CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 13 November 2013

Dear Heart

My dear heart, seems like a year
Since you’ve been out of my sight

  Semisal hari itu adalah lima tahun yang lalu, Bastian adalah serupa dengan pagi yang masih terlalu muda untuk mengenal matahari yang menemani lebih unggul di terang hari. Ketermudaannya masih betapa merindukan kehangatan sebuah pelukan, jari jemari yang saling berdekap lekat, dan candaan manja yang beradu dengan keterdewasaan yang ia kenal bernama kasih. Lima tahun lalu, Bastian genap berusia diakhir kepala sepuluhnya, 19 tahun. Dan itu kali pertama dia bertemu lelaki itu. Si kambing gunung dengan tanduknya yang kokoh berkelamin jantan.
  Sekiranya hari itu adalah lima tahun sesudahnya, usianya kini sudah menginjak di urutan keempat dalam jajaran angka dua puluh. Dua puluh empat. Bastian masih laki-laki yang sama, namun ada beberapa sedikit keterubahan yang ia tekan dan pendam sendiri untuk hanya disimpan di relung hatinya. Menyimpannya mirip dengan sebuah koleksi lampau benda-benda klasik seperti yang ia suka. Hari itu juga, dia sengaja memberanikan dirinya untuk sedikit menengok kembali apa yang ia simpan itu.
  Bastian memasuki sebuah ruangan dengan arsitektur kental berciri khas Belanda. Disana akan diadakan pertunjukan teater. Di dalam ruangannya ramai, lampu-lampu penerang berdecak riuh membentuk gugusan cahaya berwarna kuning pucat terang, kepala-kepala berambut berhamburan terduduk lesehan di lantai kayu berlapis karpet hijau yang di gelar diatasnya, dalam keramaian itu dia melihat lelaki yang untuk kali pertama ia temui lima tahun silam. Bastian hanya melihat, menahan dirinya untuk tidak melekatkan pandang yang terlalu pada sosok itu, lima tahun sudah membuatnya terbiasa dengan penahanan diri. Dia segera saja berhambur masuk mengikuti seorang teman yang berjalan di depannya. Bastian berjalan masuk, dan si kambing gunung jantan berjalan keluar. Dan pada satu titik, saat pandangannya tak ingin terlalu memandang, kini bibirnya yang mengenal terlalu itu. Dia menyapa lelaki itu. Sebuah nama terbang mengalir keluar kembali dari bibirnya setelah lima tahun hanya sesekali ia tiupkan. Suara yang masih sama saling tersembul keluar dari keduanya. Pandang keduanya masih sama, namun dalam gejolak yang berbeda yang mungkin serupa dengan rindu dan kaget. Awal pertemuan itu tak berlangsung lama, yang Bastian ingat hanya sebuah kecupan dan tatapan mata keduanya yang saling bertanding mengurai kembali apa yang terajut lima tahun lalu.
  Dan yang tak pernah Bastian mengira, awal pertemuan itu berlanjut hingga dini hari dengan dingin yang tak menusuk kulit dari kota Surabaya. Ia benar tak mengira, yang terbersit dalam pikir sebelumnya hanyalah menengok sebentar apa yang tersimpan di bilik hatinya. Sama seperti yang ia lakukan saat umur perkenalannya dengan si kambing gunung masih menginjak satu tahun, saat itu ia juga hanya menengoknya saja karena memang waktu itu pikirannya masih membentang tentang perkara kasih itu bukan sebuah susunan cerita yang rumit. Apa yang tak pernah ia kira sebelumnya, di hari itu perlahan terajut kembali walau segalanya sudah serba mengenal keterubahan. Keduanya saling mendekap kembali, diluar perkiraan Bastian sebelumnya.
  “Cara menyetirmu masih tetap sama, ya,” celetuk suara seorang pria beradu dengan suara angin menderu yang dilawan oleh kecepatan kendaraan yang ditumpangi Bastian dan pria itu.
  Bastian mengernyitkan dahinya, pencampuran antara dirinya sedang dibuat sedikit bingung oleh ucapan pria tersebut dengan decak tiba-tiba yang mulai bergerumul di dasar hatinya. “Dia masih ingat?” ucap Bastian dalam hati. “Aku malah sudah lupa, sejujurnya aku berusaha untuk tidak mengingat dimana lima tahun lalu kita juga pernah satu kendara,” tambahnya dalam hati lagi.
  “Tetap sama bagaimana?” Bastian melontarkan tanya kepada pria itu. Bentuk dari akumulasi kekagetan bilik hati dan bingung akan menimpali ucapan pria itu dengan apa.
  Tak ada jawaban.
  “Maksudku memang cara menyetirku seperti apa?” dia mencoba memperjelas pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya. Namun, hingga kendaraannya mulai berbelok arah dari jalan lurus yang panjang, pria itu tak kunjung menjelaskan maksud ucapannya. Bastian menarik nafasnya dalam, sembari masih menerka diantara bingung dan kaget. Sejujurnya, dia tak tau harus merasa gembira ataukah sedih ketika mengetahui pria itu masih ingat bagian kecil-yang mungkin bagi Bastian tak penting-di benak otaknya yang kini mulai sedikit demi sedikit termakan usia.
  “Sekarang sudah balik ke Surabaya?” bibir pria itu yang sedari tadi tak menjawab malah berbalik melontarkan pertanyaan dalam topik yang berbeda. Bastian berdeham. “Maksudku sudah permanen balik ke Surabaya?” tambah pria itu.
  “Belum bisa dibilang seperti itu,” Jawab Bastian mengambang. Konsentrasi menyetirnya sedikit terpecah. Hari itu malam minggu, ruas-ruas jalanan riuh oleh kepadatan. Menyetir sambil mengobrol tentu membutuhkan kesempatan sedikit dari jalanan padat yang mengalir bebas dari kemacetan yang tercipta.
  “Lalu?”
  “Ya..lalu…” Bastian menekan klakson kendaraannya dua kali. Mobil di depannya tak kunjung tancap gas padahal kendaraan di depan mobil tersebut sudah perlahan melesat maju menyisakan space jalan yang cukup lebar untuk mobil tersebut melaju ke depan. Sementara di belakang Bastian, bertubi-tubi riuh klakson kendaraan berteriak tanpa padam menyuarakan emosi tak sabarnya. Bastian mengikuti gerakan tersebut, karena memang mobil di depannya cenderung kebangetan. “Maunya gimana, sih, ini orang?” Bastian mulai menggerutu.
  Genap delapan kali klakson dari kendaraan Bastian berbunyi, mobil di depannya baru mulai melaju ke arah depan. Kontan saja kendaran-kendaraan di belakangnya segera berebut behamburan melaju ke depan secara tak sabar.
  “Macetttt…Surabaya sekarang malesin banget, ya..jalanannya. Apa bedanya sama Jakarta,” gerutu si pria tiba-tiba. Sedikit terbilang seperti menyindir memang. Di dalam benak Bastian, bilik terdalamnya kembali berbisik perlahan sembari dia masih menancapkan titik fokusnya pada kendaraannya. Pria itu masih gemar menyindir.
  Selepas jalanan mulai lancar dan keriuhan mulai padam, Bastian berbelok lagi sehabis jalan yang seharusnya pendek tercipta menjadi jalan panjang karena kemacetan tadi. Kendaraannya menuju ke sebuah kedai makan. Pria itu ingin menyesap makanan khas kota ini. Katanya ia rindu masakan Jawa Timur, disamping dia juga rindu dengan teman-temannya di kota ini-yang juga teman dari Bastian. Setelah dua kelokan Bastian jelajahi, dia berhenti dan memuntahkan diri dari kendaraannya.
  “Oh, ya..tadi sampai dimana ngobrolnya?” celetuk Bastian.
  Pria itu memberengut. Menampakan mimik wajahnya itu ke arah Bastian tanpa sepatah katapun.
  Menanggapi reaksi pria tersebut, sejujurnya memang membuat semangat Bastian untuk mengobrol dengannya menjadi padam. Berurusan dengan pria itu memang tak pernah tuntas. Terbilang sering menggantung. Tetapi, lebih dari lima tahun ini, sudah bukan hal asing baginya untuk memakluminya sebagai kebiasaan yang tak berubah dari si kambing gunung.
  Memasuki kedai, dari kejauahan di titik pintu masuk, keduanya melihat segerombol lelaki dan perempuan yang kesemuanya mereka kenali duduk pada sebuah meja kayu hitam persegi panjang. Gerombolan itu adalah kelompok besar-kalau saja memang tak ingin disebut kelompok kecil dari teman-teman si kambing gunung dan Bastian. Lingkaran perteman mereka di kota ini masih dalam satu sirkulasi memutar yang sama. Bastian merasa beruntung setidaknya, karena pertemuannya kembali dengan si kambing jantan tak membuat hanya mereka berdua duduk bersama dalam satu meja. Karena Bastian hanya ingin mengintip sebentar bilik hatinya, hanya sebentar, dan tak lebih.
  Seorang perempuan melambaikan tangan dari satu titik di meja persegi panjang hitam itu. Si Pria tersenyum simpul dan segera berhambur berjalan menuju ke arahnya. Bastian mengikutinya di belakang. Berjalan santai sembari menelisik sosok si kambing gunung dari belakang. Pria itu tak berubah fisiknya, meskipun usianya kian renta, hanya beberapa lemak di bagian-bagian tubuhnya tertentu menyembul di balik kaos warna merah yang ia kenakan. Dan Bastian hanya menghembuskan nafasnya seketika.
  Di meja panjang itu, riuh seketika menyergap. Ada celotehan-celotehan jenaka yang saling terbang dari mulut-mulut lelaki dan perempuan. Beradu dengan asap-asap rokok hasil sesapan batang-batang tembakau yang juga datang dari mulut-mulut lelaki dan perempuan yang sama. Gemericik tawa cekikikan sering juga mengisi diantara keduanya. Bastian maupun si kambang gunung melebur diantara kesemuanya. Namun ada salah satu sisi terdalam yang serasa ingin mengasingkan diri. Di bilik itu, mungkin ada sebuah rindu yang kembali berdentang karena telah dicoba-coba untuk disentuh. Mereka terbang, bergerilya membentuk gugusan keinginan lampau yang entah sebenarnya tak ditahu bisa meraihnya atau tidak. Mereka meluap, dan dibalik senyum, kata-kata, dan cekik tawa Bastian dia menatapi lama menelanjangi si kambing gunung. Bagaimana tidak, dia adalah sosok yang datang sebelum Bastian bertemu dengan Centaurus, manusia berbadan kuda yang ia temui empat tahun lalu. Mereka, Bastian dan Centaurus, saling mencinta. Dia sempat melupakan si kambing gunung karena memang ia ingin melepaskan diri dari segala yang tidak pernah tuntas. Tapi perihal kasih, perihal yang katanya cinta memang tidak akan pernah tuntas ataupun musnah. Bastian menganggapnya tuntas, tapi tahun-tahun belakangan ia tersadar jika cinta tertelan hidup-hidup di alam bawah sadarnya.
  “Hei...Hallooo!!” sembur si kambing gunung ke arah Bastian. “Ngelamun aja, nih lacur satu ini. Haha,” sambung candanya.
  “Oh…hei,” kesadaran Bastian kembali ke tubuhnya. “Kok lacur, sih?. Haha.”
  “Haha..udah ikut dia ke Jakarta aja, sih. Hidup sama dia. Pekerjaan di sana lebih banyak, lho,” salah satu perempuan yang duduk di dekat Bastian dan si kambing gunung ikut menyambung obrolan.
  “Haha. Enggak kuat bayar tarifnya dia aku. Pasti mahal,” si kambing gunung kembali cekikan. Tetiba dia mendekatkan tubuhnya ke arah Bastian, menyodorkan tangan kanannya hingga menyentuh pundak kanan Bastian. Lalu menarik tubuh Bastian ke arah tubuhnya, hingga bersentuhan dengan lengan dan dada pria tersebut.
  Mata Bastian membelalak. Namun hanya sebentar, karena ia tak ingin teman-temannya dan si kambing gunung tau kalau dia terperosok dalam kaget.
  “Balik, yuk!” si kambing gunung kembali berkata, masih mendekap Bastian dengan tangan kanannya. “Aku baliknya sama kamu lagi, ya?” dia menggoyang-goyangkan tubuh Bastian, tapi ia tak menjawabnya.
  Baginya, bagi Bastian ini mungkin sedikit terbilang konyol. Dia ingin segera tersadar karena ini memang bukan mimpi. Kalaupun memang mimpi, dia tak ingin mimpinya digerayangi oleh pria itu. Setidaknya itu yang diinginkan akal budinya dan rasionalitasnya. Bukan apa yang terselip di dalam bilik hati dan alam awah sadarnya. “Iya,” jawab Bastian pendek. Tak kuasa menolak.
***
  “Kamu sekarang pacarnya siapa?” dini hari ruas-ruas jalanan kota sudah cukup lengang. Pria itu kembali memecah keheningan perjalanannya dengan Bastian. “Masih jalan sama si Sagitarius?”
  Bastian menggeleng. Jalanan sudah sepi, konsentrasinya tak perlu terlalu ia bagi antara fokus menyetir dengan mengobrol. “Sudah enggak sejak dua tahun lalu.”
  “Lalu?”
  Bastian kembali menggeleng.
  “Enggak jalan sama siapa-siapa, tapi ngelacur jalan terus?. Haha” sindir si kambing jantan.
  “Haha..” timpal Bastian dengan tawa. “Daritadi nyindiri lacur melacur terus, sih,” sergahnya.
  “You’re grown up, now. Aku beruntung bisa ketemu kamu lagi di Surabaya.”
  “Maksudnya?. Apa hubungannya lacur sama tumbuh?”
  “Memang tak ada hubungannya, Sayang. But, I just feels so lucky today.”
  Batin Bastian kembali terpengarah. Panggilan itu tersembul kembali sejak terakhir, lima tahun lalu ia dengar dari bibir pria itu. “Aku juga merasa beruntung sebenarnya,” ucapanya. Namun, hanya dalam hati. Tak ingin ia ucapakn begitu saja.
  “Cinta itu eksistensialis*, Sayang. You’re grown up now, and I think you already know it,” tambahnya lagi.
  Sebuah tanda tanya besar kembali menghunjam di benak Bastian. “Darimana kamu tau aku tahu itu?”
  “Tak perlu tahu darimana-mana. Waktu selalu punya banyak cara untuk membuat kita tahu akan sesuatu,” ucap si kambing gunung datar. “Nanti, aku turun di luar aja, yah.”
  “Enggak masuk sekalian aja?” timpal Bastian.
  “Tak usah. Kemarin aku diantar pulang seseorang juga cuma di depan, kok,” terang si kambing gunung pendek.
  “Oh…” Bastian.
  Kendaraan Bastian menerobos jalanan menembus angin dini hari kota Surabaya yang tak seberapa dingin. Jalanan tak seriuh malam tadi, lengang sudah menggerayangi kota ini. Menerobos masuk di sisi terdalam bilik hatinya, tak ia jumpai keriuhan lengang yang menggema disana. Di dalamnya memang terasa riuh, tapi justru hangat ia rasakan di bilik kecil yang bisa menampung jutaan partikel yang mampu menyergap ke dalamnya. Hangat yang tak pernah ia mengira sebelumnya. Sebelumnya, yang hanya ingin ia menengoknya sebentar. Sebentar saja. Hingga, sepanjang perjalanan kembali dari kedai, salah satu tangan Bastian tak pernah terlepas dari genggaman erat pria itu, si kambing jantan.
  “Benar, mau turun di depan saja?. Tak perlu masuk kedalam?” kendaraannya sudah berhenti di sebuah bangunan tempat pria itu tinggal menginap.
   “Yeah, no problem,” pria itu bergegas menata tasnya. Meraih sesuatu yang sedari tadi ia genggam erat, dan mengecupnya perlahan dengan hangat. “Terima kasih, Sayang,” si kambing gunung tersenyum simpul. “Hati-hati,” Bastian beku tanpa kata-kata.
  “Hati-hati juga besok pulang ke Jakarta,” tatap Bastian kosong. Si kambing gunung tersenyum simpul kembali dengan hangat, lalu segera bergegas menuju ke dalam.
  Bastian menatap pria itu hingga wujud bayangnya hilang. Dan segera saja bergegas menarik gas kendaraanya melaju. Angin dini hari dengan segera menyapu wajahnya, walau dingin tak seberapa menusuki kulit di julur-julur tubuhnya. Bilik hatinya masih saja bergejolak, barangkali apa yang ia simpan selama lima tahun ini ingin dimuntahkan keluar. Dia ingin terbang bebas, dia tak ingin terbelenggu lagi di dalam bilik sempit itu, bergerumul dengan kawan-kawannya yang lain yang kian lama semakin banyak terjejal masuk di dalam bilik itu. Namun, sepertinya itu semua mustahil. Kasih, cinta mungkin terbilang memang eksistensialis. Kebebasan hidup di sisi terdalam bilik hati, mungkin saja sudah menjadi bagian kebebasannya. Dan…selama lima tahun dan setelahnya, Bastian hanya membiarkannya terdiam disana. Hanya bergeming.

And dear heart, I want you to know
I’ll leave your arms never more


*) eksistensialisme : aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar.
      

     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar