CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 29 Oktober 2012

Playful Quirky

So, last friday my friends Danastri invited me to help of her mid-test work for Photography-Major. And we decided to goes to Gembira Loka Zoo. Its fun to be there, and Gembira Loka looks so fancy and interesting after the renovation like this day.

Not just for helps her mid-test work, i made this little photo-shoot for my lookbook, too hehehe. And yes, i'm addicted of the quirky style and life-style like my outfit :DD.



the another bunch of the picture :D,











Selasa, 23 Oktober 2012

Notes from Eid Mubarak #2

Puasa terakhir bersama sahabat ter-awet
Hari kedua kepulangan saya ke Surabaya menjelang lebaran (yang juga merupakan hari terakhir puasa di tahun ini) lebih banyak saya habiskan di luar rumah. Ya, alasan lain ketika pulang ke Surabaya selain rindu rumah adalah saya juga merindukan atmosfir nyata dari kota yang sudah sejak kecil saya tempati ini. Kehadiran seorang sahabat, juga mengisi celah rindu saya akan kota ini. Salah satu sahabat yang selalu tak pernah absen untuk bertemu saat saya pulang tentu saja Bismaputra Jayasujana, dia bisa dikatakan sahabat terlama dan ter-awet yang saya miliki hingga kini masih berpijak. Bukan tanpa masalah, bukan tanpa konflik ataupun drama, saya percaya kata-kata terlama dan ter-awet selalu menghadirkan ketiganya hingga akhirnya terlama dan ter-awet muncul ke permukaan antara kami berdua :).

Karena cukup jarang dan sudah lamanya kami berdua-benar-benar hanya berdua berjalan bersisihan untuk menikmati kota Surabaya, agenda hari itu saya (kami) isi dengan hanya pergi berdua (yes, kita teramat sangat merindukan bisa keluar berdua dan mengobrol tentang apapun, atau mungkin sedikit ber-nostalgia seperti dulu, saat sebelum saya hijrah untuk  kuliah ke Yogyakarta). Tujuan kami tak muluk-muluk, masih di seputaran tengah kota pada sebuah pusat perbelanjaan yang bisa dibilang masih seumur jagung di kota ini, Grand City. Agenda lain yang saya rencanakan juga cukup berhasil di hari itu, sengaja tidak puasa di hari terakhir bulan ramadhan ini hehe. Sebenarnya cukup sayang, hampir sebulan ini perut dan diri sendiri cukup mampu menahan nafsu yang diwajibkan kepada tiap umat muslim di bulan Ramadhan ini.

Calais Grand City Surabaya
Singkat cerita, kami mendaratkan pijakan pertama kaki kami disebuah kedai minuman dengan interior yang cukup klasik, bernama Calais. Dengan icon Moustache yang bisa dibilang menjadi "the it icon/sign" beberapa musim belakangan, saya dengan pasrah melepas dosa saya untuk kembali meluap di hari terakhir itu XD. Segelas taro milk tea sudah ditangan dan siap diteguk oleh dosa saya haha, minuman atau makanan dari ubi ungu itu belakangan menjadi favorit saya belakangan ini. 

Di kedai ini, sebenarnya juga menyediakan atribut "kumis" dan topi ala Charlie Chaplin untuk customernya yang ingin mengabadikan kunjungannya di kedai itu. Namun, karena kami berdua tipikal orang yang moody dan tidak seberapa suka mengabadikan kunjungan yang sekedar hanya jalan-jalan seperti ini (moody juga berpengaruh disini), maka kami menggantinya dengan saling mengedar kalimat antara kami berdua yang mungkin bisa dibilang tujuan utama kami berdua untuk mengisi Quality Time itu :). 

Taro Milk Tea
Moustache and Hat "Calais"
Pemberhentian kedua, kami mendaratkan diri di sebuah kedai makanan (masih di dalam mall yang sama). Setelah sebelumnya mengisi dahaga untuk si kerongkongan, kali ini kami memilih untuk memberi asupan untuk si perut. Saya lupa apa nama tempatnya >.<, di meja itu kami menikmati makanan dan masih dengan tambahan bertukar cerita. Mungkin saya terbilang manusia klasik, meskipun teknologi menghadirkan begitu banyak kemudahan komunikasi jarak jauh, saya lebih menikmati mengobrol langsung secara empat mata. Karena menurut saya teknologi itu terbatas, twitter hanya menyediakan 140 karakter dan berbagai kesalah pahamannya(?) :D. Instant messenger?, tak lebih dari sarana hiburan mungkin, karena bukankah mengobrol juga butuh atmosfir nyata?. Atmosfir nyata yang mungkin bisa menyatukan antara obrolan joke dan obrolan santai :D.  

Sebelum akhirnya petang menjelang, kami berdua kembali singgah di sebuah kedai kopi untuk menghabiskan sore hari, lagi-lagi masih di mall yang sama. Masih saja bertukar kata sambil menghabiskan dua kotak rokok masing-masing dari kami yang kesadarannya telah dibunuh karena obrolan kami berdua :). It's a simple way, tapi darisana mungkin saya (kami) masih bisa merasakan esensi dari persahabatan kurang lebih tujuh tahun yang telah terjalin. Hingga hari itu, pemberhentian terkahir kami menepi di sebuah stasiun radio. Menemani si sahabat dengan pekerjaan-nya sembari masih sibuk dengan kuliahnya. Mungkin sebelas dua belas dengan menghabiskan hari dengan pacar, tapi toh sahabat itu juga butuh hati dan cinta. Selain butuh diri sendiri, sahabat sejatinya mampu mengisi celah (yang masih kosong) di departemen pacar atau kekasih di negara hati dan cinta :)). 

Jam sepuluh malam, rumah sudah kembali saya gumuli. Gaung takbir penanda berakhirnya Ramadhan menyeruak bergerombol di telinga. Puasa telah habis masa, Idul Fitri mengganti masa. Saat petang menuju dini hari, saudara-saudara mulai berdatangan dari luar kota. Idul Fitri seperti sudah mulai menyatukan kembali apa yang sempat terpisah dengan jarak selama setahun kemarin :). 

Rabu, 29 Agustus 2012

Notes from Eid Mubarak #1

Lebaran itu, bagi sebagian umat muslim di seantero Indonesia identik sekali dengan pulang kampung, atau jika lebih dipersempit diksinya berubah menjadi mudik. Ada juga yang memilih lebaran sebagai saat yang tepat untuk berkumpul kembali bersama seluruh keluarga, saudara, sahabat, dan teman. Namun, bagi Saya sendiri, lebaran itu berisi keduanya tanpa terlepas dari kegiatan dan esensi harfiahnya yaitu saling memaafkan lahir dan batin satu sama lain sesama manusia. 

Bagi Saya (lagi), lebaran selalu punya cerita menarik tersendiri buat Saya tiap tahunnya. Berbekal memori otak yang memang diciptakan tanpa batas ini, Saya ingin menuliskan catatan-catatan kecil di lebaran tahun 2012 ini yang begitu lebih bersemarak seperti lebaran-lebaran tahun yang lalu. Lebaran ala anak kos, lebaran ala anak perantauan, lebaran mahasiswa yang lagi pulang kampung, atau entah apapun judulnya, happy reading and Happy Eid Mubarak Peoples, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir & Bathin :).

Insiden Kereta Api Mogok
Finally, tepat di tanggal merah dimana negara ini sedang memperingati hari kemerdekaanya, Saya baru bisa benar-benar hengkang sejenak menjejakkan kaki dari ranah kota perantauan Yogyakarta ini. Tidak lain dan tidak bukan, kerja part-timelah yang memaksa Saya untuk singgah merasakan bulan Ramadhan di Yogyakarta, padahal liburan kuliah sudah datang sedari pertengahn bulan Juni lalu. Yah, mau tidak mau, namanya sudah resiko dari menerima dan (masih) menjalani pekerjaan paruh waktu itu, Saya benar-benar baru bisa pulang di detik-detik menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.

Berbekal dengan banyaknya pilihan-pilihan transportasi yang ada di kepala, pada akhirnya Saya lebih memilih untuk naik kereta api sebagai kendaraan yang membawa Saya menuju kampung, Surabaya. Dengan alasan, jikalau Saya memilih naik bis seperti biasanya, kemungkinan bakal saling berebut tempat duduk dengan penumpang lain yang membludak karena hari raya, dan belum berhenti disitu saja, Saya teringat satu hal klise yang berada di jalanan ketika menjelang hari raya seperti ini, macet dimana-mana dan waktu kedatangan bis dijamin lebih lama dari waktu biasanya. Memang benar, sebenarnya dengan memilih untuk naik pesawat terbang adalah pilihan yang paling cepat dan tepat. Cepat sampai tujuan, pilihan yang tepat anti-macet dan kenyamanan. Namun, dibalik alasan karena dompet Saya enggak sampai buat beli tiket pesawat terbang,  Saya sendiri mungkin bisa dibilang orang yang sangat menikmati sekali perjalanan. Enggak papa deh, lama di perjalanan, asalkan masih bisa ditolerir sedikit masalah kenyamanan dan waktu sampai ketujuannya, tapi yang lebih penting bisa menikmati perjalanan. Dari banyaknya pertimbangan dan alasan-alasan itu, pikiran Saya mengerucut untuk memilih kereta api untuk pulang ke Surabaya.


Tepat 30 menit sebelum kereta api melaju, dengan diantarkan salah seorang teman, Saya sudah sempurna duduk di kursi tempat duduk penumpang di gerbong nomor tiga kereta api yang akan membawa Saya ke Surabaya, PT. Kereta Api Indonesia menamainya Sancaka. 



Singkat cerita, Saya banyak tertidur di awal perjalan hingga tengah perjalanan saat kereta mulai menyentuh kota Madiun, maklum sebelum berangkat ke stasiun, pagi harinya Saya masih harus berurusan dengan kerja part-time Saya selama lima jam hehe. Berhenti di kota yang dulu pernah Saya singgahi saat kecil, diikuti dengan bedug Adzan maghrib tanda waktu berbuka puasa. Mungkin karena si perut sudah meraung-meraung minta makan sedari tadi, Saya segera menyambar sebotol kecil tupperware di postman bag yang tergantung di badan Saya, meneguk air di dalamnya dan segera menyambungnya dengan dua bungkus makanan ringan yang memang sengaja Saya siapkan untuk berbuka puasa di kereta. 

Lima belas menit berhenti di Madiun, bel sebagai penanda keberangkatan kereta api diraungkan. Kursi Saya bergetar dan kereta kembali meluncur ke arah timur melanjutkan lajunya. Di detik ini, Saya mulai sedikit  merasakan terlalu banyak asupan tidur yang Saya terima. Kedua mata benar-benar melek penuh daya. Saya kembali merogoh postman-bag yang masih tergantung di badan, dan meraih sebuah benda yang ternyata insting Saya tak salah untuk membawanya di perjalanan kali ini. Sebuah buku karya Dewi Lestari yang belum sepenuhnya selesai Saya baca, Partikel. Baiklah, mungkin kali ini Saya lebih asyik menikmati bacaan daripada menikmati perjalanan yang berlangsung. Tapi, kalau boleh jujur menikmati bacaan ketika perjalanan  bisa dibilang seasyik menikmati perjalanan itu sendiri.

Tepat pukul sembilan malam, sesuai dengan penujuk waktu tibanya kereta api di tempat tujuan yang tercetak di tiket penumpang. Seharusnya, tiga puluh menit ke depan kereta benar-benar sudah sampai di kota tujuan, Surabaya. Namun, tanpa pernah Saya kira atau mungkin penumpang lain kira, tepat di pukul itu kereta api tiba-tiba diberhentikan di sebuah stasiun kecil di daerah yang sebenarnya sudah tidak seberapa jauh lagi dari stasiun kota Surabaya. Pikiran Saya waktu itu mengira, kemungkinan kereta sengaja diberhentikan karena menunggu kereta dari arah yang berlawanan melaju terlebih dahulu, dan biasanya tak memakan waktu lebih dari lima belas menit. Di detik lebih dari lima belas menit, para penumpang yang lain mulai ngedumel karena kereta tak segera dijalankan, mereka segera berhambur menuju gerbong depan tempat dimana lokomotif berada. Satu dua orang mulai kembali ke gerbong asal tak seberapa lama kemudian, mimik wajah mereka masam. Ada yang segera meraih travel bag dan segera memutuskan untuk turun di stasiun itu, dan ada pula yang kembali ke tempat duduknya dengan masih ngedumel ke kerabat di sebelahnya dengan berseru "Kereta api-nya mogok, sekarang lagi nunggu lokomotif dari Surabaya. Perkiraan jam sepuluh kurang seperempat kereta baru bisa jalan lagi". Kereta api mogok?, okay, awalnya kata kereta api mogok Saya kira hanya berada dalam kamus bercanda. Tapi, here it is, Saya benar-benar menemuinya sekarang >.<.

Kontan saja, salah seorang sahabat yang sudah berbaik hati untuk menjemput Saya juga ikutan dongkol. Dia sudah sampai di stasiun gubeng Surabaya jam sembilan tepat. Mengumpat kereta api, walau sebenarnya dia sangat-sangat menggilai dunia kereta api. Karena memang tak bisa berbuat apa-apa, mau nekat ikutan turun di stasiun ini juga dibilang terlalu nekat. Hanya bisa melayangkan kata-kata klise "sabar bentar yah" ke sahabat Saya itu (walau sebenarnya Saya sendiri udah enggak sabar menunggu terlalu lama), dan beruntunglah Saya membawa bacaan untuk meredam kebosanan selama tiga puluh menit karena kereta api mogok itu. And yeah, massive thank you for Dewi Lestari and Rahne Putri yang telah menciptakan karya yang begitu bisa meredam kebosanan seperti Partikel dan Sadgenic ini.


Mungkin karena takut tertimpa kesialan lagi, kereta api bisa menepati janjinya. Tepat sesuai dengan janjinya untuk melanjutkan perjalanan di pukul sepuluh kurang seperempat, lokomotif benar-benar menarik gerbong dengan kecepatan ekstra kencang (dari biasanya) menuju Surabaya. Hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Saya sudah bisa melihat hijaunya kubah masjid agung Surabaya dari dalam kereta api, serta disusul lima menit kemudian kereta benar-benar berhenti di ranah rel stasiun gubeng Surabaya. Tanpa menunggu lama dan karena sudah terserang wabah bosan yang terlalu meradang, Saya segera meraih satu travel bag yang saya selipkan di tempat menaruh barang persis di atas tempat duduk penumpang, menyisir lorong gerbong kereta api sancaka, dan menginjakkan kaki saya kembali di tanah kampung Saya, begitu pintu gerbong sudah Saya lalui. Huwahhhhh....i miss Surabaya sooo muchhh!!!.

Cerita lebaran tahun ini Saya mulai pada hari itu. Sempurna menginjakkan kaki di rumah pada pukul setengah satu dini hari. Setelah sempat menghabiskan beberapa jam dahulu bersama Aditya Aryo, salah seorang sahabat yang telah rela mau menjemput Saya di stasiun, walau sebenarnya letak rumahnya di ujung Surabaya. Dan sebagai simbolisasi ucapan terima kasih, kami berdua menghabiskan beberapa jam disebuah warung soto, temu kangen singkat sebelum temu kangen yang sebenarnya. Hingga akhirnya, sama seperti tiap kali ketika Saya pulang ke rumah, tak akan pernah bisa langsung pergi tidur hingga matahari muncul di kota Saya, kota Surabaya.


Minggu, 15 Juli 2012

Little Indian

So, in the middle of February i found some interesting accessories. Some unique Traditional-things (from Indian) that i'm puttin' on, with another Traditional-things from Indonesia. Dream Catcher with my only-one Batik-Shirt i ever had (Hell, yeah! XD). Woohoo, but i like the chocolate browny colour on this all-total-look :D.



Exploring UK

Ahhh Lemme taking off my GaGa necklace. GaGa its not so BRITISH >.<
I made first-DIY things for my rubber-case of my vintage blackberry. 

Mistah Crayon-a


Bukan sebuah kuas dengan palette bersimbah cat acrylic. Bukan pula segenggam pensil kayu yang beradu dengan kertas gambar dan karet penghapus. Asal mula Saya begitu mencintai menggambar adalah ketika berteman dengan sekotak oil pastel atau biasa dikenal dengan nama crayon. Dan di asal mula itu pula, Sejujurnya Saya belum begitu menguasai menggambar menggunakan crayon, belum bisa menggoreskan warna-warna hingga menghasilkan gradasi paduan warna yang indah dan menyatu antara warna satu dengan warna yang lain. Hingga di saat duduk di bangku SMP. Saya diketemukan dengan salah seorang teman, melalui dia Saya bisa mencuri ilmu tentang menggambar menggunakan crayon agar menghasilkan gambar yang cukup bagus.

Singkat cerita, dengan bergulirnya waktu hingga kini Saya sudah dua puluh tiga tahun mendaki bumi yang Saya pijak, tiba-tiba ingatan dan keinginan Saya tentang crayon menyeruak masuk ke dalam pikiran Saya lagi. Maklum, mungkin saja pelarian atas penatnya pikiran anak rantau yang dipasung oleh waktu mengikuti ritme kuliah dan bekerja hehe. Dan beginilah jadinya, ketika sedang asyik-asyiknya bergumul dengan teman di salah satu donut shop di salah satu mall di Yogyakarta keinginan itu kembali menggerogoti pikiran Saya, dan alhasil sebelum memutuskan untuk pulang, Saya mampir ke toko buku untuk menukar beberapa lembar duit yang Saya punya dengan satu kotak kecil oil pastel. Hahaha its definitely another therapy to share my emotion to another positive media, i think :D.

Anyway, Saya berasa kembali ke masa kecil (dengan emosi dan kondisi yang berbeda tentunya). Iseng-iseng menggoreskan batang-batang berwarna-warni itu hingga Saya tersadar kalau Saya masih bisa menggambar dengan crayon :D.

Maybe its looks kinda creepy. But that's exactly made me feelin' so fun :D.


The Girl with the red hair. 2012. Crayon on Sketch-paper
Never Let Me Go. 2012. Crayon on Sketch-paper



Embrace the Diversity. 2012. Crayon on Sketch-paper. Inspired by best-mate Natasha Larassanti & Aditya Aryo

Last Man Standing. 2012. Crayon on Sketch-paper

Tryin' Some-New Experimental


A glasses without lens or an lenses without glass?. Just choose one that do you think the best. It's really fun to trying something new (especially for fashion) hehehe. So, maybe it could be a mainstream-things-that-not-exactly-mainstream for me to applied that glasses into my eyes XD.