CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 30 Mei 2013

Skeptis*

Petang. Balkon rumah sebenarnya menjadi tempat favorit Saya untuk sekedar pergi dari keriuhan. Beberapa keriuhan yang bisa saja menjadi beberapa hal yang tidak Saya sukai. Kalau saja Saya suka, kenapa harus pergi?. Namun, daripada memilih untuk pergi, sejatinya bukankah lebih baik menikmati dan beberapa detik untuk singgah dalam keriuhan. Tapi, itu dulu. Itu lima tahun lalu. Saat Saya belum memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, Saya tak butuh balkon untuk sekedar lari. Di Kota itu, di setiap sudutnya justru memberikan kehangatan bagi batin. Tapi tentu saja kehangatan itu berbaur dengan kedinginan damai orang-orangnya yang tercipta dalam perilaku blangkon* untuk mencipta sirkulasi konstan yin dan yang. Tak ada yang salah dengan itu, kalaupun memang salah, kenapa harus ada kajian Psikologi Budaya dalam ranah studi tentang kejiwaan manusia?.

Lima tahun kemudian, Saya kembali ke rumah. Bukankah sejatinya pergi itu untuk pulang?. Awalnya Saya ragu dengan kalimat tersebut, tapi rotasi bumi membuat Saya mengerti bahwa juga tidak ada salahnya dengan kalimat itu. Saya kembali terduduk pada sebuah kursi di balkon rumah. Langit gelap, karena memang sudah saatnya jam dinding bergerak pada angka dua belas gelap. Di kejauhan, produk tata surya sebagai aji-aji keberuntungan hanya nampak separuh, bulan separuh. Bapak dan Ibu Saya sudah pergi tidur. Selama pergi ke Yogya, rumah memiliki personil pengganti untuk menggantikan Saya. Seorang perempuan renta yang kini sudah tak bisa melihat, namun beliau masih piawai untuk berjalan. Perempuan milik Ibu Saya. Sosok perempuan dimana ia dulu menyimpan orang terkasih Saya di alat reproduksinya. Nenek.

Di balkon itu, Saya seperti enggan untuk sekedar melempar pandangan ke arah kiri. Saya merasa skeptis, hanya berani mencoba-coba untuk menerka apa yang ada disana. Padahal Saya sebenarnya tahu, disana tersembul sebuah sosok yang besar, perkasa, tapi kosong. Tak mau memungkiri, keengananan Saya sebenernya bersumber dari perasaan cinta atau mungkin menyertakan sebuah benci didalamnya. Pokoknya, malam itu saya tak mau menoleh ke kiri. Toh, disana pasti sudah gelap. Karena jiwa sosok besar, perkasa, serta kosong itu sedang melakukan sebuah perjalanan pergi (yang juga untuk pulang). Disana hanya sebuah kemasan kosong, sudah kosong ditambah lagi dengan kekosongan tanpa jiwa.

Saya suka melempar pandangan ke arah kanan. Itu ke arah pusat kota. Salah satu alasan Saya rindu untuk pulang. Tak jarang, angin-angin malam menerpa wajah, dan Saya menyukai hal kecil itu. Malam itu-pun juga sama halnya. Lampu-lampu diseberang semakin riuh. Berbeda dengan lima tahun lalu saat Saya terduduk di tempat yang sama. Mereka seolah-olah ingin berbicara pada Saya. Tapi mereka-mereka itu segera terdiam. Terkalahkan oleh sesuatu. Firasat.

"Selamat datang kembali. Ujung yang merupakan sebuah titik akhir dalam setiap pergi dan perjalanan yang kau jalani. Tak perlu berbicara dengan mereka, dengan para lampu-lampu itu. Mereka hanya ingin merayakan euforia kedatangan pada setiap seseorang yang bergabung di kota ini kembali. Seperti layaknya, Kau," ada sebuah percakapan.

"Segalanya sudah tercipta sedemikan baru sekarang. Sudah, percaya sajalah bahwa Kau akan membuat sebuah cerita baru disini. Tak perlu ragu, ini dirimu yang berbicara sendiri. Alam bawah sadar, yang selama ini kau ciptakan sendiri dalam sebuah paket keisengan dan penuh keingintahuan. Percaya saja," percakapan itu terhenti.

Dengan sesegera Saya hembuskan nafas. Bintang hanya tiga titik diatas. Saya terpikirkan sosok besar, perkasa, tapi kosong itu. Saya terpikirkan diri Saya yang berbicara dalam diam. Saya hanya terpikirkan dalam diam yang bermula dari perasaan Skeptis. Namun, Saya mencintai malam itu. Saya mencintai balkon rumah, sebuah tempat kecil. Namun, memiliki keleluasaan fikir dan tanpa batas mengawang-awang lautan atas.

***

*Skeptis : Sikap sedia meragukan segala sesuatu.
*Blangkon : Analogi untuk perilaku orang Jawa (bagian tengah?). Ibarat blangkon yang sisi permukaan depannya rata, namun sisi belakangnya ada sebuah ikatan benjolan. Di depan manis, tapi di belakang menyimpan sebuah ketidaksukaan.

Sabtu, 25 Mei 2013

Namanya Mr. Perfect

Menjadi lelaki itu, katanya harus berperawakan tinggi, besar, dengan otot-otot menyembul bagai aktor-aktor Hollywod yang kerap bertandang di bioskop ternama. Entah berasal darimana konseptual itu, Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang pertemuan dengan berjuta-juta lelaki kembar yang Saya namai "Mr. Perfect".

Pria pertama yang Saya temui, dia berkulit cokelat dengan otot diilengannya yang menyembul keluar dari T-Shirt tanpa lengan berwarna hitam. T-Shirt-nya basah, akibat dari memompa fisik untuk tampilan perfect di hadapan Saya tersebut. Kami mengobrol sejenak, berbicara tentang buku dan seni. Karena dia hanya menanggapi seadanya saja, Saya menjadi sedikit mengurangi berbicara tentang apresiasi buku dan seni yang menjadi hobi Saya. Kemudian makanan datang, Saya memesan sepotong cake bertaburan keju diatasnya. Pemandangan ini tentu saja membuat Saya tak sabar untuk segera melahapnya.

"Gila, berapa kalorinya, tuh?" Tiba-tiba saja dia menyeletuk sembari mulai menyendok sepiring salad yang bertengger dimejanya.

"Kira-kira lebih banyak daripada salad yang dimakan, mas, lah" ujar Saya kemudian. Makanan itu anugerah. Daripada sekedar menghitung berapa kandungan gizi-nya, bukannya lebih asyik jika kita langsung melahapnya. Bukannya dengan menghitung kandungan gizinya, lantas tidak akan membuat diri kita menjadi orang paling higienis dan sehat di dunia ini?. Hanya itu yang ada di pikiran Saya waktu itu.

Kami menyudahi pertemuan itu ketika dia berpamitan untuk melakukan sesi kedua dari kegiatannya membasahi Tshirt hitam tanpa lengan yang dipakainya. Au revoir, Mr. Perfect.

***

Pria kedua yang Saya temui awalnya hanya mampu membuat Saya kagum melalui isyarat saja. Kami sudah lama berkenalan, melalui social media lintas batas tentunya. Saya menganggumi sense of fashion yang ia miliki (yang waktu itu hanya bisa lihat dan nikmati melalui social media miliknya). Singkat cerita, keberuntungan mungkin mendatangi Saya. Seorang teman tiba-tiba memberi secarik undangan. Invitation Fashion Show. Tentunya Saya girang setengah mati, karena acara tersebut terbilang private, hanya untuk kalangan tertentu yang disebut, Fashion People. Saya pribadi memang tergila-gila dengan dunia fashion. Tapi, untuk melabeli diri sendiri dengan label Fashion People, butuh keberanian ekstra untuk merengkuhnya. Skeptis mungkin kata yang tepat untuk perkara keberanian melabeli diri dengan label itu. Hehe.

Di dalam fashion tent, lebih tepatnya diperjalanan menuju kursi undangan. Saya sedikit tersihir dengan pemandangan seorang Pria yang berjalan di depan Saya. Perawakannya tinggi, dari belakang, rambutnya menjulang ke atas sekitar satu senti. Ya, cuman helai-helai rambut itu saja yang terlihat di kepalanya, dia membabat skinny rambut dibagian kanan kiri dan belakang kepala rambutnya. SWAG.

Mata Saya benar-benar menelanjangi sosoknya dari belakang. Otot di lengannya menyembul dari kemeja bermotif quirky yang berteriak. Muscle fit, kalau saja kemeja itu bisa berbicara, mungkin dia sudah berteriak lantaran sekujur tubuhnya ditarik dengan terpaksa untuk menutupi tubuh kekar pria tersebut. Short chino pants yang juga samar-samar menyembunyikan otot kakinya yang kencang. Serta sepasang flip on shoes beralas merah yang seakan berbicara bahwa dia adalah rentetan koleksi "men in sole" dari Christian Loubuitton. STYLISH.

Pria itu adalah Pria kedua. Yang pada akhirnya bisa Saya telanjangi dengan mata, wujud tiga dimensinya.

Entah bagaimana kronologi detailnya, atau mungkin karena Saya lupa. Dua hari berselang setelah kali pertama Saya melihat sosoknya di fashion show tersebut, kami janjian untuk bertemu. Di hari bertemunya kami, Saya tersihir kembali. Sosok itu kini menjelma menjadi Young American Swagger. Mirip tanpa cela seperti kebanyakan pria-pria yang Saya lihat di social media tempat kami pertama berkenalan. Topi hip-hop yang merupakan modifikasi modern dari topi casual yang kita pakai waktu duduk di Sekolah Dasar, T-shirt tanpa lengan berwarna putih yang ia bungkus dalam varsity jacket berwarna biru. Saya tersenyum, dan membatin pasti akan tercipta obrolan asyik dengan-nya, terlebih pasti asyik ketika bertukar pikir tentang wacana fashion.

"Kemarin seru, yah, Fashion Show-nya?" Saya mencoba membuka obrolan.

"Seru banget. Bisa jadi trendsetter buat fashion 2013, tuh" Pria itu menimpali. "Apalagi bisa ketemu desainer-desainernya"

"Iya, Saya suka sama show terakhir. Cutting-nya rapi dan pas banget. Agak Quirky memang, tapi mungkin itu yang bikin karya-karya si desainer berbeda. Hehe."

"Oh, yah?" Dia balik bertanya. Mungkin Saya tidak puas dengan reaksinya, Saya hanya mampu mengerutkan dahi dan alis. Baiklah, mungkin Saya yang salah menciptakan sebuah obrolan.

"Kalau soal hoolahop-bag nya Chanel?. Sumpah, itu diluar ekspektasi banget. Karl Lagerfeld emang jenius dan enggak main-main buat ngebikin suatu karya," Dengan susah payah, Saya akhirnya mencetuskan sebuah obrolan yang lebih umum. Iya, sebuah obrolan umum yang sudah kerap sekali dibahas di majalah-majalah fashion kala itu.

"Oh, yah?" Jawabnya pendek. Entahlah, apakah itu sebuah jawaban, ataukah balik bertanya. Saat itu dia tak memandang wajah Saya, kedua matanya hanya menelanjangi smartphone di genggamannya.

"Eh, ZARA lagi diskon gede-gede'an, lho. Gila banget, nih. Sumpah, apalagi Guess juga bikin diskon gede-gede'an. Bisa shopping gila-gila'an nih.." Beberapa detik kemudian, tanpa di duga Pria didepan Saya itu meletup seketika dalam keheningan yang tercipta sebelumnya. Saya terlonjak dalam hati.

Dan kali ini, mungkin benar-benar giliran Saya yang mengatakan ucapan tersebut...

"Oh, yah?" Ujar Saya setelah itu. Demikian, kata terakhir yang Saya ucapkan di pertemuan kami kala itu. Dengan perasaan sumringah juga, Saya mempersilahkan Pria tersebut ketika Dia berpamitan untuk segera memborong di butik yang sedang mengadakan Sale gila-gila'an tersebut.

Sekitar dua jam kemudian, Saya masih terduduk di tempat Saya semula bertemu Pria itu. Dari kejauhan, Saya melihat dua sosok Pria Stylish sedang menggotong beberapa shopping bag dari label asal Spanyol dan Amerika yang membuka butik di mall itu. Entah apa saja isinya, yang bisa Saya lihat kedua Pria itu sama-sama Stylist. Sama-sama putih. Sama-sama proyeksi sempurna dari aktor-aktor Hollywod bertubuh "Oh, La..La..". Si Pria kedua bersama seorang kerabatnya.

---

Masih berbicara tentang si Pria kedua. Kala itu Saya dan seorang sahabat sedang pergi menonton. Sembari menunggu film diputar, kami berdua berjalan menuju salah satu departement store di mall tersebut.

"Hei!" Tiba-tiba saja sahabat Saya tersebut menyapa seseorang. Saya segera menoleh ke seseorang yang disapanya. Si Pria kedua dengan setelan baju kerjanya. Kebetulan, karena circle pergaulan di dunia ini makin sempit, sahabat Saya tersebut juga kenal dengan si Pria kedua.

"Berdua aja?" Tanya balik si Pria kedua. "Mau ngapain?"

"Iya, ini mau nonton" Jawab sahabat Saya.

"Wah..nonton apa?. Star trek?" Si Pria kedua.

"Nonton Gatsby" Lagi-lagi sahabat Saya kembali menjawabnya. Saya memang sengaja mengunci mulut.

"Itu film tentang apa, sih?" Si Pria kedua kembali mencanangkan atas rasa ingin tahunya.

"Film tentang...." Sahabat saya didera skeptis seketika atas pertanyaan tersebut. Dia melirik ke Saya.

"Yah, film tentang gitu, deh. Hehe." Dengan terpaksa Saya menjebol gembok yang telah Saya kunci di mulut sendiri.

Sepulang dari nonton. Saya masih dalam keadaan Euphoria atas film tersebut. Keisengan Saya mencuat yang pada akhirnya membuat Saya kembali pada kebiasaan. Mengapresiasi apapun yang habis Saya lihat. Apresiasi Saya jatuh pada Carey Mulligan yang mengambil peran menjadi peran utama di film tersebut. Saya kurang puas dengan perannya sebagai Daisy Buchanan.

Bias tipis antara perasaan apresiasi dan terkekeh lantaran si Pria Perfect kedua. Saya menguploadnya di social media bersamaan dengan cover sebuah majalah fashion yang memperlihatkan sosok Carrey Mulligan berdandan ala Daisy untuk ajang publikasi film tersebut. Si Pria kedua juga berada dalam list teman Saya. Rasa ingin tahunya akan film ini mungkin sudah terbayar. Zaman sekarang, bukankah mencari apapun lebih mudah melalui Internet.

Dan kemudian, Si Pria kedua itu ditembak mati serupa Jay Gatsby di akhir cerita. Setidaknya, dia ditembak mati dengan terpaksa dari pikiran Saya...

***

Si Pria ketiga. Ini cerita Sahabat Saya, dia sedang terlibat pergulatan batin dengan sahabat (lama)-nya. Singkat cerita-nya, sahabat dari sahabat Saya tersebut baru saja terbebas dari kungkungan masa lalu yang menurut dia menyebalkan dan menghambat hidupnya?. Setelah terbebas, lalu mampu meng-aktualisasikan diri sendiri hingga pada akhirnya mendapat pengakuan positif yang bertubi-tubi dari sosial, sahabat dari sahabat Saya tersebut mirip sekali dengan balita yang baru pertama kali dilepas orangtuanya lantaran sudah piawai berjalan. Balas dendam-nya akan masa lalu satu persatu dia lancarkan dan untungnya berhasil, tanpa Saya pernah tahu bagaiaman cara dia melancarkan serangannya tersebut.

Keterlalu bebasannya akan keberhasilan meraih apa yang tak bisa ia raih di masa lalu, jatuh pada satu titik dimana tingkah dan obrolannya kepada sahabat Saya sedikit berbeda dari yang dulu. Sahabat Saya yang memang orangnya sedikit iseng, menerima perlakuan sedikit berbedanya tersebut dengan lapang dada. Malahan sahabat Saya tersebut kerap membuat obrolan tentang seks dan pergumulan dengan sahabatnya itu setelah kejadian itu. Hingga waktu berjalan, sahabat dari sahabat Saya tersebut sampai mengalami pergumulam seks dengan sahabat Saya di mimpi. Bias sekali, antara nafsu dan perasaan sayang.

Dibalik T-Shirt tanpa lengan berwarna maroon yang menyembulkan otot-otot di lengannya, si Pria ketiga ini masih sibuk dengan kegiatan-kegiatan aktualisasi untuk dirinya sendiri yang kerap ia bagikan ke social media. Sahabat Saya ini untung kepribadiannya santai, meskipun masih di dera pergumulatam batin antara hanya nafsu ataukah benar-benar sayang, dia masih setia mendengar setiap keluh kesah sahabatnya tersebut.

"Saya enggak pernah habis pikir deh, sama sahabat Saya itu" Ujar sahabat Saya saat kami bertemu dan mengobrol tentang sahabatnya itu.

"Lah, kenapa?. Dia khan Mr. perfect. Haha" Saya terkekeh.

"Enggak habis pikir, aja. Dulu pas masih belum sekeren sekarang, suka ngedumel soal hubungannya dia yang sering banget dikecewain," Beber sahabat Saya. "Nah, sekarang, udah suka ganti-ganti pasangan seks yang kebanyakan dengan sesama Mr. perfect juga, dia masih aja ngedumel. Katanya capek lama-lama ngeseks mulu."

"Lhoh, dengan bentukannya yang udah perfect sekarang. Dia masih suka dikecewain toh?" Saya balik bertanya.

"Ya, enggak bisa dibilang gitu juga. Menurut Saya dan menurut cerita dari dia justru malah banyak yang dateng buat berusaha deket sama dia," Sambung sahabat Saya itu lagi.

"Terus kenapa dia masih aja ngedumel?. Kok udah perfect masih aja aneh gitu, toh?" Saya.

"Masalahnya itu. Dari banyakanya orang yang dateng buat berusaha deket sama dia, kebanyakan cuman minta seks. Ada sih, sebagian yang ngasih cinta. Tapi dia enggak mau. Katanya kurang perfect. Haha," Tawa sahabat Saya tersebut meledak. Saya menyambung tawanya kemudian. Di pertemuan Saya dengan Sahabat Saya itu, Saya memasukkan sahabat-nya dalam list si Pria ketiga.

Dada bubye, Pria Ketiga.

***

Saya sudah malas mengumpulkan berjuta-juta. Toh, bukankah dari ketiganya sudah mampu menyimpulkan berjuta-juta Pria dengan T-Shirt berwarna yang menyembulkan otot lengan mereka? (Silahkan cek dan berhitunglah, pasti kesepuluh jari kita masih kurang untuk menghitung pria-pria ini). Atau bisa juga karena rasa malas Saya untuk mengumpulkan berjuta-juta, justru sebenarnya masih ada pria yang tak terjamah dengan patriarki dan hegemoni diluar tiga orang tersebut?. Entahlah, bisa jadi mungkin ada.

Saya dan sahabat Saya sengaja menamai mereka Mr. Perfect. Bayangkan, massa komersial pasti mampu melihatnya sebagai tatanan yang sempurna. Dan Saya juga mengamini hal tersebut, karena memang yang mereka lakukan tidak salah. Ditilik dari segu Budaya, mungkin zaman sekarang memang lagi heboh-hebohnya budaya kebarat-kebarat'an. Dan Saya juga melihat hal ini bukan hal yang sepenuhnya salah, karena Saya sendiri juga memuja budaya barat. Dengan senantiasa berjelaga di modernitas, dan seiring semakin berkurangnya keekslusifan di dunia ini (yah, bisa jadi ini juga efek dari budaya kebarat-baratan tersebut) para Pria semakin berlomba-lomba untuk mendapatkan perawakan bak artis-artis barat. Didukung dengan hierarki bahwa status Pria lebih tinggi daripada wanita, maka semakin riuh pula pertandingan ini. Tapi, karena semakin berkurangnya keesklusifan yang didukung dengan semakin naik menjamurnya pusat-pusat kebugaran dengan harga terjangkau, mungkin sirkulasinya menjadi tidak terkondisikan. Pria-pria itu bagai militan dengan seragam yang sama tanpa beda dan cela, menghambut maju untuk mendapatkan apa yang mereka cari. Dan lagi-lagi itu memang tidak salah.

Sampai tulisan ini Saya tulis, masih ada satu pertanyaan mengganjal di benak Saya. Apa sih kira-kira yang mereka inginkan?, bukankah mereka sudah perfect?. Yah, dibalik pertanyaan itu, sebenarnya Saya kurang setuju dengan konseptual perfect pada manusia. Apa pertanyaan itu muncul lantaran saya terlalu kritis dan terlalu meng-apresiasi segala hal?. Atau, pertanyaan itu muncul karena mungkin Saya pernah ditolak salah satu Pria tersebut?. Atau mungkin, sebenarnya pertanyaan itu misteri yang bukan teka teki, sehingga tak perlu dicari jawabannya?. Entahlah, segala kemungkinan bisa terjadi. Yang terpenting, Saya sudah terlalu capek jika harus menemui berjuta-juta Pria itu lagi.

*Tulisan ini bukan sebagai ajang Saya men-Judge secara sembarangan akan suatu hal. Hanya sekedar menyalurkan hobi baru Saya untuk mencoba sedikit bersikap kritis akan suatu hal, namun sambil tetap berada dalam lingkup kehidupan (hal) tersebut dan menikmatinya.

Senin, 29 Oktober 2012

Playful Quirky

So, last friday my friends Danastri invited me to help of her mid-test work for Photography-Major. And we decided to goes to Gembira Loka Zoo. Its fun to be there, and Gembira Loka looks so fancy and interesting after the renovation like this day.

Not just for helps her mid-test work, i made this little photo-shoot for my lookbook, too hehehe. And yes, i'm addicted of the quirky style and life-style like my outfit :DD.



the another bunch of the picture :D,











Selasa, 23 Oktober 2012

Notes from Eid Mubarak #2

Puasa terakhir bersama sahabat ter-awet
Hari kedua kepulangan saya ke Surabaya menjelang lebaran (yang juga merupakan hari terakhir puasa di tahun ini) lebih banyak saya habiskan di luar rumah. Ya, alasan lain ketika pulang ke Surabaya selain rindu rumah adalah saya juga merindukan atmosfir nyata dari kota yang sudah sejak kecil saya tempati ini. Kehadiran seorang sahabat, juga mengisi celah rindu saya akan kota ini. Salah satu sahabat yang selalu tak pernah absen untuk bertemu saat saya pulang tentu saja Bismaputra Jayasujana, dia bisa dikatakan sahabat terlama dan ter-awet yang saya miliki hingga kini masih berpijak. Bukan tanpa masalah, bukan tanpa konflik ataupun drama, saya percaya kata-kata terlama dan ter-awet selalu menghadirkan ketiganya hingga akhirnya terlama dan ter-awet muncul ke permukaan antara kami berdua :).

Karena cukup jarang dan sudah lamanya kami berdua-benar-benar hanya berdua berjalan bersisihan untuk menikmati kota Surabaya, agenda hari itu saya (kami) isi dengan hanya pergi berdua (yes, kita teramat sangat merindukan bisa keluar berdua dan mengobrol tentang apapun, atau mungkin sedikit ber-nostalgia seperti dulu, saat sebelum saya hijrah untuk  kuliah ke Yogyakarta). Tujuan kami tak muluk-muluk, masih di seputaran tengah kota pada sebuah pusat perbelanjaan yang bisa dibilang masih seumur jagung di kota ini, Grand City. Agenda lain yang saya rencanakan juga cukup berhasil di hari itu, sengaja tidak puasa di hari terakhir bulan ramadhan ini hehe. Sebenarnya cukup sayang, hampir sebulan ini perut dan diri sendiri cukup mampu menahan nafsu yang diwajibkan kepada tiap umat muslim di bulan Ramadhan ini.

Calais Grand City Surabaya
Singkat cerita, kami mendaratkan pijakan pertama kaki kami disebuah kedai minuman dengan interior yang cukup klasik, bernama Calais. Dengan icon Moustache yang bisa dibilang menjadi "the it icon/sign" beberapa musim belakangan, saya dengan pasrah melepas dosa saya untuk kembali meluap di hari terakhir itu XD. Segelas taro milk tea sudah ditangan dan siap diteguk oleh dosa saya haha, minuman atau makanan dari ubi ungu itu belakangan menjadi favorit saya belakangan ini. 

Di kedai ini, sebenarnya juga menyediakan atribut "kumis" dan topi ala Charlie Chaplin untuk customernya yang ingin mengabadikan kunjungannya di kedai itu. Namun, karena kami berdua tipikal orang yang moody dan tidak seberapa suka mengabadikan kunjungan yang sekedar hanya jalan-jalan seperti ini (moody juga berpengaruh disini), maka kami menggantinya dengan saling mengedar kalimat antara kami berdua yang mungkin bisa dibilang tujuan utama kami berdua untuk mengisi Quality Time itu :). 

Taro Milk Tea
Moustache and Hat "Calais"
Pemberhentian kedua, kami mendaratkan diri di sebuah kedai makanan (masih di dalam mall yang sama). Setelah sebelumnya mengisi dahaga untuk si kerongkongan, kali ini kami memilih untuk memberi asupan untuk si perut. Saya lupa apa nama tempatnya >.<, di meja itu kami menikmati makanan dan masih dengan tambahan bertukar cerita. Mungkin saya terbilang manusia klasik, meskipun teknologi menghadirkan begitu banyak kemudahan komunikasi jarak jauh, saya lebih menikmati mengobrol langsung secara empat mata. Karena menurut saya teknologi itu terbatas, twitter hanya menyediakan 140 karakter dan berbagai kesalah pahamannya(?) :D. Instant messenger?, tak lebih dari sarana hiburan mungkin, karena bukankah mengobrol juga butuh atmosfir nyata?. Atmosfir nyata yang mungkin bisa menyatukan antara obrolan joke dan obrolan santai :D.  

Sebelum akhirnya petang menjelang, kami berdua kembali singgah di sebuah kedai kopi untuk menghabiskan sore hari, lagi-lagi masih di mall yang sama. Masih saja bertukar kata sambil menghabiskan dua kotak rokok masing-masing dari kami yang kesadarannya telah dibunuh karena obrolan kami berdua :). It's a simple way, tapi darisana mungkin saya (kami) masih bisa merasakan esensi dari persahabatan kurang lebih tujuh tahun yang telah terjalin. Hingga hari itu, pemberhentian terkahir kami menepi di sebuah stasiun radio. Menemani si sahabat dengan pekerjaan-nya sembari masih sibuk dengan kuliahnya. Mungkin sebelas dua belas dengan menghabiskan hari dengan pacar, tapi toh sahabat itu juga butuh hati dan cinta. Selain butuh diri sendiri, sahabat sejatinya mampu mengisi celah (yang masih kosong) di departemen pacar atau kekasih di negara hati dan cinta :)). 

Jam sepuluh malam, rumah sudah kembali saya gumuli. Gaung takbir penanda berakhirnya Ramadhan menyeruak bergerombol di telinga. Puasa telah habis masa, Idul Fitri mengganti masa. Saat petang menuju dini hari, saudara-saudara mulai berdatangan dari luar kota. Idul Fitri seperti sudah mulai menyatukan kembali apa yang sempat terpisah dengan jarak selama setahun kemarin :). 

Rabu, 29 Agustus 2012

Notes from Eid Mubarak #1

Lebaran itu, bagi sebagian umat muslim di seantero Indonesia identik sekali dengan pulang kampung, atau jika lebih dipersempit diksinya berubah menjadi mudik. Ada juga yang memilih lebaran sebagai saat yang tepat untuk berkumpul kembali bersama seluruh keluarga, saudara, sahabat, dan teman. Namun, bagi Saya sendiri, lebaran itu berisi keduanya tanpa terlepas dari kegiatan dan esensi harfiahnya yaitu saling memaafkan lahir dan batin satu sama lain sesama manusia. 

Bagi Saya (lagi), lebaran selalu punya cerita menarik tersendiri buat Saya tiap tahunnya. Berbekal memori otak yang memang diciptakan tanpa batas ini, Saya ingin menuliskan catatan-catatan kecil di lebaran tahun 2012 ini yang begitu lebih bersemarak seperti lebaran-lebaran tahun yang lalu. Lebaran ala anak kos, lebaran ala anak perantauan, lebaran mahasiswa yang lagi pulang kampung, atau entah apapun judulnya, happy reading and Happy Eid Mubarak Peoples, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir & Bathin :).

Insiden Kereta Api Mogok
Finally, tepat di tanggal merah dimana negara ini sedang memperingati hari kemerdekaanya, Saya baru bisa benar-benar hengkang sejenak menjejakkan kaki dari ranah kota perantauan Yogyakarta ini. Tidak lain dan tidak bukan, kerja part-timelah yang memaksa Saya untuk singgah merasakan bulan Ramadhan di Yogyakarta, padahal liburan kuliah sudah datang sedari pertengahn bulan Juni lalu. Yah, mau tidak mau, namanya sudah resiko dari menerima dan (masih) menjalani pekerjaan paruh waktu itu, Saya benar-benar baru bisa pulang di detik-detik menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.

Berbekal dengan banyaknya pilihan-pilihan transportasi yang ada di kepala, pada akhirnya Saya lebih memilih untuk naik kereta api sebagai kendaraan yang membawa Saya menuju kampung, Surabaya. Dengan alasan, jikalau Saya memilih naik bis seperti biasanya, kemungkinan bakal saling berebut tempat duduk dengan penumpang lain yang membludak karena hari raya, dan belum berhenti disitu saja, Saya teringat satu hal klise yang berada di jalanan ketika menjelang hari raya seperti ini, macet dimana-mana dan waktu kedatangan bis dijamin lebih lama dari waktu biasanya. Memang benar, sebenarnya dengan memilih untuk naik pesawat terbang adalah pilihan yang paling cepat dan tepat. Cepat sampai tujuan, pilihan yang tepat anti-macet dan kenyamanan. Namun, dibalik alasan karena dompet Saya enggak sampai buat beli tiket pesawat terbang,  Saya sendiri mungkin bisa dibilang orang yang sangat menikmati sekali perjalanan. Enggak papa deh, lama di perjalanan, asalkan masih bisa ditolerir sedikit masalah kenyamanan dan waktu sampai ketujuannya, tapi yang lebih penting bisa menikmati perjalanan. Dari banyaknya pertimbangan dan alasan-alasan itu, pikiran Saya mengerucut untuk memilih kereta api untuk pulang ke Surabaya.


Tepat 30 menit sebelum kereta api melaju, dengan diantarkan salah seorang teman, Saya sudah sempurna duduk di kursi tempat duduk penumpang di gerbong nomor tiga kereta api yang akan membawa Saya ke Surabaya, PT. Kereta Api Indonesia menamainya Sancaka. 



Singkat cerita, Saya banyak tertidur di awal perjalan hingga tengah perjalanan saat kereta mulai menyentuh kota Madiun, maklum sebelum berangkat ke stasiun, pagi harinya Saya masih harus berurusan dengan kerja part-time Saya selama lima jam hehe. Berhenti di kota yang dulu pernah Saya singgahi saat kecil, diikuti dengan bedug Adzan maghrib tanda waktu berbuka puasa. Mungkin karena si perut sudah meraung-meraung minta makan sedari tadi, Saya segera menyambar sebotol kecil tupperware di postman bag yang tergantung di badan Saya, meneguk air di dalamnya dan segera menyambungnya dengan dua bungkus makanan ringan yang memang sengaja Saya siapkan untuk berbuka puasa di kereta. 

Lima belas menit berhenti di Madiun, bel sebagai penanda keberangkatan kereta api diraungkan. Kursi Saya bergetar dan kereta kembali meluncur ke arah timur melanjutkan lajunya. Di detik ini, Saya mulai sedikit  merasakan terlalu banyak asupan tidur yang Saya terima. Kedua mata benar-benar melek penuh daya. Saya kembali merogoh postman-bag yang masih tergantung di badan, dan meraih sebuah benda yang ternyata insting Saya tak salah untuk membawanya di perjalanan kali ini. Sebuah buku karya Dewi Lestari yang belum sepenuhnya selesai Saya baca, Partikel. Baiklah, mungkin kali ini Saya lebih asyik menikmati bacaan daripada menikmati perjalanan yang berlangsung. Tapi, kalau boleh jujur menikmati bacaan ketika perjalanan  bisa dibilang seasyik menikmati perjalanan itu sendiri.

Tepat pukul sembilan malam, sesuai dengan penujuk waktu tibanya kereta api di tempat tujuan yang tercetak di tiket penumpang. Seharusnya, tiga puluh menit ke depan kereta benar-benar sudah sampai di kota tujuan, Surabaya. Namun, tanpa pernah Saya kira atau mungkin penumpang lain kira, tepat di pukul itu kereta api tiba-tiba diberhentikan di sebuah stasiun kecil di daerah yang sebenarnya sudah tidak seberapa jauh lagi dari stasiun kota Surabaya. Pikiran Saya waktu itu mengira, kemungkinan kereta sengaja diberhentikan karena menunggu kereta dari arah yang berlawanan melaju terlebih dahulu, dan biasanya tak memakan waktu lebih dari lima belas menit. Di detik lebih dari lima belas menit, para penumpang yang lain mulai ngedumel karena kereta tak segera dijalankan, mereka segera berhambur menuju gerbong depan tempat dimana lokomotif berada. Satu dua orang mulai kembali ke gerbong asal tak seberapa lama kemudian, mimik wajah mereka masam. Ada yang segera meraih travel bag dan segera memutuskan untuk turun di stasiun itu, dan ada pula yang kembali ke tempat duduknya dengan masih ngedumel ke kerabat di sebelahnya dengan berseru "Kereta api-nya mogok, sekarang lagi nunggu lokomotif dari Surabaya. Perkiraan jam sepuluh kurang seperempat kereta baru bisa jalan lagi". Kereta api mogok?, okay, awalnya kata kereta api mogok Saya kira hanya berada dalam kamus bercanda. Tapi, here it is, Saya benar-benar menemuinya sekarang >.<.

Kontan saja, salah seorang sahabat yang sudah berbaik hati untuk menjemput Saya juga ikutan dongkol. Dia sudah sampai di stasiun gubeng Surabaya jam sembilan tepat. Mengumpat kereta api, walau sebenarnya dia sangat-sangat menggilai dunia kereta api. Karena memang tak bisa berbuat apa-apa, mau nekat ikutan turun di stasiun ini juga dibilang terlalu nekat. Hanya bisa melayangkan kata-kata klise "sabar bentar yah" ke sahabat Saya itu (walau sebenarnya Saya sendiri udah enggak sabar menunggu terlalu lama), dan beruntunglah Saya membawa bacaan untuk meredam kebosanan selama tiga puluh menit karena kereta api mogok itu. And yeah, massive thank you for Dewi Lestari and Rahne Putri yang telah menciptakan karya yang begitu bisa meredam kebosanan seperti Partikel dan Sadgenic ini.


Mungkin karena takut tertimpa kesialan lagi, kereta api bisa menepati janjinya. Tepat sesuai dengan janjinya untuk melanjutkan perjalanan di pukul sepuluh kurang seperempat, lokomotif benar-benar menarik gerbong dengan kecepatan ekstra kencang (dari biasanya) menuju Surabaya. Hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Saya sudah bisa melihat hijaunya kubah masjid agung Surabaya dari dalam kereta api, serta disusul lima menit kemudian kereta benar-benar berhenti di ranah rel stasiun gubeng Surabaya. Tanpa menunggu lama dan karena sudah terserang wabah bosan yang terlalu meradang, Saya segera meraih satu travel bag yang saya selipkan di tempat menaruh barang persis di atas tempat duduk penumpang, menyisir lorong gerbong kereta api sancaka, dan menginjakkan kaki saya kembali di tanah kampung Saya, begitu pintu gerbong sudah Saya lalui. Huwahhhhh....i miss Surabaya sooo muchhh!!!.

Cerita lebaran tahun ini Saya mulai pada hari itu. Sempurna menginjakkan kaki di rumah pada pukul setengah satu dini hari. Setelah sempat menghabiskan beberapa jam dahulu bersama Aditya Aryo, salah seorang sahabat yang telah rela mau menjemput Saya di stasiun, walau sebenarnya letak rumahnya di ujung Surabaya. Dan sebagai simbolisasi ucapan terima kasih, kami berdua menghabiskan beberapa jam disebuah warung soto, temu kangen singkat sebelum temu kangen yang sebenarnya. Hingga akhirnya, sama seperti tiap kali ketika Saya pulang ke rumah, tak akan pernah bisa langsung pergi tidur hingga matahari muncul di kota Saya, kota Surabaya.


Minggu, 15 Juli 2012

Little Indian

So, in the middle of February i found some interesting accessories. Some unique Traditional-things (from Indian) that i'm puttin' on, with another Traditional-things from Indonesia. Dream Catcher with my only-one Batik-Shirt i ever had (Hell, yeah! XD). Woohoo, but i like the chocolate browny colour on this all-total-look :D.



Exploring UK

Ahhh Lemme taking off my GaGa necklace. GaGa its not so BRITISH >.<
I made first-DIY things for my rubber-case of my vintage blackberry.