CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 07 Oktober 2011

Ratu Disko, yang Katanya Bagai Jalang


Bagi sebagian orang,
cahaya bulan yg digantikan lampu disko yang berpendar itu tak semestinya
Entahlah,
bersumber dari hati yg iri berkecamuk manja
Atau kacamatanya memang tak cocok bergumul dengan lampu disko
Namun, seharusnya bersyukur
Tuhan masih mengalirkan kepadanya kehidupan sampai di tahun 2011
Yang seharusnya 2011 telah menggeser lampu disko menjadi alternatif lain utk menikmati cahaya temaram di malam hari
Maria tak bercela itu hanya satu
Setauku sampai tahun 2011 aku masih mendengar cerita itu dari cerita kristiani
Pun kalau aku boleh jujur
Kebenaran Maria tak bercela belum bisa kupastikan sempurna
Hanya kudengar dari cerita yang bisa ditambah & dikurang
Aku hanya ingin sedikit ber-realita
Bersanding disamping Sid Vicious itu lebih baik
Tak perlu bersusah payah menambahkan make up tebal bagai topeng
Lebih mudah diterima oleh akal
Tak perlu menjadi reinkarnasi Maria suci tak bercela
Kalaupun bicara tentang Maria
Lady GaGa pernah membuatnya bersanding dengan Judas
Aku tahu itu sosok Maria yang lain
Tapi masih tetap dalam kotak suci kristiani
Kau merasa suci
Aku tidak suci
Itu berlaku jika aku mengiyakan pandangan kacamatamu terhadapku
Pagi datang menjelang
Lampu disko beristirahat
Aku berani bersangsi, dirimu tak akan menjemput isitirahat
Hanya mengintai bagai pengintai
Pengintai sendu dari belakang
Aku pulang
Meninggalkan pesan pada jalang
Mana yang lebih hina, ratu jalang atau ratu disko?
Tak ada yang hina
Kita ada karena Tuhan
Memang salah menikmati apa yang kita punyai dan maui?
Menggerutu
Daripada menjadi penggerutu
Yang tak pernah lelah menjadi korban pergumulan dengan hati iri yang berkecamuk
Yang tak pernah lelah mengintai apa yg bisa dilakukan sekelilingnya
Ataukah sebenarnya dia tak bisa apa-apa?

Yogyakarta, 07 Oktober 2011. (20.00)
(Untuk sahabat yang bukan jalang. Dia hanya Ratu Disko. Praharani Elok)

Ular Ereksi, Buaya Darat, Raja Singa

Teman saya punya peliharaan dua buah ekor landak mini
Jangan salah, 
saya sendiri juga punya peliharaan
Peliharaan pertama saya ular mini
Sewaktu-waktu dia bisa berubah bentuk menjadi besar
Bahkan tak jarang dirinya bisa memuntahkan bisa
Bisa dengan warna putih gading
Entahlah, sebelumnya aku tak pernah tahu rupa wajah bisa
Hewan peliharaanku yang kedua adalah sebuah Buaya
Buaya darat
Bukan buaya mini
Dia bukan hewan amfibi
Dia hanya berani bereksistensi di daratan
Jika dilempar di air 
Dia bagai tak bernyawa
Tak akan kujumpai dirinya mengumbar pesona
Buaya darat yang malang
Yang ketiga aku memelihara seekor Singa
Raja Singa
Merupakan pemimpin dari segala jenis hewan
Sangat berkuasa
Tapi ternyata kemalangan juga menimpa dia
Kekuasaannya hanya sebagai penutup kekurangan yg di derita-nya
Sebuah penyakit sebagai kekurangannya
Mungkin aku juga termasuk malang, 
memelihara mereka sama halnya tak bisa menikmati 24 jam tiap hariku
Dan pada suatu hari, 
aku memutuskan untuk beranjak
Beranjak dari kehidupan ketiga hewan peliharaanku
Semestinya makhluk hidup yg telah dewasa
Sejatinya mereka bisa hidup sendiri
Tanpa aku harus memelhara-nya
Tanpa perlu harus main kucing-kucingan untuk kabur
Kabur dengan tangan terbuka
Mereka juga terbuka melepasku beranjak dari mereka


Yogyakarta, 04 Oktober 2011. (19,00)

Perang Meledak Ongkang-ongkang Kaki

Ongkang-ongkang kaki
Buka tutup 
Panas 
Gerah 
Berharap angin masuk 
Tpi apa daya si angin sdh di usir terlebih dahulu 
Berencana memanggilnya kembali
Pasti si angin kembali 
Akan membuat ongkang-ongkang kaki menjadi lebih lebar
Tapi bersyarat 
Sudah menahu bersyarat seperti apa
Bagai torpedo masuk ke gua 
Sembunyi dalam gelapnya
Butuh waktu sebelum meledak
Meledak 
DHAR DHAR DHAR DHAR 
Barulah si angin pergi menjamah
Memasuki ongkang-ongkang kaki 
Pergi
Lalu disapanya jika perlu angin lagi


Yogyakarta, 5 Oktober 2011. (13.00)

Gigolo Berkelamin Ganda


Kedua kakinya terbuka
Dengan sempurna menyiratkan posisi mekangkang
Terkadang, dia berdiri pasrah
Dengan seonggok tubuh yang disangga dengan dua kaki terlipat
Di depan dirinya berdiri
Menggenjot dengan awalan perlahan
Namun, alur pun berjalan
Menggenjot mulai mengenal percepatan
Dihisap,
Bagai meniup terompet
Dengan hasil nada monokrom
Itu itu saja, uh ah uh ah
Dirinya mengenal dua dunia
Bagai makhluk amfibi
Buaya, katak
Bermaksud agar lebih mudah untuk menjalani hidup
Hidup satu dunia itu hambar
Kalau bisa dua, kenapa harus satu
Banyak pilihan
Dia menginginkan warna warni
Dunia seharusnya bukan terpaku seperti cerita dongeng
Yang hanya mengenal tokoh putri dan raja
Cerita dongeng tidak mengenal waktu dan kondisi
Pun di realita, tidak hanya mengenal pagi dan malam
Masih ada sore
Sore dengan senjanya yang indah
Yang dirinya petik hanyalah keindahan dan mimpi dari cerita dongeng
Tak ingin hidup berangan-angan tentang cerita sebuah dongeng
Selanjutnya,
dirinya mengaplikasikan keindahan dan mimpi itu dalam dunia nyata
Dunia pun lebih berwarna
Tak sepenuhnya seperti cerita dongeng
Tak sepenuhnya seperti realita
Imajinasi fantasi yang ber realita
Hidup di dua dunia
Dirinya sangat menikmati sekali keindahan dan mimpi
Sebagaimana mekangkang dan ditiup
Dua dunia dalam satu dunia
Dia tak menginginkan menamai dirinya sendiri apa
Agar bebas
Agar keindahan dan mimpi itu selalu terpancar
Yang dia tahu dan dengar,
banyak kepala-kepala menamainya Gigolo berkelamin ganda
Ganda itu dua khan ?
Sangat cocok dengan dua dunia yang berkecamuk di binanya

Yogyakarta, 3 Oktober 2011 (11.15)

Minggu, 02 Oktober 2011

Nasi Rames Dalam Isi Sebuah Tas Birkin

Bagi mereka,
mereka yang tidak teridentifikasi
Gucci harus bersanding dengan Dori Oat Fillet
Bukan Louis Vuitton yang bersanding dengan nasi rames
Sebuah proyeksi dari pencitraan yang menggebu
Terangnya abadi berpendar
Meredup,
tatkala mengantri nasi rames lebih nikmat daripada mengantri tas Birkin
Nasi rames memasuki arena peragaan busana di Milan
Bingung merasuki dengan pelan
Pencitraan & kapasitas diri yang nyata unjuk kebolehan
Tiada yang menang
Tiada pemenang
Pilihannya tertuju pada tas birkin yang berisi nasi rames
Lapisan kulit khas bersama aroma khas menguasai
Sampai pada akhir peragaan busana
Dia berujar dalam hati,
"Sejatinya. Sudah seharusnyakah menghilangkan jati diri hanya untuk sebuah pencitraan?"

Yogyakarta, 01 Oktober 2011 (13.00)
(Paduan nasi rames, bersama formasi Cory Monteith, Lea Michele berbusana panas, dan Diana Agron di halaman muka Gentlemen's Quarterly).

Penjilat Dubur Busuk Bukan Omnivora

Menjilat sesuatu itu seharusnya menjilat kenikmatan
Apakah sebuah perkecualian?
Saat aku menjilat,
aku merasakan dan membaui aroma dubur
Baunya busuk
Lebih busuk dari feses yang dimuntahkannya
Apakah sebuah perkecualian?
Ketika aku tetap menjilat kenikmatannya?
Selang kemudian,
anyir menguasai mulutku
Berbaur bersama aroma dubur
Menyatu membentuk substansi campuran tak terdefinisi
Mual mendesak diantara celah dubur dan anyir
Aku menyerah
Menyudahi petualanganku untuk menjilat
Kalah
Ini asing,
aku bagai terasing
Tak biasa
Maaf, aku tak bisa menjilat lagi
Aku bukan kelompok omnivora pemakan segalanya
Aku mungkin seorang pemilih
Sekali lagi maaf,
aku bukan penjilat segalanya
Bukan penjilat segalanya yang hanya untuk sebuah kenikmatan untuk diriku
Maaf

Yogyakarta, 02 Oktober 2011 (15.15)

Bad Romance

Aku mencintainya bagai Tuhanku
Aku menginginkannya, karena dia bukan hanya sosok imajiner dari sebuah mitos realistis belaka
Memang benar,
Kata orang dirinya juga termasuk kelompok hasil imajiner
Tapi persetan apa kata orang
Sosoknya lebih menggelitik daripada hanya sekedar komentar hasil keberadaannya
Aku menginginkan apapun darinya
Dari hal terbaik sampai terburuk
Aku kesetanan
Menginginkannya bagai kerasukan setan
Yang pada akhirnya,
akulah setan itu sendiri
Tak terkontrol
Dirinya menyinari
Wujudnya bagai sosok matahari
Aku akan rela berpayungkan matahari, walau harus melepuh tanpa sisa
Hingga pada akhirnya,
apakah aku sosok yang juga diinginkannya?
Sosok terpilih dari orang-orang bertopeng yang menusuknya dari belakang
Orang-orang bertopeng yang juga diam-diam menggilainya
Dasar palsu
Aku lebih menginginkannya daripada kalian orang-orang dengan wajah bertopeng


Yogyakarta, 02 Oktober 2011 (16.15)