membuatku lemah. Dan namun karena ini merupakan suatu proses. Awal yang susah-pun kini dapat menghasilkan keikhlasan juga.


Manusia cepat berubah yah, Sang Mantan. Tidak hanya kau. Dan tidak hanya aku. Aku menjadi sangat mudah untuk menerima dan mengikhlas-kan semua-nya.


Sepintas memang sering kujumpai siluet transparan dirimu di dalam otak-ku. Tapi sepintas itu juga aku mati-matian menghapus semua itu. Segala-nya memang susah buatku pada awal-nya.


Dan..
Bukankah kau tidak cukup mudah juga menghapus kebimbangan pada dirimu saat ini, Sang Mantan ?


Di dini hari ini. Aku hanya melihat awan hitam pekat di langit. Cukup menyedihkan. Tapi untung-nya para kembang api bergantian meletup diatas langit. Mereka tak pernah secara bersamaan untuk meletup.


Dan dipikiranku terbesit lagi,
Ini kah yang kau ingin-kan, atau mungkin yang aku inginkan, dan atau kemungkinan yang lain adalah yang hubungan kita inginkan ?. Aku tak pernah menyalahkan dirimu, atau mungkin menyalahkan diriku sendiri, dan atau mungkin juga menyalahkan hubungan kita.


Ketika kita saling berjalan sendiri-sendiri menghadapi kehidupan masing-masing. Tanpa tau lagi bagaimana kau disana dan aku disini. Dan...
Hanya sebuah barisan kata-kata di Blackberry Mesengger yang menyusun kalimat..


"Terima Kasih sudah hadir dihidupku"
Yang hanya kubalas dengan ucapan "sama-sama, yah"


Sepertinya sudah cukup yah, Sang Mantan ?. Ataukah memang sudah cukup hanya begitu saja ?.
Oh, Maaf. Aku mulai terkesan ingin dikasihani lagi. Tapi bukan-kah kau hanya luluh dengan orang yang dikasihani ?. Sebagaimana sifat pahlawan-mu yang lebih tepat bila kusebut "Pahlawan Kesiangan" ?.
Tapi maaf, Sang Mantan. Aku sudah bukan tokoh lelaki kecil yang ditolong oleh pahlawan-nya lagi. Karena aku ternyata bisa menolong diri-ku sendiri dari semua hal (yang katamu) realita hidup ini. Jujur aku masih bingung melihat hidup dari kacamata minus-mu. Dan aku merasa lebih baik melihat itu semua dengan kacamata minus dengan frame super tebal milikku sendiri.


Aku sangat yakin sekali, dalam otak-mu masih tertanam bahwa Aku selalu menyalahkan-mu atas semua hal ini ?.
Aku mungkin hanya akan terdiam. Bermain-mainlah dengan puas di area bermain pikiran-mu sendiri, Sang Mantan. Karena kau sepertinya lebih asyik bermain-main di pikiran-mu sendiri. Sudah cukup-lah. Sudah cukup bermain salah menyalahkan. Ini salah kita berdua. Ini salah egoisme kita berdua. Semua memang bisa diperbaiki. Tapi karena kau benar-benar tak yakin akan hal itu. Aku hanya berkata "TERSERAH" dengan pasrah dalam hati.


Kau pernah bilang selama ini, dibalik hubungan kita. Kau ingin membelajari-ku sebuah kemandiri-an dan kedewasaan. Terkesan memaksa memang apa yang kau lakukan. Semuanya sama persis menurut apa yang kacamata-mu lihat. Sampai-sampai kau lupa kalau aku punya hidup sendiri yang menurutmu salah. Tapi selamat, pembelajaran-mu cukup bereaksi padaku sekarang. Tetapi maaf, semua ini aku jalani sesuai apa yang aku mau.


Mungkin aku sudah bisa mandiri. Mungkin aku sudah bisa menjadi dewasa. Mungkin aku akan memperlakukan cinta dengan sangat kejam. Karena ini memang ke"move on"an yang aku jalani. Dan mungkin bisa membuat aku senang.


Terkesan aneh kah ?. Yah, memang. Teman-temanku juga berkata seperti itu. Karena hubungan kita sudah melawan mainstream. Dan tidak ada salah-nya khan aku mencoba cara untuk Moving On dengan cara yang melawan mainstream juga ?.


Satu yang kuingat lagi. Apakah kau masih akan menyalahkan prasangka ?. Apakah kau masih akan membiarkan orang menerka-nerka apa yang kau lakukan ?. Apa yang kau perbuat seolah-olah tak bisa melawan prasangka, Sang Mantan. Dan apa yang kau perbuat-pun tak bisa melawan terkaan orang atas apa yang kau lakukan.


Semoga kita sama baik-nya dimanapun kita berada, Yah. AKU MASIH TAK TAU LAGI BERBUAT APA.


Domou Arigatou Gozaimasu,

Selasa, 12 Oktober 2010

L.O.V.E

Apakah seperti memakai manolo yang kekecilan ?..

Apakah seperti membeli tas louis vuitton yang selama ini kau idam-idamkan ?..

Apakah akan membuat kita merasa seperti dirumah ?..

Saya seperti tidak pernah menyadarinya selama 21 tahun berkembang, mungkin terlalu naif. Karena orang-orang terdekat saya selalu bilang kalau secara tidak sadar kita menemuinya bahkan merasakannya..