Entah, sejujurnya saya sudah habis berkata-kata.
Baru saja beberapa jam yang lalu saya menjemput passion dan mimpi saya untuk bisa datang di Fashion Week. Tiket sudah ditangan.
Dan, di hari yang sama. Dengan kondisi keadaan yang berbeda tentunya. Siang yang datang dengan sedikit mendung di awan. Passion saya yang lain menghampiri saya. Adalah menulis. Sebuah workshop menulis gratis yang dilansir oleh novelis terkenal, Albethiene Endah. Awalnya saya sempat deg-degan nggak diterima. Yah, gimana nggak deg-degan karena beliau hanya memilih 400 orang untuk mengikuti workshop ini. Dan ternyata, alhamdulillah saya termasuk 400 orang itu.
Alhamdulillah,
Tuhan benar-benar baik sama saya. Entah, saya harus membalas apa setelah ini :').
Sebuah email yang letaknya tepat diatas e-mail e-ticketing Jakarta Fashion Week. Double Happiness. Thank You So Much God. Sehari merasakan sebuah mimpi yang sepertinya tak pernah berakhir :')).
Alhamdulillah...
Akhirnya kesampaian juga impian saya buat dateng ke acara fashion week (walau masih di dalam negeri dan hanya sebagian acaranya saja). Berbekal terburu-terburu, akhirnya tujuh buah tiket fashion show di gelaran Jakarta Fashion Week 2012 bisa saya dapatkan. Alhamdulillah :)).
It would be my very first time experience about my passion. Semoga kabar baik lain tentang passion saya yang lain bisa saya pegang. Bismillah :)).
Nggak kebayang aja, saya yang masih mahasiswa semester 7 di kampus paling pinggir Yogyakarta akhirnya bisa dateng ke acara kaya' gini. Mimpi..mimpi..mimpi.. siapa yang gak bakal mengira hal yang tidak mungkin seperti ini bisa dibilang seperti mimpi. Tapi akhirnya nyata. Alhamdulillah :)).
Pada sebuah cerita di mimpiku
waktu itu. Aku berada di sebuah pelataran taman antah berantah. Nampak terlihat
segalanya hitam putih, segalanya terlihat aneh membuatku betah. Entah. Tak
menahu. Aku mengangkat badanku untuk menyusun posisi duduk bertumpu pada batu
yang terletak persis dibawah pohon yang rindang, yang juga terlihat hitam
putih. Samar-samar tetapi jelas, aku mulai mendengar gemuruh dari kejauhan.
Gemuruh biasanya identik dengan tangisan awan berupa hujan. Akupun segera
bergeser mendekat menuju bagian bawah pohon. Mengambil strategi awal. Sedia
payung sebelum hujan. Gemuruh kedua menembus gendang telingaku. Kali ini
suaranya terdengar lebih kerasa daripada sebelumnya. Awan gelap pun mulai
menyongsong bergerombol kejam datang. Aku tau awan bukan sosok yang lemah dan
cengeng hanya dengan sebuah cubitan akan menangis. Bagaimana mungkin sosok yang
bisa mencipta kilat kuat yang kejam merupakan sosok yang lemah dan cengeng?. Perlu
dihantam berkali-kali lipat, awan baru akan bisa menangis. Seperti saat ini,
gemuruh ketiga yang datang lebih keras bagai teriakan awal awan yang kesakitan
telah dihantam. Lalu kemudian menangis, hujan membasahi pelataran antah
berantah.
Di kejauhan, aku melihat sosok
yang tak asing oleh penglihatanku. Wanita berambut panjang sepinggang. Dia tak
takut basah. Dirinya tak basah. Setitikpun tidak. Walau air hujan sudah
mengucuri habis raganya. Entah mengapa, aku merasakan ketakutan terbasahi oleh
air hujan. Sesuatu yang tidak biasa buatku. Sehingga kuputuskan hanya diam
ditempatku terduduk. Wanita itu merubah posisinya berdiri. Berputar. Sedikit
demi sedikit aku bisa melihat sosok lengkap dengan raut muka wajahnya. Dirinya
sama halnya dengan awan. Sedang menangis. Entah apa yang telah menghantam
dirinya untuk kemudian menjadikannya menangis.
Dia sudah sempurna memutar
posisinya berdiri. Sudah tidak berada pada posisi membelakangiku. Namun, masih
saja aku tak bisa melihat wajahnya dengan benar-benar sempurna tanpa cela.
Mungkin terhalang oleh hujan lebat yang turun. Atau mungkin memang jarak kami
yang berjauhan. Akupun memicingkan kedua mataku. Berharap usaha ini bisa membuahkan
hasil untuk lebih sempurna melihat sosok wajah wanita yang sedang menangis itu.
Aku mendapati air matanya meleleh membasahi pipinya. Keheranan. Kekhawatiran. Apakah
wanita itu adalah kekasihku?. Kenapa dia menangis?. Kenapa aku tak bisa
menjangkaunya?. Kenapa aku tak bisa mempunyai perasaan untuk menjangkau tubuh
dan kemudian memeluknya saat ini?. Yang pada akhirnya, yang kubisa hanyalah
menjadi gila. Menggila. Menangis menggila ketika dirinya ternyata pergi
mendahuluiku. Penyakit berhasil mengunyah habis kekasihku.
***
Pada sebuah cerita di mimpiku.
Kini bagian mimpiku yang kedua. Ada sebuah kupu-kupu mencium hidungku. Kubuka
mataku. Yang bisa kulihat adalah sosok kekasihku dibelakang siluet kupu-kupu
yang persis berada di depan mataku. Karena tak betah berlama-lama. Kupu-kupu
itu terbang menikmati kebebasannya kembali. Selamat Datang. Ucap kekasihku
dengan lancar. Dia sudah sangat piawai berucap AIUEO. Terima kasih Tuhan.
Sebuah pelataran taman indah
berwarna-warni. Rumput-rumput hijau bergoyang bagai bermain peran di perbukitan
Sound of Music. Sapuan warna-warni
indah tertancap manis di jalan setapak yang penuh dengan taman bunga yang juga
berwarna-warni. Awan biru bergradasi keungunan terbentang luas di angkasa. Ada
pelangi yang seperti membentuk jembatan warna-warni indah yang menghubungkan
awan satu dengan awan yang lainnya. Semuanya sempurna. Semuanya indah. Semuanya
bagai surga.
Tuhan masih memberi kami kesempatan
untuk bertemu. Kami berdua. Sebuah kehidupan lanjut bersamamu yang tak pernah
bisa kubayangkan setelah kau pergi. Karena memang mustahil ingin bersama sosok
yang telah tiada. Karena memang ini lah takdir, takdir kita. Bibirmu kembali
menyerukan kalimat dalam suara yang dulu tak pernah bisa ku dengar. Aku hanya
terdiam, tersenyum, lalu memelukmu erat sampai petang menjelang. Dengan lautan
bintang yang terhempas luas di selimut malam yang hitam pekat.
Hidup memberiku petunjuk untuk
percaya. Walaupun segalanya memang sudah sangat jelas tidak akan bisa terjadi
di kemudian hari, namun hidup tidak pernah menyerah memberikan ku petunjuk
untuk selalu percaya. Dirimu memelukku erat, aku pun demikian, kami menikmati
sajian lautan bintang yang berkedip manja, dan indera pengucapmu masih
berbicara manis tanpa henti tentang semua ini. Sempat aku berpikir untuk
menyerah untuk percaya. Dan hanya cukup berkata selamat tinggal ketika waktu
itu kau sedang menangis menggila. Tidakkah kau mendengar ucapan selamat tinggalku
waktu itu kekasih?.
Aku selalu berada di sampingmu.
Walau aku sudah tiada. Tapi kau selalu memintaku berada di sisimu. Tanpa pernah
beranjak dari sampingmu. Yang pada akhirnya, kau menyatukan sedikit jiwaku di
darahmu. Membiarkannya menggerogoti tubuhmu sepertiku dulu. Aku tak pernah
menginginkan cara seperti ini untuk bersama. Namun aku sudah tak bisa
melarangmu melakukan hal gila seperti itu. Aku hanya mampu melihatmu dari
kejauhan. Dan merasakannya sedikit pada ragaku yang telah menyatu di dalam tubuhmu.
Hingga kita bisa saling menyentuh satu sama lain. Benar-benar bisa menyentuh
diri kami masing-masing. Pada sebuah pelataran taman indah warna-warni, yang
ketika malam tiba, dihiasi lautan kristal berkedip manja di angkasa seperti
saat ini.
Mimpi keduaku tak pernah
berbohong. Karena mimpi bukan manusia. Akupun juga sama sepertimu kekasih. Tak
pernah mampu mengucapkan selamat tinggal. Hingga pada akhirnya aku berbuat
demikian. Bodoh. Tolol. Idiot. Moron. Menyatukan sedikit jiwamu mengalir di
darahku sudah menggerogoti tubuhku yang kotor. Aku dikirim disamping ragamu
yang sudah damai. Semoga aku bisa menemanimu dengan damai. Kami bisa bersatu
lagi karena percaya. Mungkin bisa dibilang percaya akan cinta. Atau percaya
akan hal lain.
Pada sebuah pelataran taman indah
warna-warni, yang ketika malam tiba, dihiasi lautan kristal berkedip manja di
angkasa. Bersama kekasihku. Hanya kami. Hanya kami berdua. Mampu menyentuh sama lain. Mimpi kedua
benar-benar menyentuh ragaku. Tidak seperti mimpiku yang pertama. Mimpi pertama
yang hanya imajinasi saat terlelap. Mimpi kedua yang seakan ingin membuatku
selalu terjaga bersama kekasihku di dunia yang katanya penggambaran sebuah
surga. Entahlah. Jangan tanyakan padaku tentang kebenarannya. Aku hanya akan
sibuk disamping kekasihku. Kekasihku yang mantan jalang. Dan diriku yang mantan
hidung belang.
Aku dan dirinya. Kami berdua
berjalan tanpa tujuan yang pasti. Karena kami tak akan pernah tau perjalanan
kami akan sampai kapan dan dimana akan berakhir. Bisa saja ditengah perjalanan
akan ada sebuah kendaraan yang melintas dengan kencang secepat angin. Lalu
tanpa melihat keberadaan kami. Aku atau dirinya atau kami berdua, terpental
dari tempat semula kami berdua berjalan, setelah sebelumnya mendapat kecupan
tragis dari kendaraan yang melesat bagai angin yang telah melintas. Atau
mungkin, bisa saja karena lamanya kami berjalan tanpa tujuan. Usia mulai
menggerogoti tubuh kami sedikit demi sedikit. Sepasang kaki yang semula mampu
menerjang jalan berkilometer jauhnya. Sekarang hanya mampu menerjang dengan
ukuran jarak yang lebih kecil. Bahkan, besar kemungkinan sepasang kaki kami tak
akan mampu menerjang satu langkahpun jalanan yang kami tempuh. Kami mencoba
untuk tak memandang ke belakang. Terbilang cukup menyeramkan. Pemandangan bak
mendung hitam pekat seolah menjadi latar belakang yang menyeramkan untuk
dilihat. Terlebih lagi, berjalan ke arah depan dengan pandangan menoleh ke
belakang sungguh cukup banyak resiko. Dengan banyakanya hal yang terjadi dan
akan terjadi, kami masih akan tetap berjalan meneruskan perjalanan kami berdua.
Walau kami merasa ada kerikil-kerikil tajam ketakutan yang sama-sama menguasai diri kami. Semua itu tak
menghalangi langkah kami berjalan ke depan dengan damai. Berusaha tanpa beban.
Di pertengahan perjalanan. Kami
beristirahat sejenak di bawah pohon rindang yang melindungi kami dari
persetubuhan langsung dengan sinar matahari yang posisinya saat itu sedang
tepat berada di atas kepala kami. Kami benar-benar merasa kelelahan. Kelelahan
tak terperi. Sedikit berpikiran untuk menyerah melanjutkan perjalanan tak
berujung ini. Kelelahan yang menguasai pikiranku pun mulai meraja. Andai saja,
aku bisa dilahirkan lebih beruntung. Lebih memiliki segalanya yang banyak
hingga berlebih untuk menjalani hidup.
Aku tak akan perlu merasa sukar untuk menjalani perjalanan tak berujung seperti
ini. Aku akan bisa melindungi kekasihku pada rangkaian besi yang berwujud mobil
mewah seperti yang sering lalu lalang seenaknya sendiri di perjalanan kami.
Kalaupun bisa seperti itu, mungkin di dalam sana segalanya akan terasa sangat
begitu mudah. Kulit kami tak akan menjelma menjadi hitam karena sengatan matahari
yang kejam. Alas kaki murah kami akan serupa dengan alas kaki mewah yang tidak
mudah rusak. Dan selain atas segalanya diatas, jika aku bisa dilahirkan kembali
lebih beruntung. Aku akan dengan cepat melepaskan sarang kepedihanmu selama
terpenjara di dunia malam yang kelam. Lebih cepat lebih baik. Penyakit ganas
yang memperkosa ragamu akan bisa lebih cepat dihindari. Tapi sebagai mestinya
andai. Andai selalu bertolak belakang dengan realita. Realita yang membuat kami
tersadar dan mengharuskan kami berjalan tanpa tujuan dengan apa adanya aku dan
kekasihku. Hingga pada akhirnya, kami bermalam masih di tempat yang sama dimana
aku bermain-main dengan andai. Andai yang berakhir didepak keras oleh fajar
berseri di pagi hari yang cerah.
Di kelanjutan perjalanan yang
entah sudah berapa kilometer jauhnya ini. Kami berpapasan dengan cahaya
menyilaukan di depan kami. Matahari tak memakan kami. Karena matahari sudah
berada di atas kepala kami. Kekasihku sangat ketakutan melihat silau cahaya
itu. Aku menggenggam tanganya untuk sekedar meredakan kecamuk perasaan takut
yang sedang menguasainya. Mengenggamnya erat. Aku menuntunnya berjalan
perlahan. Selangkah demi selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Empat langkah.
Lima langkah. Hingga kami bersatu dengan cahaya menyilaukan yang secara
tiba-tiba muncul di tengah perjalanan kami.
Aku terbaring lemas pada sebuah
tempat tidur. Sendiri. Sebatang kara. Di tempat yang sama yang sudah sangat
kuhafal diluar kepala seluruh bagian ruangannya. Menjamah bagian bawah bantal
tempat aku menyandarkan kepalaku. Tanganku sibuk mencari sesuatu yang tersimpan
disana. Kutemukan sebuah kotak yang kucari. Rokok kretek asli Indonesia memang
juara. Tanpa menunggu lama kuraih korek api dari kayu yang posisinya persis di
sebelah aku menemukan rokok kretek ku. Ruangan yang kusinggahi dipeluk suatu
tulisan lantang berbunyi “NO SMOKING”. Cuih, persetan. Toh, hanya aku sendiri
yang berada di ruangan ini. Tak akan menganggu yang lain. Tak akan ada yang
diganggu. Mereka yang menyinggahi tempat ini semuanya sudah pergi. Pergi entah
kemana. Dan aku mempunyai keyakinan yang sangat besar, bahwa aku lambat laun
akan mengikuti mereka untuk pergi. Sebatang rokok kretek tentu bukan penyebab
utamaku untuk pergi. Jikalau aku tak menghisapnya pun aku juga akan pergi dari
sini.
Beberapa bulan yang lalu. Aku
sudah sering bercinta dengan ruangan ini. Seperti sebuah takdir yang tak masuk
akal, pada akhirnya aku menjadi penghuni tetap ruangan ini. Kamar keduaku
setelah kamar tidur dengan kasur buluk yang setia tertimpa tubuhku dengan tubuh
kekasihku. Namun, segalanya yang berada di ruangan ini kini sudah berubah.
Berubah dengan sangat drastis. Penuh botol dan kaleng-kaleng bir berserakan.
Puntung-puntung rokok tak kalah berjejalan di lantai keramik putihnya. Sangat
berlawanan dengan citra yang seharusnya dari tempat yang menaungi ruangan ini.
Aku menyatukannya pada darah yang
mengalir ditubuhku secara diam-diam. Disaat aku sudah menyerah atas segalanya.
Saat segalanya sudah sangat jelas terlihat sangat sia-sia. Pikiran sehat pun
terasa sangat sia-sia untuk melawan pikiran yang sedang menjadi sarang
penyakit. Pikiran sehat dilibas habis tanpa ampun dan tanpa meninggalakan bekas
sedikitpun. Bodoh. Idiot. Moron. Semuanya sudah menjadi satu kesatuan. Ini
sebagai ucapan terima kasih kepada kekasihku. Bukan ucapan terima kasih kepada
kehidupan. Ini sebagai perilaku untuk cinta kepada kekasihku. Bukan perilaku
untuk cinta kepada kehidupan. Manusia memang hanya manusia. Ahli kesehatan seperti
dokterpun juga manusia. Yang juga bisa mempunyai daya ingat yang minim lalu
disebut lupa. Hingga memberiku kesempatan meraih jarum suntik yang sudah
orgasme sehabis bercinta dengan kekasihku sebelumnya. Menyuntikkanya tanpa ampun di lengan kananku tanpa
sepengetahuan siapapun. Menyatukan sedikit jiwa kekasihku untuk bermain dengan
jiwa ragaku. Akupun kini juga sudah positif.
Kami akan selalu bersama hingga
kini. Kami akan terus berjalan bersama tanpa tujuan. Kami akan terus berjalan
bersama tanpa tujuan, tanpa melihat mendung hitam pekat menakutkan di belakang.
Hanya berdua. Bersama. Aku dan kekasihku. Suatu kenaifan tentang kehidupan yang
sebenarnya. Tapi sudah bukan saatnya untuk lebih dikaji. Sudah terlalu lelah.
Badanku semakin lemas. Seiring
dengan terkikisnya seluruh tubuh rokok kretek yang kuhirup. Aku memutuskan
untuk berbaring tidur di tempat tidur yang dulu pernah menjadi alas tidur
dirinya, kekasihku. Namun, sebelumnya aku meraih botol bir di meja samping
tempat tidur. Lagi-lagi persetan. Toh, hanya aku yang berada disini. Tak akan
ada yang berani mengusik. Tanpa sabar kuteguk bir yang sudah berada di
genggamanku. Tak bersisa. Habis dengan sempurna. Lalu aku memasrahkan diriku
pada kuasa tempat tidur. Tidur pulas. Tanpa tahu menahu kapan akan kembali
terbangun dari tidur ini.
Entah bermula sejak kapan, sejak
saat itu aku mempunyai sedikit impian untuk bisa menggenggam salju seperti
mudahnya aku menggenggam pasir. Analogi menggenggam salju seperti menggenggam
pasir aku gunakan karena sejak impian itu muncul, kedua telapak tanganku tak
kunjung bertemu dengan wujud asli salju yang banyak ditampilkan berwarna putih.
Aku banyak melihat wujud aslinya pada sebuah kotak berukuran empat belas inci
yang terpatri di kamarku sejak lama. Dirinya sering menampilkan gambar-gambar
bergerak dua dimensi. Seharusnya wujud dua dimensi mudah dicapai. Tapi saat
tanganku mencoba menjamah kotak yang menampilkan dunia penuh salju itu, aku
hanya bisa menyentuh kaca yang terlihat membatasi duniaku dan dunia penuh
salju. Dan pada akhirnya aku menyerah. Berjanji namun tak sampai sebegitu
berusaha keras, bahwa suatu saat aku akan benar-benar mampu menyentuh salju.
Dan tak ingin mengharuskan diriku sendiri harus berada di tempat mana hingga
aku bisa menyentuh salju. Dimana saja kalau bisa. Asal salju ingin bercumbu
dengan ragaku.
Barangkali, saat ini bisa
dikatakan sebuah perkecualian. Perkecualian yang eksistensinya di kehidupan
hampir serupa dengan eksistensi faktor keuntungan dan keajaiban. Jumlah
partikel-partikel penyusunnya lebih sedikit jika dibanding partikel-partikel
keterbiasaan kehidupan. Salju dimuntahkan langit malam. Salju ingin mencumbui
ragaku di bawah selimut malam. Seakan tak perlu jauh menyeberang ke utara dunia
untuk berkenalan dengan sosok asli wujud salju. Salju turun membebani atap
rumah. Salju turun membebani atap rumah kami. Perkecualian yang cukup indah di
negeri khatulistiwa untuk ditangisi salju oleh awan.
Barangkali juga, dunia sedang
terbalik. Sejujurnya, aku tak benar-benar menginginkan keterbalikan seperti
ini. Pita suaraku mampu berucap AIUEO dengan sempurna. Namun yang membuatku
sedih, kekasihku bagai terjahit seribu benang pada indera pengucapnya. Dunia
berselimut malam yang sunyi, terang dan gelap saling berganti peran. Semua
keterbalikan itu menjadi satu kesatuan utuh ketika ragaku dan kekasihku sedang
sibuk bercumbu sampai bersetubuh dengan salju yang turun di atap rumah.
Perkecualian, keterbalikan, dan atau mungkin keajaiban. Yang kumengerti semua
hal itu hanya bisa terjadi sekali di kehidupan. Mungkin saat ini Tuhan sedang memberikan
ku sebuah kebaikannya yang lain. Memberikan kami sebuah kebaikannya diantara
kebaikan lain untuk kami. Semua yang ku lakukan, walau ada bagian yang
membuatku sedih. Berusaha kugantikan dengan ucapan terima kasih atas semua yang
terjadi di malam ini.
Ibu menyuruhku menjadi jalang.
Karena ibu juga jalang. Saat itu sudah berstatus mantan jalang. Katanya untuk
meneruskan dan memperbaiki ekonomi keluarga. Tanpa sosok ayah, ibu berusaha
membina keluarga. Keluarga baginya hanya aku dan dia. Ibu memang cukup berbeda
dengan wanita-wanita jalang lain yang juga memiliki putri. Wanita-wanita jalang
lainnya lebih memilih untuk memutus dunia malam liar yang kejam dari dunia
putri-putri mereka. Mungkin, ibuku adalah sebuah perkecualian. Dan mungkin
saja, bermula darisanalah aku mulai mengenal perkecualian di kehidupan.
Usia beliaku yang membuatku
menuruti apa yang dikata Ibu. Ibu piawai
memoles ragaku untuk menutupi kekuranganku untuk berucap. Yang kemudian aku
jadikan pelajaran otodidak untuk menutupi kekuranganku tersebut, saat aku mulai
masuk dalam roda berputar dunia malam yang liar. Ibu menyumbangkan badanku
untuk dinikmati para lelaki hidung belang untuk menggantikan tempat duduknya di
tempat ibu mencari penghidupan. Aku mulai belajar tentang kehidupan dan
penghidupan. Walau tiap memoles wajah sebelum berjualan, butiran kecil benda
cair sering dimuntahkan bola mataku. Sedih dan terpaku. Tapi aku tak bisa
berbuat apapun.
Salju yang turun semakin lebat.
Mulutku pun semakin lebat berucap tentang apa saja. Tanpa titik dan koma.
Ragaku gemar dicumbui salju walau sudah lama. Aku tak merasakan sedikitpun
menginggil kedinginan. Sebagaiamana sosok pria disebelah yang mendekapku.
Kekasihku juga merasakan hal yang sama walau dia hanya diam seribu bahasa. Wajah
diamnya membuatku meneruskan ucapan-ucapanku tentang apa saja, yang kemudian
menjemput penerawangan.
Hampir setahun aku melayani
lelaki hidung belang. Kau pun muncul di antara banyaknya lelaki hidung belang
yang sudah menyetubuhiku. Nampak serupa dengan lelaki hidung belang yang
lain. Kedua bolamata milikmu sama-sama
menyiratkan tentang kepuasan hidup. Menikmati hidup. Seolah membuang hal lain
yang lebih berharga dan manusiawi dari pandangan kedua bolamatamu. Kau hanya
memandangku hanya sebatas wanita jalang. Segalanya terjadi dengan tak ada
perubahan. Segalanya terjadi tanpa ada apa-apa di awal aku melihatmu. Diawal
kau menikmati tubuhku.
Namun, ternyata ada kalanya waktu
yang mengijinkan perubahan untuk datang. Hingga pada akhirnya, dekapan erat ini
yang menemani salju yang mencumbu ragaku. Entah apa yang terjadi setelah ini
semua. Aku hanya ingin merasakan ada sosok yang ternyata bisa memberiku sebuah
pelukan. Yang tak mungkin selamanya memeluk, karena hidup tak pernah
mengijinkan keabadian untuk lebih lama singgah. Hanya mampu menyimpannya saja.
Dingin salju yang tak kurasa mungkin sudah menjelma menjadi sebuah kecamuk.
Antara bahagia dan kesedihan. Semua berkecamuk menggantikan dingin. Efek yang
dihasilkan hampir serupa. Badanku menjadi kaku. Badanku terasa beku. Yang
kemudian disusul dengan tetesan kecil air yang terasa dingin hasil muntahan
kedua bola mataku. Aku berusaha menutup kedua mataku untuk menghentikan tangis.
Tak seharusnya perasaan bahagia dan sedih yang berkecamuk menghasilkan sebuah
tangisan. Namun sepertinya usahaku sia-sia. Aku tak bisa menutup mata lebih
lama. Dan yang bisa kulihat saat membuka mata, tubuhku tertidur damai tertutup
piyama dan selimut putih yang bersih. Tertidur damai di sebuah ruangan dengan
infus yang menjalar mencium pergelangan tanganku. Kekasihku membuat gerakan
menggila di samping tempatku tidur damai pada sebuah tempat tidur. Kekasihku
berteriak menggila. Dengan penuh air bagai peluh yang menguasai wajahnya.
Kekasihku menangis menggila. Aku tak yakin aku mampu mendekapnya untuk berusaha
menghentikan kegilaanya yang meraja. Ada sosok lain yang menarik ragaku yang
membuatku sukar menyentuh kekasihku.
Keadaannya semakin membuatku
khawatir. Perlahan namun pasti mulai sedikit demi sedikit mengikis
keberadaannya untuk lebih lama tinggal. Sempat suatu hari aku mengalami
keterpojokan. Dihantui kebingunan, sembari mendengar batuk-batuk hebat yang
terkadang mengeluarkan darah yang bersumber dari dalam kamar kami berdua. Tak
pelak, deru kesedihan pun menyambut deru batuk-batuk menyakitkan dari kedua
bola mataku. Lupakan suatu keharusan jikalau pria sangat tidak diijinkan
berteman dengan air mata. Seluruh tembok keharusan benteng diri sendiri akan
hancur dengan sendirinya saat mengenal cinta yang menjadikan aku menjadi kami.
Kami pun menjadi dia disaat salah satu penyeimbang penyusun kami jatuh tak
berdaya. Benar-benar tak berdaya. Bukan benar-benar tak berdaya akan hal kecil
seperti sukar berjalan. Benar-benar tak berdaya karena memang kemampuannya
untuk menyusun kami terkikis bukan atas kemauan dirinya sendiri.
Bertarung dengan kebingungan
bukan hanya sekali itu saja harus kuhadapi. Sudah berkali-kali, apalagi saat
aku melihatnya nampak benar-benar tak berdaya. Namun pertandingan itu tak
pernah sepenuhnya selesai. Senyuman penggambaran atas baik-baik saja selalu
mengakhiri pertandingan itu di tengah waktu. Berjalan perlahan, menyambutku
duduk bertumpu pada tanah bagai anak kecil yang sedang sedih dihukum dipojokan
dinding tembok. Yang tersisa setiap malam kejadian itu adalah senyuman.
Senyuman baik-baik saja yang membuat kebingungan dan keterpojokkanku sedikit
mereda, lalu kami menyusulnya dengan mengakhiri hari di kasur buluk kesukaan
kami. Mungkin hanya itu yang tersisa bisa ia lakukan untuk kami.
***
Andai saja hidup itu mudah dan
tak sekejam ini. Mungkin, aku atau juga dirinya akan dengan mudah menghapus
adanya sosok penghalang atas proses menyusun kami. Tapi apapun cara yang
dilakukan. Hidup akan tetap berdiam kokoh dengan kejam. Hidup tak pernah
berkenalan dengan kata mudah. Tidak mudah menghapus apa yang telah sedikit demi
sedikit menggerogoti tubuhnya. Aku sama halnya terkikis seperti yang dia rasa.
Otak ku sudah terkikis habis dibelah perlahan oleh bingung dan keterpojokkan.
Sampai akhirnya aku memutuskan satu hal sebagai pemberhentian terakhir atas
semua ini.
Di suatu malam, aku tak menemui
wujudnya di tempat biasanya kau menghabiskan malam, di kasur buluk kesukaan
kami. Aku tahu dia sedang naik pitam karena satu hal. Melihatnya seperti ini,
kemarahanku pun mulai sedikit ikut meraja. Kalau saja ada yang bisa lebih baik
aku lakukan selain ini. Aku takkan perlu bersusah payah bertarung dengan
kebingungan dan keterpojokkan hingga menghasilkan keputusan ini.
Ketika dini hari menyambut, aku
menemukan keberadaannya di tempat yang sudah ku kira sebelumnya. Tempat dimana
dia seharusnya berada. Tapi disana, aku menemukannya sedang berperang sengit
dengan penolakan-nya yang sedang naik pitam. Tentu dia tak melakukannya dengan
kata-kata. Ketika dirinya melihat keberadaanku, Dia semakin naik pitam, penolakannya
semakin menggebu. Aku hanya berusaha tenang. Hanya terdiam. Sampai dirinya
selesai menghabiskan pitam-nya yang dia tumpahkan habis-habisan kepadaku tanpa
kata-kata. Air mata lalu tampak di wajahnya ketika dia telah mengakhiri semua
yang ingin dirinya muntahkan. Aku bisa mengidentifikasinya bukan sebagai air
mata yang ingin dikasihani. Air mata penyesalan. Air mata kesedihan. Air mata
dari ketidakberdayaan yang benar-benar dia rasa. Air mata dari segala ketidakmampuan yang benar-benar dia rasa.
Sebagaimana tentang kata bijak
hidup itu adalah pilihan. Aku memilihnya juga merupakan satu dari banyak hal
pilihan hidup. Dan sebagaimana sosok manusia dewasa, yang dikatakan bahwa kehidupan
mengharuskan sosok dewasa itu bertanggung jawab atas pilihan hidup yang telah
dipilih. Ditambah lagi dengan keberadaan sosok Pria yang sejatinya dilahirkan bukan
untuk sebagai pecundang. Sosok pria mantan hidung belang berusaha menjadi lebih
baik karena mengenal cinta dan berani mengambil pilihan untuk mengenal cinta
tersebut pada sosok wanita mantan jalang dengan segala ketidakmampuan yang
dimilikinya.
Aku memutuskan untuk menjual
rumah milikku kepada teman lamaku. Namun, dia masih mengijinkanku berteduh
disana karena dia masih mau mengerti tentang keadaan kami berdua. Saat ini
bukan saat yang tepat untuk hanya membiarkan wanita yang merupakan kekasihku
berteduh disana. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai terkikis. Ada sebuah
tempat yang semestinya untuk dirinya berteduh. Aku mengganti tempat tinggalnya
dengan menjual rumah milikku. Barangkali sebuah langkah dari tanggung jawab
atas pilihan itu sendiri. Barangkali sebuah langkah atas porsi cinta yang
sebesar penyakitnya. Tak ada salahnya memberikan segalanya yang bisa dilakukan
untuk kami.
Sepi yang telah menjelma menjadi
kesepian. Barangkali dirinya sudah mempunyai takdir untuk menemani kehidupan
yang kumiliki. Sangat kuijinkan kau menyembutku lelaki hidung belang. Karena
memang aku gemar bersenggama dengan jalang. Di malam petang. Di gang sempit
yang lengang. Demi mengabulkan permintaan yang mengganjal dalam celana jeans yang terselip kelaminku yang
sedang tegang. Tak usah kusebutkan kenapa tingkahku bisa sehina melebihi jalang
seperti ini. Aku berani taruhan, pasti alasan dari perbuatanku tak ada
menariknya sama sekali. Alih-alih malah kelahiran kata-kata memang kau sudah
bodoh dari sumbernya, akan lahir secara normal dari pikiran-pikiran yang
memintaku menjelaskan alasan kenapa aku bisa menjadi sehina sekarang.
Aku tak pernah menyimpulkan semua
ini sebagai derita. Meratapi derita hanya membuat hidupku semakin tak bisa
senikmat bersenggama dengan para jalang molek nan cantik dengan aroma parfum
murahannya. Hidup semakin tidak indah dan tak bisa dinikmati kalau hanya
menjalaninya dengan meratapi. Kata bijak itu pernah kulihat pada sebuah stiker
di angkot reyot yang membawaku pulang ke rumah. Jikalau di kaji dengan pikiran
sehat dan intelek ku, mungkin ada benarnya kata-kata pada stiker itu. Namun,
ketika tubuhku sudah sepenuhnya terkontrol dengan alkohol. Tak perlu lagi
menggunakan pikiran sehat dan intelek untuk menyetujui perkataan di stiker itu.
Alkohol membuatku sangat menikmati dunia tanpa pernah berpikir untuk meratapi
hidupku yang memang bejat ini.
Seperti yang diajarkan hidup
tentang ketidakabadian. Semuanya sudah terjadi tiga tahun yang sudah berlalu.
Barangkali cinta yang membuatku tersadar. Karena dalam pemahamanku, cinta
seperti kekuatan magis. Sudah berapa orangkah yang berubah karena cinta ?. Tak
perlu dijawab, karena menghitung berapa hanya membuat kita malas menjawabnya,
atau bahkan akan menjadikan lahirnya pemikiran baru, bahwa tak sepenuhnya benar
bahwa cinta itu bisa membuat orang berubah. Banyak jawaban. Banyak alasan.
Karena apa yang telah terjadi atas perubahanku memang ada campur tangan dari
cinta.
Perasaan cinta pada sesosok
jalang. Perasaan cinta pada sesosok mantan jalang. Dia wanita yang kesekian
kali dari wanita-wanita jalang lain yang pernah kusetubuhi. Wanita yang tak
banyak bicara. Tak banyak menuntut macam-macam dan cerewet seperti wanita
jalang yang lain. Barangkali itu yang membuatku tertarik padanya, selain dengan
imbuhan aksi ranjangnya yang bagai
pegulat profesional kelas ikan paus. Dua tahun bukan waktu yang mudah untuk membuatnya
meninggalkan dunia yang sudah dia geluti dari usia muda. Segalanya butuh usaha,
usaha butuh suatu gerakan. Gerakan itulah yang menjadikan salah satu alasan
lainku untuk berubah. Kuputuskan untuk
memulai lebih dulu untuk mengakhiri hidup bersama dunia seks yang dijadikan
ladang bisnis. Memulai segalanya dengan awal yang baru. Bekerja serabutan.
Mengumpulkan sedikit demi sedikit sampai pada akhirnya aku memberikan semua
jerih payahku selama satu setengah tahun kepada atasan wanita jalang yang ingin
kumiliki. Semuanya berjalan dengan lancar, karena jerih payahku selama satu
setengah tahun itu adalah semacam tantangan darinya. Semuanya berjalan dengan
lancar, tanpa perlu ada proses berbelit karena dipermudah atas pembuktianku
padanya. Malam yang indah dengan cahaya bulan yang temaram, bayangannya
mengikuti bayanganku pergi meninggalkan peneduhan yang kali ini sudah saatnya
beristirahat untuk meneduhinya.
***
Malam yang masih sama indah.
Selimut gelap bermotif cahaya kristal kecil terang berwarna putih. Kami
berbaring di kasur buluk kesukaan kami. Sudah usang dan berdebu. Tapi usang dan
debu favorit kami. Penggambaran analogi yang tak cukup baik dari kehidupan
bahagia kami selama ini. Namun kami berdua sudah cukup dengan mensyukuri segala
sesuatunya dengan apa adanya saat ini. Mensyukuri segala sesuatunya dengan apa
adanya selalu berjalan sejajar dengan hobinya menggambar malaikat. Sebuah
kegemaran tersembunyi yang tak pernah ku duga saat kami berdua masih
bersenggama dengan dunia malam yang katanya hina. Awalnya, aku sempat
tersentak. Bagaimana tidak, seorang mantan hidung belang dan seorang mantan
wanita jalang bisa disejajarkan dengan sosok malaikat ?. Ilustrasi malaikat
yang dibuatnya selalu dijelaskan bahwa itu adalah sosok kami beruda. Sungguh
relasi yang sangat berlawanan dengan sosok malaikat suci yang sebenarnya.
Namun, aku pernah menjumpai sebuah
ilustrasi yang cukup berbeda di sebuah halaman sketch book miliknya. Masih berbau tentang malaikat. Malaikat pria
dan wanita. Malaikat pria digambarkan berdiri di sebelah kiri disamping
malaikat wanita di sisi sebelah kanan. Mereka berdua bergandengan. Tidak sepenunhnya seperti malaikat. Malaikat
pria digambarkan hanya memiliki satu pasang sayap di sisi kiri, sementara
malaikat wanita sama halnya hanya memiliki satu pasang sayap di sisi sebelah
kanan. Di bawahnya dia menambahkan kata “Together”. Mungkin ini bisa dibilang
baru benar-benar sempurna penggambaran sosok kami berdua.
Katakan saja bahwa cinta itu
memang buta. Seorang malaikat pria tidak sempurna yang hanya memiliki satu
pasang sayap, karena dia sudah bejat. Sudah bodoh. Sesosok pria mantan hidung
belang. Kemudian mengenal cinta pada sesosok malaikat wanita yang juga tidak
sempurna, yang hanya memiliki satu pasang sayap, sama-sama karena dia sudah
bejat. Sama-sama sudah bodoh. Sesosok wanita mantan jalang. Tuna wicara. Dan pengidap
HIV AIDS. Yang karena itulah bisa diambil dengan mudahnya pada lindungan sebuah
rumah bordil. Aku tak akan pernah menyimpulkan semua ini sebagai derita. Hanya
cinta.